Bilik Kata

Berbagi lewat bahasa, sastra, dan budaya


Tinggalkan komentar

Pernak-pernik Tes Daring Kelas 7 dan 8 di SMPN 1 Yogyakarta

Mulai Senin, 8 Juni 2020 siswa kelas 7 dan 8 SMPN 1 Yogyakarta melaksanakan tes daring. Tes daring ini sebagai pengganti penilaian akhir tahun (PAT) yang biasanya dilaksanakan di sekolah. Bagi kelas 7 dan 8, ini merupakan pengalaman pertama mereka mengikuti tes daring secara massal dari rumah. Berbeda dengan kakak kelas mereka yang baru saja lulus. Kakak kelas mereka sudah terbiasa melakukan tes menggunakan komputer meskipun tetap dari sekolah sehingga istilah link, token, atau jari jemari yang menekan tombol keyboard tidak lagi menjadi hal asing. Siswa kelas 7 dan 8 bukannya tidak pernah sama sekali mengikuti tes dengan komputer. Mereka pun pernah dikenalkan ulangan dengan komputer oleh beberapa guru. Meskipun demikian, untuk tes daring dari rumah mereka belum pernah sama sekali. Alhasil, ada kejadian-kejadian lucu yang melengkapi pernak pernik tes daring dari rumah.

Hal yang cukup banyak terjadi selama berlangsungnya tes daring adalah bangun kesiangan. Sebenarnya wali kelas pada malam harinya melalui grup WA anak dan orang tua sudah mengingatkan mereka agar tidak terlambat bangun, namun ada satu dua tiga, bahkan lebih, anak-anak yang pada saat menjelang link diberikan belum juga bangun. Dengan sabar wali kelas menelpon orang tuanya meminta untuk membangunkan anaknya. Logikanya, orang tua sudah menyiapkan anaknya untuk tes daring, namun barangkali orang tuanya sibuk sehingga lupa membangunkan anaknya.

Beberapa orang tua menceritakan bahwa anaknya agak panik dalam mengerjakan soal-soal daring. Mereka berpikir bahwa waktu akan cepat habis, maka mereka mengerjakan dengan agak tegang. Hal ini dapat dimaklumi karena anak-anak hanya sendirian di rumah, sementara mereka melihat waktu bergulir terus, hal ini membuat mereka panik. Berbeda bila mereka mengerjakan bersama-sama temannya di sekolah, ditunggui bapak atau ibu guru, mereka tenang. Kepanikan ini bertambah bila mereka mengalami gangguan jaringan internet, kadang sinyal terputus sehingga mereka harus mengulang dari awal. Untungnya guru-guru sudah mengingatkan anak-anak agar mencatat jawaban-jawabannya di kertas, sehingga bila internet terputus dan mereka harus mengulang dari awal, jawabannya tinggal ditulis ulang. Ada beberapa anak yang mengalami gangguan internetnya, ternyata itu disebabkan selama mengerjakan tes daring, mereka membuka jendela lain, misalnya sambil WA-nan, sambil face book-an, atau yang lain. Hal ini menyebabkan aplikasi google form yang sudah dibuka tadi akan kembali ke awal lagi.

Berkat kesabaran dan ketelatenan guru-guru SMPN 1 Yogyakarta, anak-anak dapat diberi pengertian sehingga mereka kembali lancar mengerjakan soal-soal daring.  (Y. Niken Sasanti)


Tinggalkan komentar

Aku Bangga Sekolah di Sini

Aku berjalan menyusuri selasar SMP Negeri 1 Yogyakarta yang sepi. Gelak canda tawa, jeritan, dan teriakan yang biasanya mengisi hari-hari di sekolah kini terbang bersama murid-muridku. Kubayangkan saat pandemik covid-19 ini sehari-harinya mereka bercanda dan tertawa bahagia di rumah bersama ayah ibu dan saudara-saudaranya. Semoga saja itu terjadi dan semua bahagia.

Langkahku terhenti di selasar kelas VII. Di luar salah satu kelas tepatnya di pagar tembok, adatulisan “Aku Bangga Sekolah di Sini”. Rata-rata anak-anak memang bangga dengan sekolahnya, namun jarang yang menunjukkan kebanggaannya itu dengan cara menuliskan di pagar tembok
dengan tulisan yang besar. Aku ingat Kembali bahwa pada tahun ajaran baru yang lalu, mereka kuberi kebebasan untuk mengekspresikan diri di pagar tembok depan kelasnya masing-masing dengan bimbingan wali kelas dan orang tua anak-anak. Entah ide tulisan itu dari siapa, anak-anak sendiri, orangtuanya, atau wali kelasnya, yang jelas tulisan itu sudah tertera di situ dengan huruf yang cukup besar dan jelas.

Selama ini sepengetahuanku, anak-anak SMP Negeri 1 Yogyakarta senang berada di sekolah. Areal sekolahnya cukup luas dan sekolahku termasuk salah satu SMP terluas di Yogyakarta. Sarana dan prasarana cukup lengkap termasuk ada Gedung Olah Raga, lapangan bola, halaman yang cukup luas, lima laboratorium komputer, perpustakaan, bangsal, ruang ava, lab Bahasa, lab Fisika dan Biologi, dan masjid yang bisa menampung seluruh siswa. Ada belasan kegiatan ekstrakurikuler, termasuk olahraga, seni, jurnalistik, OSN, maupun Pramuka yang sudah banyak prestasinya. Kegiatan pembelajaran di SMPN 1 berprinsip belajar yang menyenangkan. Setiap harinya, para gurubersama siswa menjelajah dunia ilmu pengetahuan dari berbagai sumber. Interaksi sesama guru, guru dengan siswa, maupun siswa dengan siswa bagus. Interaksi siswa dengan para karyawan tata usaha, karyawan kebersihan, maupun bagian keamanan sekolah juga bagus. Semua itu mungkin saja menjadi alasan mengapa anak-anak senang berada di sekolah, bahkan bangga bersekolah di SMPN 1 Yogyakarta.

Saat pandemik covid-19 terjadi dan Pemerintah memutuskan para siswa belajar dari rumah (BDR) tentu menjadi hal yang tidak gampang karena harus mengubah berbagai kebiasaan yang sudah dijalankan sekian lama.
Aku masih ingat pada awal belajar dari rumah (BDR) banyak kendala yang muncul. Ada yang berkeluh kesah karena tidak punya hp, internet lemot, pulsa cepat habis, penjelasan materi dalam BDR sulit dipahami, tugas terlampau banyak, sampai keluhan tentang orang tua yang kewalahan mengajarianaknya saat BDR. Kendala dari pihak guru pun ada, yaitu kendala teknis layanan BDR karena ada beberapa guru yang belum terbiasa melakukan pembelajaran daring. Puji Tuhan semuakendala itu pelan-pelan dapat teratasi dan ada solusinya. Yang menggembirakan, kreativitas guru dan siswa meningkat. Beberapa guru sangat produktif membuat video pembelajaran dan ini menurutku luar biasa. Guru-guru yang semula malu-malu mulai berani akting di layar video. Para murid juga kreatif dalam mengerjakan tugas. Salut buat para guru dan muridku.

Jelas pelajaran online tidak dapat menggantikan sepenuhnya pelajaran di sekolah. Dalam pembelajaran online interaksi guru-murid sangat terbatas, untuk berdiskusi terbatas, penguatannpendidikan karakter serta sentuhan-sentuhan kasih sayang juga terbatas. Belakangan ini beberapa murid mulai bosan di rumah dan berkali-kali bertanya kepada orang, tuanya kapan bisa kembali ke sekolah. Mereka rindu berada di kelas, mereka rindu pada kursi
dan mejanya, mereka rindu pada teman-temannya, mereka rindu pada bapak ibu guru, bisa jadi mereka pun rindu pada Pak Satpam atau petugas kebersihan yang setiap hari menyambut mereka dengan senyum ramah.
Saat seperti ini semua baru terasa. Murid-murid butuh kehadiran guru yang bisa disapa, yang bisa ditanyai, yang bisa diajak diskusi. Guru pun butuh murid yang bisa diajak menjelajah ilmu, yang bisa disentuh dengan kasih sayang. Hari-hari covid menjadi hari-hari yang menyimpan
rindu. Pada hari-hari itulah kita semua menyemaikan banyak sekali harapan: covid segera berlalu, kita segera bertemu, relasi antarmanusia menjadi lebih baik, dan kehidupan lebih tertata.

Para guru sudah berusaha maksimal dalam melayani anak-anak BDR. Anak-anak juga sudah berusaha mengikuti BDR dengan baik di bawah bimbingan dan pendampingan orang tuanya. Meskipun tak bertatap muka dengan para guru, tak bisa belajar di kelas, tak menyentuh bangku, dan bercanda dengan teman, semoga anak-anak tetap bahagia dan bangga bersekolah di SMP Negeri 1 Yogyakarta. (Y. Niken Sasanti)

#satriasiaga #smp1jaya #banggasekolah