Bilik Kata

Berbagi lewat bahasa, sastra, dan budaya


Tinggalkan komentar

Jelang Tahun Ajaran 2020/2021 Era Covid-19 di Yogyakarta

Sampai dengan minggu kedua bulan Juni 2020 ini, kondisi terkait covid-19 di Yogyakarta belum memungkinkan untuk melaksanakan pembelajaran di sekolah. Pengumuman kelulusan dan penyerahan kembali siswa kelas 9 kepada orang tua sudah dilaksanakan. Sebagian besar sekolah di Yogyakarta juga sudah melaksanakan tes daring sebagai pengganti penilaian akhir tahun untuk kelas 7 dan 8. Tinggal mengolah nilai-nilai yang didapat untuk menentukan kenaikan kelas. Penerimaan peserta didik baru secara online juga sedang berproses di Yogyakarta. Setelah itu semua terlampaui, kita segera menyongsong tahun ajaran baru 2020/2021.

Sebelum menyusun strategi pembelajaran tahun ajaran baru nanti, Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta mengadakan survei untuk orang tua siswa terkait dengan pelaksanaan Belajar dari Rumah (BDR) selama masa pandemik covid-19. Survei ini dimaksudkan untuk mengevaluasi pelaksanaan BDR yang sudah beberapa bulan ini dilaksanakan sekolah-sekolah, sejauh mana efektivitasnya dan apa kendalanya. Selain itu survei dimaksudkan untuk mengetahui tanggapan orang tua siswa tentang rencana pembelajaran yang akan dilaksanakan dalam era new normal.

Survei diikuti lebih dari tiga ribu orang tua siswa di Yogyakarta. Berkaitan dengan keefektivan BDR, sepertiga orang tua menganggap bahwa BDR efektif dan dua pertiga berpendapat bahwa BDR kurang efektif. Sepertiga orang tua menyatakan bahwa anak-anaknya senang mengikuti BDR dan dua pertiga menyatakan bahwa anak-anaknya tidak senang mengikuti BDR. Mengapa anak-anak tidak senang mengikuti BDR, ada beberapa jawaban yang bervariasi, sebagian besar menyatakan jenuh, pengin ketemu teman, sebagian kecil menyatakan galau, dan sedikit yang menyatakan pengin ketemu guru. Hal ini tentu dapat dimaklumi bahwa anak-anak lebih ingin bertemu dengan teman-temannya daripada bertemu guru. Namun bukan berarti yang lebih ingin bertemu temannya tidak ingin bertemu dengan gurunya. Kebanyakan siswa tentu ingin bertemu teman dan gurunya.

Mengenai kendala BDR, sekitar 60 persen orang tua mengalami kendala dalam BDR dan 40 persen tidak terkendala. Kendala yang dialami pada waktu BDR adalah (1) orang tua tidak mampu mengikuti pembelajaran dalam BDR, (2) tidak punya waktu mendampingi anak BDR. (3) orang tua kesulitan membeli paket data, (4) orang tua kesulitan dengan akses intermet, (5) HP dibawa orang tua sehingga anak tidak bisa BDR daring, (6) HP hanya satu di rumah.

Ketika ditanyakan kemungkinan sekolah dibuka kembali pada tahun ajaran baru, sebagian besar orang tua tidak setuju. Orang tua masih merasa khawatir dengan kondisi penularan covid-19 yang belum mereda. Bila saatnya nanti anak-anak masuk sekolah kembali, sebagian besar orang tua ingin membekali anaknya dengan bekal makanan dari rumah, sebagian ingin memberikan uang jajan supaya anaknya bisa jajan di sekolah, dan sebagian kecil ingin memberikan dua-duanya, yaitu bekal makanan dan uang jajan. Tentang kantin sekolah, ternyata lebih banyak orang tua yang setuju bila kantin sekolah tidak dibuka. Hasil survei ini akan menjadi bekal bagi Dinas Pendidikan dan sekolah untuk mengambil langkah strategis dalam menyongsong tahun ajaran baru nanti. Bagaimana teknis pembelajaran, sarana dan prasarana apa yang harus disiapkan, bagaimana kesiapan guru dan siswa, semua itu perlu dipersiapkan sebaik-baiknya. Misalnya saja dalam hal sarpra, sekolah perlu menyediakan wastafel dalam jumlah yang memadai, menyediakan sabun cuci tangan, hand sanitizer, thermo gun, dan masker untuk siswa yang lupa tidak memakai masker. Guru dan karyawan mengenakan face shield, mengikuti skrining, dan sebagainya. Kurikulum tingkat sekolah juga perlu disesuaikan dengan kondisi masa covid termasuk penyesuaian KI dan KD tiap mata pelajaran, pengurangan jam belajar, penyusunan jadwalnya serta bagaimana teknis pembelajarannya. Semua itu perlu disiapkan seraya melihat  perkembangan situasi dan kondisi  penyebaran covid-19. Harapannya covid segera mereda, kondisi aman, semua sehat, sehingga kita bisa memulai era new normal di sekolah dengan harapan hari esok pendidikan Indonesia lebih baik.(Y. Niken Sasanti)