Bilik Kata

Berbagi lewat bahasa, sastra, dan budaya


Tinggalkan komentar

Menolak Sedih dan Kecewa di Masa Pandemik Covid-19

Covid-19 banyak memakan korban. Jelas semua orang tahu tentang hal itu. Korban jiwa jelas banyak. Belum lagi korban materi. Banyak bisnis dirugikan, banyak kegiatan tidak terlaksana, anak sekolah harus BDR, banyak perhelatan harus ditunda, bahkan ibadah di rumah-rumah ibadah pun tidak bisa dilaksanakan. Betapa besar kerugian di seluruh dunia akibat covid-19. Semua itu menimbulkan kesedihan, kekecewaan, kejengkelan, kemarahan, dan juga kebingungan. Namun pandemik covid-19 tak jua kunjung usai. Aku pun secara tidak langsung ikut terdampak covid-19 ini. Ada beberapa acara kantor dan acara keluarga yang tidak bisa dilaksanakan atau harus ditunda pelaksanaannya. Bila menuruti kata hati, jelas aku sedih dan kecewa, namun sejak awal aku berusaha menolak rasa sedih dan kecewa itu. Caranya adalah dengan menyibukkan diri melakukan hal-hal yang positif. Hal-hal positif itu antara lain 1) menulis, 2) membaca, 3) memasak, 4) membuat kudapan, 5) menyanyi, 6) koor virtual bersama teman-teman, 7) membuat video kedinasan, 8) menonton film, 9) membaca kitab suci, dan 10) mengisi TTS. Selain hal-hal tersebut, ada hal lain yang terus-menerus kulakukan, yaitu mengedukasi diri sendiri dan orang lain terkait covid-19. Sebagai seorang pimpinan di sebuah lembaga pendidikan, aku memastikan bahwa tempatku bekerja aman, guru karyawan siswa maupun ortunya sehat semua, protokoler covid-19 tetap dipatuhi, dan suasana tetap kondusif. Hanya kabar-kabar baik yang dibicarakan dan hal-hal baik yang disebarkan. Semua itu ternyata bisa menolak sedih dan kecewa. (Y. Niken Sasanti)


Tinggalkan komentar

Aku Bangga Sekolah di Sini

Aku berjalan menyusuri selasar SMP Negeri 1 Yogyakarta yang sepi. Gelak canda tawa, jeritan, dan teriakan yang biasanya mengisi hari-hari di sekolah kini terbang bersama murid-muridku. Kubayangkan saat pandemik covid-19 ini sehari-harinya mereka bercanda dan tertawa bahagia di rumah bersama ayah ibu dan saudara-saudaranya. Semoga saja itu terjadi dan semua bahagia.

Langkahku terhenti di selasar kelas VII. Di luar salah satu kelas tepatnya di pagar tembok, adatulisan “Aku Bangga Sekolah di Sini”. Rata-rata anak-anak memang bangga dengan sekolahnya, namun jarang yang menunjukkan kebanggaannya itu dengan cara menuliskan di pagar tembok
dengan tulisan yang besar. Aku ingat Kembali bahwa pada tahun ajaran baru yang lalu, mereka kuberi kebebasan untuk mengekspresikan diri di pagar tembok depan kelasnya masing-masing dengan bimbingan wali kelas dan orang tua anak-anak. Entah ide tulisan itu dari siapa, anak-anak sendiri, orangtuanya, atau wali kelasnya, yang jelas tulisan itu sudah tertera di situ dengan huruf yang cukup besar dan jelas.

Selama ini sepengetahuanku, anak-anak SMP Negeri 1 Yogyakarta senang berada di sekolah. Areal sekolahnya cukup luas dan sekolahku termasuk salah satu SMP terluas di Yogyakarta. Sarana dan prasarana cukup lengkap termasuk ada Gedung Olah Raga, lapangan bola, halaman yang cukup luas, lima laboratorium komputer, perpustakaan, bangsal, ruang ava, lab Bahasa, lab Fisika dan Biologi, dan masjid yang bisa menampung seluruh siswa. Ada belasan kegiatan ekstrakurikuler, termasuk olahraga, seni, jurnalistik, OSN, maupun Pramuka yang sudah banyak prestasinya. Kegiatan pembelajaran di SMPN 1 berprinsip belajar yang menyenangkan. Setiap harinya, para gurubersama siswa menjelajah dunia ilmu pengetahuan dari berbagai sumber. Interaksi sesama guru, guru dengan siswa, maupun siswa dengan siswa bagus. Interaksi siswa dengan para karyawan tata usaha, karyawan kebersihan, maupun bagian keamanan sekolah juga bagus. Semua itu mungkin saja menjadi alasan mengapa anak-anak senang berada di sekolah, bahkan bangga bersekolah di SMPN 1 Yogyakarta.

Saat pandemik covid-19 terjadi dan Pemerintah memutuskan para siswa belajar dari rumah (BDR) tentu menjadi hal yang tidak gampang karena harus mengubah berbagai kebiasaan yang sudah dijalankan sekian lama.
Aku masih ingat pada awal belajar dari rumah (BDR) banyak kendala yang muncul. Ada yang berkeluh kesah karena tidak punya hp, internet lemot, pulsa cepat habis, penjelasan materi dalam BDR sulit dipahami, tugas terlampau banyak, sampai keluhan tentang orang tua yang kewalahan mengajarianaknya saat BDR. Kendala dari pihak guru pun ada, yaitu kendala teknis layanan BDR karena ada beberapa guru yang belum terbiasa melakukan pembelajaran daring. Puji Tuhan semuakendala itu pelan-pelan dapat teratasi dan ada solusinya. Yang menggembirakan, kreativitas guru dan siswa meningkat. Beberapa guru sangat produktif membuat video pembelajaran dan ini menurutku luar biasa. Guru-guru yang semula malu-malu mulai berani akting di layar video. Para murid juga kreatif dalam mengerjakan tugas. Salut buat para guru dan muridku.

Jelas pelajaran online tidak dapat menggantikan sepenuhnya pelajaran di sekolah. Dalam pembelajaran online interaksi guru-murid sangat terbatas, untuk berdiskusi terbatas, penguatannpendidikan karakter serta sentuhan-sentuhan kasih sayang juga terbatas. Belakangan ini beberapa murid mulai bosan di rumah dan berkali-kali bertanya kepada orang, tuanya kapan bisa kembali ke sekolah. Mereka rindu berada di kelas, mereka rindu pada kursi
dan mejanya, mereka rindu pada teman-temannya, mereka rindu pada bapak ibu guru, bisa jadi mereka pun rindu pada Pak Satpam atau petugas kebersihan yang setiap hari menyambut mereka dengan senyum ramah.
Saat seperti ini semua baru terasa. Murid-murid butuh kehadiran guru yang bisa disapa, yang bisa ditanyai, yang bisa diajak diskusi. Guru pun butuh murid yang bisa diajak menjelajah ilmu, yang bisa disentuh dengan kasih sayang. Hari-hari covid menjadi hari-hari yang menyimpan
rindu. Pada hari-hari itulah kita semua menyemaikan banyak sekali harapan: covid segera berlalu, kita segera bertemu, relasi antarmanusia menjadi lebih baik, dan kehidupan lebih tertata.

Para guru sudah berusaha maksimal dalam melayani anak-anak BDR. Anak-anak juga sudah berusaha mengikuti BDR dengan baik di bawah bimbingan dan pendampingan orang tuanya. Meskipun tak bertatap muka dengan para guru, tak bisa belajar di kelas, tak menyentuh bangku, dan bercanda dengan teman, semoga anak-anak tetap bahagia dan bangga bersekolah di SMP Negeri 1 Yogyakarta. (Y. Niken Sasanti)

#satriasiaga #smp1jaya #banggasekolah


Tinggalkan komentar

Evaluasi dan Catatan Pelaksanaan BDR di SMPN 1 Yogyakarta

BDR di SMPN 1 Yogyakarta dilaksanakan mulai tanggal 23 Maret 2020. Sampai dengan tanggal 22 Mei 2020 pelaksanaan BDR cukup lancar meskipun tidak dapat dimungkiri bahwa ada juga kendalanya. Sebagian besar kendala dapat diatasi dengan baik. Berikut ini beberapa catatan sekaligus evaluasinya.

  1. Guru-guru pada umumnya melaksanakan BDR dengan baik. Mereka memberikan tugas yang bervariasi, ada feedback, ada penilaian, medianya bervariasi
  2. Masih ada guru yang hanya memberikan tugas tanpa penjelasan sehingga anak-anak bingung, ortu juga bingung. Solusinya guru tersebut diminta memberikan materi disertai penjelasan yang cukup
  3. Masih ada guru yang monoton dalam PJJ sehingga anak-anak bosan, diharapkan guru tersebut menggunakan media belajar yang bervariasi (harus banyak akal)
  4. Hambatan yang sulit dihindari adalah kebosanan siswa, oleh sebab itu guru harus pandai-pandai menggunakan berbagai metode, bentuk soal atau tugas, dan memberikan selingan yang menarik bagi siswa. Selingan misalnya: humor, cerita lucu, cerita seru, video lucu, foto pemandangan alam yang bagus, dsb.
  5. Guru mulai produktif membuat materi ajar lewat youtube (ada kegigihan, semangat untuk memberikan layanan kepada siswa)
  6. Keberhasilan BDR bertumpu pada sinergi antara dinas Pendidikan, sekolah, dan orang tua siswa, saling dukung dan memberi solusi bila ada hambatan
  7. Wali kelas berperan membantu guru “ngopyak-opyak” siswa mengerjakan dan mengumpulkan tugas
  8. Presensi harus selalu dilakukan saat bapak ibu guru mengajar online untuk mengetahui partisipasi siswa dalam KBM
  9. Penilaian dalam BDR tidak boleh kaku, hargai apa pun yang dikumpulkan siswa, semua siswa harus tuntas
  10. Daya dukung sarpra siswa juga berbeda maka guru harus bisa menggunakan berbagai media
  11. Kemampuan literasi atau daya tangkap siswa tidak sama, maka guru harus bisa melayani semua dengan cara memilih materi yang bisa ditangkap oleh semua siswa
  12. Pada umumnya guru menganggap bahwa anak-anak yang tidak bisa gabung online atau tidak
    mengumpulkan tugas adalah kendala, padahal ini adalah hal biasa yang menjadi pekerjaan
    bapak ibu guru untuk mengatasinya
  13. Kemampuan guru dalam melaksanakan BDR perlu ditingkatkan, jangan menunggu fasilitas dari
    sekolah namun harus proaktif belajar sendiri atau belajar kepada yang lebih mahir dengan cara tutor sebaya
  14. Tidak semua orang tua siap dengan BDR, tidak semua rumah siap untuk BDR dengan segala sarpra yang diperlukan. Oleh sebab itu, guru haruslah bijak dalam memilih media BDR sehingga semua siswa bisa mengikuti BDR dengan baik
  15. Banyak siswa yang justru lebih sering nge-game daripada mengerjakan tugas (keluhan orang tua). Maka, banyak orang tua yang mengeluh kuota internet cepat habis, bukan karena untuk mengirimkan tugas kepada guru melainkan untuk nge-game. Harusnya ini bisa diatasi oleh orang tua.
  16. Sebagian guru belum menyiapkan administrasi pembelajaran BDR. Administrasi yang harus disiapkan minimal, RPP, jurnal harian, data presensi siswa, daftar nilai.
  17. KTSP tahun ajaran baru, Kurikulum BDR new normal harus segera disiapkan mengikuti petunjuk dari Kementerian dan Dinas Pendidikan. (Dirangkum oleh Y. Niken Sasanti berdasarkan berbagai masukan)


Tinggalkan komentar

Usir Stres dengan TTS

Salah satu kegiatanku dan anak wedok saat pandemi covid-19 ini adalah mengisi TTS. Kami memilih mengisi TTS yang ada di buku kumpulan TTS yang diterbitkan salah satu harian terkenal. Lebih menantang karena pertanyaan-pertanyaannya cukup sulit sekaligus membuka wawasan kami.

Aku jadi teringat bahwa pada masaku SMP, SMA, maupun masa masa kuliah, TTS ini menjadi sesuatu yang sangat teramat digemari. Tak hanya TTS yang di koran atau majalah, namun juga TTS yang berupa buku kumpulan TTS sangat disukai. Di tempat-tempat umum, saat menunggu bus di terminal, saat menunggu antrean dokter, kita biasa melihat orang mengisi TTS. Maklum, pada masa itu belum ada hp yang menyediakan game seperti sekarang.

Teman-teman yang masih punya waktu luang dan tidak menemukan kegiatan lain yang mengasyikkan, silakan mengisi TTS. Selain menambah wawasan, TTS juga bisa mencegah kepikunan bagi orang tua, merangsang berpikir, memperkuat daya juang, dan tentu saja membuat bahagia saat kita berhasil menyelesaikannya. TTS juga bisa menghilangkan atau setidaknya mengurangi stres karena kita bisa menyalurkan energi dan pikiran untuk mencari jawaban pertanyaan-pertanyaannya. Bagi yang muda, nge-game boleh saja, namun TTS bisa menjadi selingan lho, agar mata kita tidak terpancang terus di layar komputer atau hp. (Y. Niken Sasanti)


Tinggalkan komentar

Pisang Bola-bola

Makanan ini di Yogya disebut apa ya? Kalau di Seram Barat disebut pisang bola-bola. Mirip pisang goreng, namun pisangnya dipotong kecil-kecil. Pisang yang sudah dipotong kecil-kecil itu dimasukkan ke dalam adonan tepung terigu yang sudah diaduk dengan air secukupnya. Ada yang menambahkan gula pasir, ada pula yang menambahkan vanili. Kalau aku meniru ibuku, hanya menggunakan tepung terigu tanpa tambahan apa pun selain air karena pisangnya sudah manis. Biasanya kami menggunakan pisang kepok kuning, pisang tanduk, atau pisang raja. Sekilas mirip pisang goreng biasa namun entah mengapa, aku dan adik-adikku lebih menyukai pisang goreng jenis ini. Bukan masalah enak atau tidak enak, namun bagi kami yang waktu itu masih kecil-kecil, makanan ini memiliki sensasi rasa yang berbeda dibandingkan pisang goreng biasa. Mungkin sensasi rasa tepungnya yaaa, hehehe anak-anak memang lebih suka yang bertepung banyak.

Ada hal yang bikin aku tertawa dalam hati. Biasanya setelah aku membeli pisang kepok kuning, suamiku langsung makan pisang itu begitu saja. Katanya, “Ga usah direbus atau digoreng, dimakan begini saja sudah enak, Ma.” Memang pisang kepok kuning yang benar-benar kuning rasanya amat manis sehingga suamiku (dan aku juga) suka melahapnya begitu saja.

Supaya aku bisa mengolah pisang kepok menjadi makanan lain, aku harus segera bertindak sebelum pisang kepoknya benar-benar habis. Kadang aku merebusnya, membuat menjadi isian roti tawar bakar, membikin kolak dicampur kolang kaling, atau menggorengnya. Kali ini aku membikinnya menjadi pisang goreng yang pisangnya dipotong kecil-kecil sekaligus mengenang masa kecil. Hangat-hangat kuhidangkan di atas meja, suami dan anakku langsung mencomotnya, melahapnya. “Enak, Ma, manis,” kata mereka. Hal-hal kecil yang membuat suami dan anakku tersenyum bahagia. (Y. Niken Sasanti)


Tinggalkan komentar

Onde-onde Ketawa yang Bikin Ketawa

Berawal dari melihat foto onde-onde ketawa yang diup load seorang teman, aku lantas mencoba membuatnya. Siapa tahu onde-onde ketawa yang kubuat akan membikin ketawa anak dan suamiku saat menyantapnya. Aku teringat saat kecil aku suka sekali dengan makanan itu. Berbeda dengan onde-onde biasa yang di dalamnya berisi kacang hijau, onde-onde ketawa tidak ada isinya karena tidak berongga. Padat namun renyah sehingga gampang digigit. Rasanya manis gurih melekat di lidah, apalagi dengan sensasi wijen yang menggemaskan. 
Aku lantas minta resep dari temanku. Bahannya mudah didapat, yaitu tepung terigu 250 gram, gula pasir bubuk 75 gram (karena aku kurang suka bila terlalu manis), margarin yang sudah dicairkan, sebutir telor, baking powder setengah sendok teh, dan wijen secukupnya. Wijennya jangan dihitung ya karena bikin capek. 
Cara membuatnya pun gampang. Telur dikocok pakai garpu , kemudian tambahkan tepung, margarin, baking powder, dan gula. Semua bahan diaduk dengan sendok hingga rata, kemudian diuleni dengan tangan sampai tidak melekat di tangan. Setelah itu dibentuk bulatan-bulatan kecil sampai adonan habis. Bulatan2 tadi diletakkan di atas wijen yang sudah dibasahi dengan air. Dibolak-balik sampai bulatan tadi tertutup wijen dengan merata. Diamkan beberapa menit, kemudian bulatan tadi dibelah empat di salah satu sisinya menggunakan pisau atau gunting. Pastikan rapi ya sehingga bagus bentuknya. Setelah itu siapkan wajan dengan minyak, gorenglah bulatan-bulatan tadi sampai matang. Bagian yang dibelah empat akan merekah saat digoreng.

Bagaimana dengan onde-onde ketawa yang kubuat? Ternyata saat menggoreng pertama, hasilnya kurang bagus, agak gosong. Rupa-rupanya api terlalu besar. Setelah menggoreng yang kedua, hasilnya lebih cantik, tidak gosong. Hanya saja, wijen yang sudah menempel rapi di onde-onde jadi rontok semua saat onde-onde digoreng. Harus belajar lagi nih. Meskipun agak gosong dan agak botak, onde-onde ketawaku tetap renyah dan lezat. Apakah suami dan anakku benar-benar tertawa saat menyantapnya? Mereka tertawa melihat onde-onde yang gosong dan mereka bersuka cita saat menyantapnya. (Y. Niken Sasanti)


Tinggalkan komentar

Pizza yang Menggugah Selera

Paling enak adalah punya lidah yang gampang beradaptasi dengan berbagai macam makanan, seperti lidahku. Makanan tradisional oke, makanan oriental oke, makanan barat pun oke. Hal ini membuatku nyaman-nyaman saja ketika berada di suatu tempat baru dengan makanan baru. Aku justru merasa tertantang untuk mencoba menikmati makanan yang ada di tempat baru tersebut. Kemarin, anak wedokku tiba-tiba ingin makan pizza. Kami lalu membelinya di salah satu restoran via gofood. Kebetulan sedang ada promosi, beli satu pizza splitz reguler akan mendapatkan satu tambahan pizza yang berbeda. Lumayan kan. Ketika pesanan datang, kami segera membuka kotaknya. Wow, benar-benar menggugah selera. Pizza yang satu toppingnya lumayan banyak sedangkan si pizza bonus toppingnya tipis-tipis saja hahaha kami tertawa, namanya juga bonus. Satu hal lagi yang membuat aku dan anakku tertawa adalah potongan pizza itu sungguh tidak adil, ekstrim banget, ada yang besar ada yang kecil. Lalu sambil bergurau kubilang pada anakku, “Kalau pizza ini dibagi sepotong sepotong dan mama dapat yang paling kecil itu, mama pasti nangis dalam hati.” Anakku dan dan ayahnya tertawa lagi. Hmm mbak atau mas yang memotong pizza harus lebih adil lain kali.


Tinggalkan komentar

Rambu-rambu Belajar dari Rumah selama Pandemi Covid-19 di SMPN 1 Yogyakarta

Rambu-rambu pembelajaran jarak jauh atau BDR atau LFH yang dilaksanakan di SMPN 1 Yogyakarta:

A. Prinsip-prinsip BDR

BDR bertujuan untuk memutus mata rantai penularan covid, menjaga siswa tetap sehat, stay di rumah bersama keluarga masing-masing, dan menjaga komunikasi sekolah dengan siswa maupun orang tuanya selama pandemic covid. Saat pandemik covid-19 masih berlangsung, pendidikan bukan lagi menjadi hal utama, yang utama adalah kesehatan. BDR tidak harus menuntaskan KD, melainkan guru diharapkan mengaitkan materi ajar dengan lingkungan siswa atau dengan covid. Selain itu BDR dilaksanakan untuk menjaga semangat siswa agar tetap belajar meskipun materi yang dipelajari ringan-ringan saja.

B. Materi/Tugas/Soal dalam BDR

  1. Materi pembelajaran dalam BDR berpedoman pada KD, namun bila tidak memungkinkan tidak harus menuntaskan KD. Evaluasi tidak harus berupa soal yang harus dijawab, melainkan bisa berupa tugas membuat laporan, bercerita, atau yang lain.
  2. Tugas tidak boleh memberatkan siswa baik tentang banyaknya tugas atau durasi pengerjaannya atau kuota internetnya.
  3. Tugas sedapat mungkin bervariasi sehingga siswa tidak bosan.
  4. Diusahakan sesekali ada vicon sehingga ada dialog interaktif dengan siswa
  5. Diskusi kelas sedapat mungkin dilaksanakan baik dengan vicon maupun chatting WA, SMS

C. Media

  1. Guru boleh menggunakan berbagai media yang ada
  2. Guru boleh membuat media pembelajaran sendiri yang di up load melalui youtube
  3. Media yang dipakai yang mudah diakses, tidak banyak memakan kuota, terdokumentasi, lancar penggunaannya
  4. Boleh media online (GC, zoom, webex, GM, GF) maupun offline (radio, televisi)

D. Penilaian

Bisa memilih atau menggabungkan pilihan-pilihan berikut:

  1. Tes/soal daring atau luring
  2. Tugas daring atau luring
  3. Observasi guru selama BDR
  4. Portofolio siswa sebelum covid-19
  5. PAT daring dengan soal yang sesuai dengan pencapaian KD siswa

Nilai rapor merupakan paduan dari berbagai nilai dengan prosentase yang ditentukan oleh sekolah. Objektivitas diserahkan kepada bapak ibu guru, diharapkan semua siswa tuntas dan mendapat nilai minimal sama dengan KKM. Bapak ibu guru, siswa, maupun orang tua harus ikhlas dengan
penilaian pada kondisi yang khusus ini.

E. Administrasi pembelajaran selama BDR (sd Juni 2020)

  1. RPP BDR
  2. Agenda/jurnal harian mengajar guru selama BDR
  3. Laporan hasil belajar siswa (nilai ulangan, nilai tugas, nilai PAT, nilai portofolio)
  4. Presensi harian siswa saat pembelajaran


Tinggalkan komentar

Tahu Susu Krispi

Belakangan ini ibu-ibu guru di sekolahku sering membeli tahu susu. Aku ikut-ikutan beli, konon enak. Digoreng begitu saja enak karena tahunya sudah asin dan gurih. Dibalut tepung juga enak. Aku mencoba yang pertama, yaitu kugoreng biasa tanpa dibalut tepung. Ternyata agak susah menggorengnya. Tahu susu begitu lembut dan mudah hancur, harus hati-hati banget mengambilnya. Kugoreng di dalam wajan dengan minyak yang cukup banyak, sampai tahu tenggelam dalam minyak. Setelah tahu agak garing sisi bawahnya tiba saatnya untuk membalik, aduhai apa daya tahu-tahu tersebut lengket di wajan. Dengan susah payah akhirnya tahu bisa dibalik dan digoreng sampai agak garing. Setelah kami cicipi rasanya memang enak, renyah, namun bentuknya kurang bagus karena tragedi lengket di wajan tadi.

Beberapa hari kemudian, sisa tahu yang masih separoh kugoreng lagi. Kali ini kubalut dengan tepung. Mula-mula kucampur tepung terigu dan sedikit tepung tapioka plus air, tanpa kuberi tambahan apa pun termasuk garam karena tahunya sudah cukup asin. Lalu kucelupkan tahu satu per satu ke dalam adonan tepung tadi. Setelah itu tahu digoreng. Tetap hati-hati mencemplungkan tahu ke dalam wajan. Tahu dan kawan-kawannya harus rela antre untuk masuk ke dalam wajan. Ternyata kali ini tahunya lebih bersahabat, tidak lengket di wajan, dan hasilnya lebih renyah, krispi. Nyam nyam nyam enak dimakan hangat-hangat untuk cemal-cemil. (Y. Niken Sasanti)


Tinggalkan komentar

Timus Maknyus

Makanan ini cukup familier di kalangan masyarakat Yogyakarta. Terbuat dari ubi jalar dan dan sangat mudah membuatnya. Cukup siapkan ubi jalar tiga buah, dikupas kulitnya, dipotong agak besar lalu direbus atau dikukus sampai matang. Setelah matang taruh dalam wadah, tambahkan tepung tapioka tiga sendok makan, gula pasir 2-3 sendok makan atau tergantung selera lalu diaduk, diuleni sampai bisa dibentuk bulatan agak lonjong. Simpan dalam kulkas 15 menit lalu digoreng. Jadilah timus yang lezat sebagai teman minum teh atau kopi.

Belakangan ini orang mulai berkreasi dengan timus. Ada yang menambahkan coklat di dalamnya sehingga timusnya berisi coklat. Bila digigit akan meleleh coklatnya. Mungkin kita juga bisa berkreasi dengan bahan-bahan lain. Misalnya timus dengan isi keju, timus dengan tambahan kelapa muda yang diiris kecil-kecil. Hmm, sudah terbayang lezatnya. (Y. Niken Sasanti)