Bilik Kata

Berbagi lewat bahasa, sastra, dan budaya


Tinggalkan komentar

Great Leaders Inspire Others

Dalam beberapa bulan ini, setiap kali aku melewati Jalan Kaliurang dari arah selatan sesampai di Selokan Mataram, mataku tak pernah lupa melihat sebuah baliho di pojok timur Gedung MM UGM yang bertuliskan “Great Leaders Inspire Others”. Sejak awal membaca, aku suka dengan tulisan itu. Mungkin karena tulisan itu cukup mencolok dengan ukuran huruf cukup besar dan warnanya putih sehingga siapa pun mudah membacanya. Namun, kurasa lebih dari itu, aku suka karena tulisan itu bagiku menjadi semacam kicauan burung yang membangunkanku tiap pagi. Bangun bukan dalam arti bangun dari tidur, namun lebih pada membangunkan hati dan pikiranku. Sebenarnya setiap orang dilahirkan untuk menjadi pemimpin, entah itu pemimpin besar atau pemimpin kecil atau bahkan pemimpin bagi dirinya sendiri. Di situ ada sebuah tanggung jawab atau amanah yang diemban. Setiap orang diberi talenta untuk menjadi pemimpin. Apakah talenta itu mau dikembangkan atau dikubur di dalam tanah, bergantung pada tiap pribadi. Apakah pengembangan talenta itu bisa menjadi lipat dua, lipat sepuluh, atau bahkan lipat seratus, tentu juga bergantung pada tiap individu. Kembali ke tulisan “Great Leaders Inspire Others”, kurasa kita tidak harus menunggu menjadi pemimpin besar baru menginspirasi orang lain. Kita tidak perlu menunggu sampai berhasil melakukan hal-hal besar, namun bisa memulai dengan hal kecil-kecil yang bisa diteladani. Mungkin sekadar sebuah kedisiplinan, kebaikan, ketekunan, ketaatan, kesalehan, kesantunan, kegigihan berjuang, atau hal-hal baik lainnya yang dilakukan dengan tulus dan konsisten. Dan nantinya, bila kita melakukan hal baik yang belum pernah dilakukan orang lain, bisa jadi orang akan mengapresiasi dan menyebut itu sebagai sebuah kreativitas yang menginspirasi. (Y. Niken Sasanti)


Tinggalkan komentar

Vidcon Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta

Tanggal 28 April 2020, Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta mengadakan video conference dengan peserta pengawas, kepala sekolah SMP dan bendahara SMP Negeri. Narasumbernya adalah Kepala Dinas, Kasi Kurikulum, Kasi Sarpra, dan Keuangan. Cukup banyak yang dibahas dalam vidcon yang berlangsung hampir dua jam tersebut, antara lain tentang pembelajaran selama pandemi covid-19, tentang mekanisme penggunaan anggaran sekolah baik yang dari BOSN maupun BOSDA, serta pembelanjaan apa yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan. Para kepala sekolah maupun bendahara cukup antusias mengikuti vidcon ini dan cukup banyak pertanyaan yang diajukan. Terkait dengan kelulusan siswa kelas 9 dan bagaimana pengolahan ijazah, menurut Kasi Kurikulum belum bisa dibahas sekarang karena nanti akan ada vidcon tersendiri bersama seluruh KS baik negeri maupun swasta. Adanya rapat online ini membuat kami para kepala sekolah tidak ragu dalam melangkah dan mengambil keputusan pada situasi khusus ini. Terima kasih. (Y. Niken Sasanti)


Tinggalkan komentar

Perpustakaan Ekawaringin SMPN 1 Yogyakarta, brave!!!

Hari ini siswa kelas 9 mulai mengembalikan buku teks yang dipinjam dari perpustakaan sekolah. Karena sikon, pengembalian dilayani di salah satu ruang kelas. Ada dua loket yang dilayani dua petugas perpustakaan yaitu Mas Agung dan Mb Arum dibantu Pak Didik dan Pak Pur. Buku-buku yang dikembalikan tidak langsung dibawa ke perpustakaan melainkan diletakkan di ruang transit dan akan disterilkan dulu. Pengembalian buku tidak dilakukan oleh siswa melainkan oleh orang tuanya, bisa langsung datang ke sekolah, bisa melalui jasa pengiriman misalnya gosend. Supaya tidak ada kerumunan massa, maka sekolah membuat jadwal pengembalian. Sehari hanya melayani 1 kelas, itu pun dibagi dua sesi, masing-masing sesi 2 jam untuk setengah siswa dalam satu kelas. Social distancing tetap dilakukan. Juga disediakan tempat cuci tangan dan sabun di depan loket. Dengan mekanisme seperti itu diharapkan buku paket milik perpustakaan sekolah bisa segera kembali dan segera diolah untuk dipinjamkan ke adik kelas pada tahun ajaran yang akan datang. Terima kasih Bu Tika, Mas Agung, Mbak Arum, Pak Didik, dan Mas Pur. Stay safe, stay healthy, stay happy. (Y. Niken Sasanti)


Tinggalkan komentar

Nonton Film Bagus

Hari-hari yang panjang tak lagi terasa panjang. Selama pandemi covid-19 ini tetap banyak yang bisa dikerjakan meskipun tak leluasa berkumpul atau bepergian. Satu hal yang kukerjakan saat week end di rumah adalah nonton film-film jadul yang bagus-bagus, bahkan teramat bagus. Minggu lalu kutonton Red Cliff 1 dan 2. Hari Sabtu dan Minggu kemarin kutonton dua film, yaitu The Shawshank Redemption yang disutradarai oleh Frank Darabont dan The Admiral: Roaring Currents yang disutradarai oleh Kim Han Min. Red Cliff 1 dan 2 serta The Admiral: Roaring Currents merupakan film kolosal. Red Cliff 1 dan 2 mengisahkan perang di China sedangkan The Admiral: Roaring Currents mengisahkan perang di Korea antara Jepang dan Korea. Keduanya penuh dengan strategi perang yang luar biasa jitu dan tak dapat diduga oleh musuh. Beda lagi dengan The Shawshank Redemption. Film ini mengisahkan perjalanan hidup seorang bankir yang dipenjara karena dituduh melakukan pembunuhan yang sebenarnya tidak dilakukannya. Banyak film bagus, tidak hanya indah gambarnya, namun juga sarat dengan pesan moral seperti dalam film-film yang usai kutonton itu. Hidup manusia tidak pernah mudah atau lancar, selalu ada bahaya yang tidak terduga di setiap perjalanannya. Oleh karena itu kita harus membebaskan pikiran, tubuh, dan jiwa kita agar dapat yakin terhadap sisi terang kehidupan. Dan saya percaya bahwa satu hal terbaik dalam kehidupan adalah harapan. (Teman-teman, ini film untuk dewasa ya karena banyak adegan kekerasan). (Y. Niken Sasanti)


Tinggalkan komentar

Belajar dari Rumput

Hari ini para karyawan bagian kebersihan bersama-sama merapikan rumput yang ada di lapangan sekolah. Bukan hanya rambut kita yang perlu dirapikan, rumput pun perlu dirapikan. Terlebih, pada musim hujan seperti ini rumput tumbuh dengan subur. Kadang mereka pintar menyembunyikan diri, seakan mereka mati karena kekeringan di musim kemarau, eh tidak tahunya saat musim penghujan tiba, mereka muncul lagi dan tumbuh dengan cepat. Demikian juga rumput yang ada di lapangan SMPN 1 Yogyakarta, tumbuh pesat. Sungguh elok, kulihat rumput-rumput itu meliuk-liukkan tubuhnya kegirangan.

Aku mendekati para karyawan dan menyapa mereka, “Wah, kompak, pasukan lengkap, ya bapak bapak.”

Nggih, Bu,”  jawab mereka dengan serempak.

“Rumputnya cepat sekali tingginya ya,” kataku.

Salah seorang di antara mereka, yaitu Pak Yoyok menjawab, “Rumputnya disiram langsung oleh Tuhan melalui hujan, Bu, sehingga subur dan cepat tinggi. Ini ada yang sudah setengah meter tingginya. Kadang kami kalah cepat dengan mereka Bu. Baru saja dibersihkan, eh tumbuh lagi dengan cepat.”

Kulihat memang benar yang dikatakan Pak Yoyok, rumput yang ada di tepi lapangan kira-kira sudah setengah meter tingginya. Kataku, “Betul Pak Yoyok, rumput itu ibaratnya “nerima”, mereka tidak pernah protes walaupun tidak pernah disirami. Mereka diinjak-injak dan dicabuti juga tidak pernah mengeluh. Saat musim hujan tiba, mereka disiram air hujan, mereka bersyukur dan tumbuh dengan subur. Berbeda dengan bunga-bunga yang mahal harganya, amat sulit merawatnya dan mudah mati.”

Nggih Bu, leres, rumput itu nerima ing pandum.”

“Betul sekali, makanya kita sebagai manusia jangan kalah dengan rumput, harus nerima ing pandum dan bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan kepada kita. Rumput saja dipelihara Tuhan, apalagi manusia. Ya kan?”

Kulihat Pak Yoyok dan kawan-kawannya bekerja dengan ikhlas dan gembira. Buktinya, tidak ada yang cemberut. Apalagi mereka bekerja sambil menyetel lagu-lagu sobat ambyar yang bisa membuat hati gembira.

“Bagaimana kalau kita carikan kambing, biar makan rumput di sini, nanti kalau kambingnya beranak pinak bisa kita sembelih,” kataku sambil tertawa.

Para karyawan yang sedang asyik bekerja pun tertawa semua.

“Nanti kalau musim kemarau kita repot Bu, harus mencarikan rumput untuk makanan kambing,” sahut Pak Karno.

“Bagaimana kalau kelinci,” kataku lagi.

“Kalau kelinci, Pak Ijun memeliharanya di rumah, Bu,” kata Pak Karno lagi.

Kami masih melanjutkan omong-omong yang tidak terlalu serius, hanya sekadar omong-omong yang sering kulakukan bersama para karyawan untuk mencairkan suasana. Hati yang gembira adalah obat yang manjur, maka aku ingin karyawan-karyawanku selalu gembira. Harapanku aku, para guru, dan para karyawan di sekolahku selalu menerima rezeki pemberian Tuhan dengan rasa syukur, bekerja dengan penuh dedikasi, dan setia. (Y. Niken Sasanti / 16 April 2020)


Tinggalkan komentar

Dialog Jelang Tidur di Sebuah Grup WA

Disajikan sebuah video singkat yang berisi foto-foto gadis-gadis, ibu-ibu, maupun berbagai aktivitas di masa lalu di Jawa.

[9:01 PM, 4/15/2020] Niken Sasanti: Nostalgia ke masa lalu, seneng melihat dandanan ibu ibu atau nenek nenek kita zmn dulu.

[9:08 PM, 4/15/2020] Estik: Iyaa Bu…nostalgia nan menawan…

[9:11 PM, 4/15/2020] Sumiyati: Makasih Bu, bagus teringat Simbah dan simbokku.

[9:12 PM, 4/15/2020] Niken Sasanti: Iya tadi saya juga senyum-senyum sendiri, kelingan simbah

 [9:18 PM, 4/15/2020] Yayuk Ismiyani: Saya teringat simbah, ibuku dan diriku  di kala itu.

[9:19 PM, 4/15/2020] Nurjanah Jw: Bocah-bocah syantic ini berarti sudah sepuh sekali yaa

[9:22 PM, 4/15/2020] Niken Sasanti: Iya ya, mereka manis-manis seperti lapis legit ya, kerling matanya begitu tajam dan indah ( Hehe gue agak lebay biar bapak bapak pd penasaran )

[9:23 PM, 4/15/2020] Yayuk Ismiyani: Minimal yo seusia saya, Bu.

[9:24 PM, 4/15/2020] Niken Sasanti: Kayaknya lebih bu, kalau seusia bu Yayuk kan udah ada yang rambut pendek lha itu panjang semua dan dikepang

[9:24 PM, 4/15/2020] Yayuk Ismiyani: Saat SD kelas 1 dan 2 saya pakai meja seperti itu. Mejanya njonjrong dan  gandeng dengan kursinya

[9:27 PM, 4/15/2020] Niken Sasanti: Saya juga bu malah SMP juga masih sehingga kalau membersihkan kelas susah nyapunya, harus diangkat supaya bersih. Ngepelnya pakai grajen diberi minyak tanah

[9:27 PM, 4/15/2020] Yayuk Ismiyani: Jadi ingat rambut saya dulu juga suka dikepang dua

[9:27 PM, 4/15/2020] Nurjanah Jw: Lebih Bu Y….seperti zaman londo ya

[9:28 PM, 4/15/2020] Yayuk Ismiyani: Sepertinya Bu.

[9:31 PM, 4/15/2020] Yayuk Ismiyani: Lhaaah SD saya masih berlantai tanah Bu, muridnya  ” cekeran “. Kalau pagi yang piket ngangsu dulu di sumur untuk mbasahi supaya kalau disapu tidak  “ngebul” debunya.

[9:32 PM, 4/15/2020] Niken Sasanti: Wauw, di SD mana bu?

[9:34 PM, 4/15/2020] Yayuk Ismiyani: Saya didesa Bu, pulang pergi jalan kaki.

[9:36 PM, 4/15/2020] Niken Sasanti: Pergi pulang atau pulang pergi bu? Kalau pulang dulu baru pergi njuk pulangnya kapan?  hahahaha.

[9:38 PM, 4/15/2020] Nurjanah Jw: hahahaha

[9:40 PM, 4/15/2020] Estik: Klo sy ngepel pake ampas kelapa parut

[9:40 PM, 4/15/2020] Niken Sasanti: Iya, bisa juga bu jadinya mengkilat lantainya

[9:41 PM, 4/15/2020] Niken Sasanti: Hehehe

[9:41 PM, 4/15/2020] Yayuk Ismiyani: Naaah, bu Niken mulai nich……  ndagel

[9:42 PM, 4/15/2020] Estik: Hehe iyaa…jd inget tempa doeloe…nonton akrobat juga seperti di video tadi, hehe

[9:43 PM, 4/15/2020] Niken Sasanti: Supaya nanti mimpinya juga ketawa-ketawa Bu

[9:44 PM, 4/15/2020] Yayuk Ismiyani: Betul Bu. Mimpi yang menyenangkan.

Selamat tidur, sugeng sare, good night!


Tinggalkan komentar

Nasionalisme di Tengah Pandemi Covid-19

Berhadapan dengan kondisi seperti saat ini, tak hanya rasa kemanusiaan, namun rasa nasionalisme kita pun digedor. Banyak korban tragedi covid-19. Tak hanya korban nyawa, namun korban ikutan lainnya juga sangat besar. Perusahaan-perusahaan tak sedikit yang merugi, banyak orang yang kehilangan pekerjaan, banyak orang tidak punya uang untuk membeli makanan, dan sebagainya. Perekonomian pun seakan berhenti bergerak entah untuk berapa lama. Pemerintah sudah berusaha sungguh-sungguh untuk mengatasi ini semua, namun mengatasi covid dan segala permasalahan yang timbul tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Di sini selain rasa kemanusiaan, rasa nasionalisme kita juga diuji. Apakah kita sungguh-sungguh memiliki rasa nasionalisme yang besar, apakah kita sungguh-sungguh mencintai negara kita? Barangkali kita tidak mampu melakukan hal-hal heroik yang besar-besar. Namun, kita lakukan hal-hal kecil yang gampang kita lakukan untuk membantu Pemerintah mengatasi pandemi yang menakutkan ini. Sebagai warga negara yang baik, yang bisa kita lakukan adalah: 1. Patuh pada anjuran Pemerintah untuk menjaga kebersihan, kesehatan, dan stay at home, 2. Tidak melakukan pembatasan sosial secara berlebihan, 3. Tidak mudik atau bepergian bila tidak amat perlu, 4. Mau berbagi atau berdonasi pada yang membutuhkan, 5. Mau memahami situasi dan kondisi sehingga tidak banyak mengeluh karena kita tidak sendiri, banyak yang lebih menderita, 6. Tidak mencari kambing hitam menyalahkan berbagai pihak karena yang lebih diperlukan adalah sikap dan tindakan yang tepat agar kita segera bebas dari wabah ini.
Yuk kita lakukan yang terbaik demi kita, demi keluarga kita, demi lingkungan kita, demi kota kita, dan demi Indonesia tercinta. (Y. Niken Sasanti)


Tinggalkan komentar

Sapaan Kepala SMPN 1 Yogyakarta

As.w.w. Salam sejahtera, syalom, om swastiastu, namo budaye. Bapak ibu guru dan karyawan yang berbahagia, Bapak ibu orang tua/wali murid yang berbahagia, Anak-anakku yang hebat, yang saya banggakan,  dan saya sayangi

Apa kabar? Semoga semuanya sehat, tetap semangat, optimis, dan gembira dalam aktivitas masing-masing. Marilah kita senantiasa bersyukur kepada Tuhan bahwasannya kita semua masih diperbolehkan menghirup nafas kehidupan, masih diperbolehkan berkumpul dengan orang-orang yang kita sayangi, dan masih boleh melakukan aktivitas kita meskipun dalam situasi dan  kondisi yang berbeda dari biasanya.

Bapak Ibu dan anak-anak yang berbahagia, saya selaku kepala SMP Negeri 1 Yogyakarta, mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya atas kerja sama yang baik antara keluarga dengan sekolah selama pandemi covid-19 ini. Bapak ibu guru tetap mengajar melalui pembelajaran online atau semi online. Karyawan tetap bekerja secara bergantian di sekolah. Anak-anak tetap belajar dengan baik di rumah, dan orang tua mendampingi anak-anak belajar. Selama di rumah, anak-anak juga bisa belajar dari berbagai sumber, misalnya dari materi yang disajikan bapak ibu guru, dari internet, dari televisi, maupun dari buku teks dan sumber lainnya.

Hal yang sungguh luar biasa adalah peningkatan kompetensi guru dan siswa serta intensitas hubungan yang lebih baik dalam keluarga. Bapak ibu guru terus belajar agar dapat menyajikan pembelajaran online yang menarik dan bermakna. Anak-anak berusaha memahami materi pelajaran dan mengerjakan tugas yang diberikan bapak ibu guru. Orang tua pun lebih banyak membimbing anak-anak di rumah. Harapannya intensitas hubungan orang tua dan anak-anak akan meningkat. Orang tua lebih sayang kepada anak-anak, demikian pula sebaliknya. 

Sebagai orang tua, bapak ibu mau tidak mau juga berpikir kreatif menciptakan kegiatan yang bisa dilakukan bersama-sama dalam keluarga, misalnya membaca, berolah raga, berkebun, memasak, bersih-bersih rumah, mendalami agama, bermain, menonton televisi, maupun kegiatan positif lainnya yang tercipta berkat adanya covid ini.

Bapak ibu serta anak-anak yang hebat. Di tengah pandemi covid-19 ini, mari kita bersama-sama memutuskan mata rantai penyebaran virus corona, mulai dari hal terkecil, selalu menjaga kebersihan, menggunakan masker saat bepergian, sedia selalu hand sanitizer saat bepergian, dan mengikuti anjuran pemerintah untuk stay di rumah.

Kita ingin wabah pandemi covid-19 cepat berlalu. Untuk itu, mari kita lakukan yang terbaik untuk kita, untuk keluarga kita, untuk lingkungan kita, untuk saudara-saudari kita, untuk Yogyakarta dan sekitarnya, dan untuk keutuhan Indonesia.

Tetap sehat, semangat, bahagia, dan berpikir positif!

Ws.w.w. Salam sejahtera, syalom, om swastiastu, namo budaye.

KepalaSMPN 1 Yogyakarta

Dra. Y. Niken Sasanti, M.Pd.


Tinggalkan komentar

Kisah Sahabatku, Guru-guru SMPN 1 Huamual (SMPN 2 Seram Barat)

Masih dalam suasana prihatin karena wabah covid-19, saat kami para guru di kota tiap hari sibuk melakukan pembelajaran online dan meng-up-grade keterampilan IT, sahabatku guru-guru di SMP Negeri 1 Huamual (SMPN 2 Seram Barat) punya kisah yang berbeda. Sekolah itu terletak di pesisir pantai, di Kabupaten Seram Bagian Barat, Pulau Seram, Maluku. Selama pandemi covid-19, murid-murid mereka juga belajar di rumah, namun bukan pembelajaran daring. Pembelajaran daring yang bisa dilaksanakan di kota (seperti kotaku) belum bisa dilaksanakan di sana. Jangankan lap top dan jaringan internet, hp saja jarang yang memiliki. Kalaupun mereka memiliki hp, daya beli pulsanya rendah. Oleh sebab itu, pembelajaran interaktif jarak jauh belum bisa mereka lakukan. Yang mereka lakukan adalah memberikan tugas kepada anak-anak untuk dikerjakan di rumah. Para guru yang mengalah, berkeliling dari rumah ke rumah untuk memberikan materi, tugas, dan pendampingan kepada murid-muridnya. Setelah tugas selesai dikerjakan, guru mengambil hasil pekerjaan siswa sambil memberikan materi dan tugas berikutnya. Jangan dibayangkan bahwa alat transportasi mudah dan rumah mereka dekat-dekat. Tidak semua guru memiliki sepeda motor padahal rumah murid-murid berjauhan. Guru-guru itu rela berjalan kaki ke rumah murid-muridnya demi mendampingi dan memantau anak-anak belajar. Jangan dikira mereka semua guru PNS atau guru Naban/guru Honda dengan penghasilan setara UMK. Sebagian besar dari mereka adalah guru honorer sekolah yang mendapatkan gaji tiga bulan sekali, yang besarnya mungkin lebih kecil daripada uang saku anak-anak kita. Meskipun demikian, mereka tetap bersemangat, gembira, dan menyayangi murid-muridnya. Saya kutip ucapan Bu Chaca Pikal, salah satu guru di sana, “Walau harus berjalan kaki berkeliling dari rumah ke rumah untuk menjalankan tugas tapi semangat mencerdaskan anak bangsa membuat langkah kaki begitu ringan, dan terselip rasa bangga dan bahagia selalu ada untuk menjadi penyemangat dalam mengukir lembaran kehidupan anak-anak ini,…. Mudah mudahan tetap semangat, dan tak jenuh dalam menjalankannya…. Semangat buat bapak ibu mentor…. SMP NEGERI 1 HUAMUAL…TETAP JAYA.”

Sungguh luar biasa pengabdian mereka. (Y. Niken Sasanti)


Tinggalkan komentar

Kasih Kakak

Pandemi Covid-19 yang merebak di Jakarta dan menjalar ke berbagai daerah di Indonesia membuat kami sebagai orang tua merasa khawatir. Betapa tidak, anak kami yang bungsu bekerja di Jakarta dan dia harus mengisolasi diri di kost-nya.Dia tinggal di Kemang, Jakarta Selatan. Perusahaan tempatnya bekerja menetapkan WFH, namun dia tidak mau pulang ke Yogya karena sayang pada kami orang tuanya. Dia takut membawa virus dari Jakarta yang malah akan menular kepada ayah ibunya.
Aku dan suami kadang saling mengungkapkan kecemasan kami akan pandemi yang entah kapan akan berakhir. Bagaimana anak kami mencari makanan di sekitar kost-nya apakah warung masih pada buka atau tidak. Meskipun anak kami selalu bilang bahwa dia sibuk WFH dan keadaannya baik-baik saja, sebagai orang tua kami tetap memikirkannya.
Rupa-rupanya kekhawatiran kami dibaca oleh anak sulung kami. Suatu siang sang kakak bilang, “Mama tenang aja, aku udah kirim paket makanan dari toko online ke adik.” Aku agak kaget, tidak mengira sekaligus malu. Kami hanya bisa khawatir dan khawatir saja tanpa tahu harus bagaimana, sedangkan sang kakak langsung bertindak. “Kamu kirim apa saja?” tanyaku. “Ya macam-macam, Ma, ada susu, sereal, oat, madu, popmie, kue-kue kering, vitamin.” Lagi-lagi aku terbelalak tidak mengira. Kusembunyikan rasa haruku. Ketika berita ini kusampaikan kepada suamiku, beliau senang sekali dan ingin segera mengganti uang yang dipakai untuk membelikan makanan itu. Namun, ternyata sang kakak tidak mau uangnya diganti.
Beberapa hari kemudian kutanya adiknya, “Dik, kiriman kakak sudah nyampai?” “Udah kumakan, Ma, hahaha.” “Apanya yang dimakan, Dik?” “Banyak, Ma, kan ada sereal, popmie, oat.” Meski aku tidak bertatap muka, aku bisa membayangkan kegembiraan anakku.
Terima kasih Tuhan, Engkau akan selalu menolong kami dengan banyak cara. (Y. Niken Sasanti)