Bilik Kata

Berbagi lewat bahasa, sastra, dan budaya


Tinggalkan komentar

MOU dengan Panti Rapih

Rabu, 29 Agustus 2018, SMP Negeri 1 Yogyakarta bersama Rumah Sakit Panti Rapih menandatangi MOU terkait kerja sama dalam bidang kesehatan. Pada kesempatan itu, Panti Rapih juga menyumbangkan obat-obatan yang bisa dimanfaatkan di UKS SMP Negeri 1 Yogyakarta. Semoga jalinan kerja sama ini bermanfaat untuk meningkatkan usaha kesehatan sekolah sehingga lingkungan sekolah maupun warga sekolah lebih sehat.

pt rapih mou


Tinggalkan komentar

Bertemu Kepala Sekolah dari Balikpapan

Pagi ini, di penghujung bulan Agustus yang berselimut mendung, aku mendapatkan berkah bisa bertemu dengan Bu Upik Supriyani, Kepala SMP 14 Balikpapan. Ceritanya, Bu Upik bersama rombongan MKKS Kota Balikpapan berkunjung ke SMP Negeri 15 Yogyakarta. Mereka studi banding tentang sekolah ramah anak dan PPK. Beberapa hari yang lalu Bu Upik mengontakku untuk ikut hadir di SMP Negeri 15. Bu Arina, Kepala SMP Negeri 15 tidak keberatan dengan kehadiranku, malahan Bu Arina membuat surat undangan untukku. Pucuk dicinta ulam tiba. Pada saat itu, hadir juga Bapak Rudi Darmawan mewakili Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta. Dari Balikpapan yang hadir Kepala Bidang Pembinaan SMP dan Ketua MKKS. Mereka juga memberiku kesempatan untuk membagikan pengalamanku meraih juara kasek berprestasi tingkat nasional. Semoga menginspirasi dan bisa memotivasi mereka. Semoga perjumpaan ini bermanfaat untuk semuanya. (Y. Niken Sasanti)


Tinggalkan komentar

Tahap-tahap Menuju Tendik Berprestasi Nasional 2018

Aku memiliki cita-cita membudayakan literasi di sekolah yang belum kesampaian saat aku menjabat kepala SMP Negeri 10 Yogyakarta. Maka, ketika aku dirotasi ke SMP Negeri 1 Yogyakarta, aku berusaha mewujudkannya. Selain aku memberdayakan warga sekolah, aku juga menjalin kerjasama secara sinergis, kolaboratif, dan integratif dengan stakeholder. Hasilnya berupa best practice yang menurutku cukup bagus. Dari belum ada budaya literasi menjadi ada, dari belum lengkap sarana prasarana literasi, sekarang menjadi lumayan lengkap, dari belum ada dukungan stakeholder, sekarang ada berbagai dukungan. Karya-karya yang dihasilkan juga cukup banyak, ada buku karya bersama siswa, guru, dan karyawan, ada majalah sekolah yang terbit secara rutin, ada majalah dinding konvensional maupun tiga dimensi. Sekolah juga memenangi berbagai lomba literasi, ikut karnaval literasi, ikut pameran literasi, bahkan mendapatkan berbagai apresiasi literasi dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta maupun dari Dirjen Dikdasmen. Selain itu, aku juga terus menulis, mempublikasikan tulisanku di majalah Candra, di koran, juga menerbitkannya dalam bentuk buku.

Semua proses dan hasilnya kutulis dalam bentuk karya best practice dan aku ikut dalam seleksi kepala sekolah berprestasi tingkat kota Yogyakarta yang dilaksanakan pada bulan April 2018. Puji syukur aku mendapat juara 1. Pada bulan Mei 2018 aku ikut lomba di tingkat DIY, hasilnya lagi-lagi aku menjadi juara 1. Sejak saat itu aku bersiap mengikuti pembinaan di Dikpora sebagai persiapan maju ke tingkat nasional.

Pembinaan di Dikpora DIY cukup intensif dan lengkap, meliputi berbagai materi lomba sesuai juknis, tentang karya tulis, presentasi, public speaking, bahasa Inggris, portofolio, kepribadian, sampai dengan talent show. Rasa lelah kusingkirkan dengan memompakan semangat yang tak henti-hentinya meskipun aku juga harus tetap melakukan tugas keseharian sebagai kepala sekolah. Apalagi sekolahku menghadapi akreditasi yang pelaksanaan visitasinya berbarengan dengan lombaku di Jakarta.

Berbagai persiapan kulakukan selangkah demi selangkah. Dari memperbaiki karya tulis, membuat powerpoint untuk presentasi, menyusun portofolio, membuat poster/banner, membuat video best practice, dan menyusun bukti fisik portofolio. Semua itu harus dikirimkan online melalui aplikasi yang sudah disediakan Kemdikbud. Sesudah itu, aku masih harus mempersiapkan perlengkapan yang lain, yaitu seragam batik, pakaian tradisional, jas, sepatu yang nyaman dipakai, sepatu olahraga, lap top, kopor, tas ransel, dan uang saku.

Tanggal 11 Agustus pagi-pagi kami rombongan DIY berangkat dengan pesawat Garuda menuju Jakarta. Sampai di Jakarta rombongan menuju hotel masing-masing karena penyelenggaranya ada 6 subdit yang berbeda. Rombonganku sebanyak 16 orang menuju hotel Millenium. Sampai di Hotel Millenium kami registrasi, kemudian kami mendapatkan baju batik, jas, dan baju olahraga. Sungguh lucu karena ukuran baju kadang-kadang tidak sesuai dengan orangnya. Ada yang kekecilan, ada yang kebesaran. Untungnya kami dari Yogyakarta sudah dipesan untuk membawa jas cadangan sehingga meskipun ukuran jas pemberian panitia tidak sesuai, kami tetap tenang.

Acara pembukaan dilaksanakan di hotel Sahid pada pagi hari tanggal 12 Agustus 2018. Seusai pembukaan, kami kembali ke hotel Millenium untuk mulai melaksanakan lomba-lomba. Berbagai mata lomba kami laksanakan sampai tanggal 14 Agustus 2018 dengan puncak lomba yaitu table topic. Tanggal 15 Agustus, malam hari, pengumuman lomba di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Puji syukur aku mendapatkan juara 1. Jerih payahku, kerja kerasku, konsistensiku dalam mebudayakan literasi di sekolah tidak sia-sia. Terima kasih Tuhan. (Y. Niken Sasanti)


Tinggalkan komentar

Lomba Tenaga Kependidikan Berprestasi 2018, Warna Warni nan Indah

Ajang Lomba Tenaga Kependidikan Berprestasi 2018 di Jakarta merupakan warna warni yang indah. Para peserta dari 34 provinsi di Indonesia berbaur dalam lomba yang menyenangkan. Niatnya lomba, namun yang kami dapat bukan sekadar kalah atau menang. Kami mendapatkan pengalaman yang sangat berharga. Kami mendapatkan wawasan pendidikan yang lebih luas. Kami banyak belajar dari sesama peserta maupun juri. Kami juga mendapatkan teman-teman baru yang semuanya hebat-hebat. Terima kasih kepada Bapak Mendikbud, harapan saya lomba ini dapat diteruskan dan semakin meningkat kualitasnya dari waktu ke waktu. Lomba ini bisa memberikan motivasi kepada para tenaga kependidikan di tanah air untuk memacu diri dalam meningkatkan kualitas kinerja yang lebih baik dari hari ke hari. Muaranya adalah pendidikan di Indonesia yang lebih maju, lebih berkualitas, membentuk insan Pancasilais, nasionalis, cerdas, dan berkarakter. (Y. Niken Sasanti)


Tinggalkan komentar

Upacara 17 Agustus 2018 di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Setelah aku diumumkan menjadi juara kepala SMP Berprestasi 2018 oleh Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Muhadjir Effendi, MAP, tentu yang kuharapkan adalah bisa ikut upacara 17-an di istana negara seperti juara-juara tahun sebelumnya. Ternyata karena sesuatu hal, untuk tahun ini, para juara tidak dapat ikut upacara di istana negara. Wah, kecewa tentu saja. Namun, kami tetap gembira dengan mengikuti upacara di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Harapanku untuk bersalaman dengan Bapak Presiden tertunda, namun aku masih bisa bersalaman dengan Bapak Menteri. Seusai upacara kami berfoto ria bersama para peserta upacara. Kebinekaan yang indah, kebersamaan yang tak terlupakan. Harapanku tahun depan, DIY bisa juara lagi di tingkat  nasional dengan prestasi yang lebih baik daripada sekarang. Terima kasih Tuhan. (Y. Niken Sasanti)

 


Tinggalkan komentar

Kepala SMP Berprestasi Tingkat Nasional 2018

Pada tanggal 11 sampai 18 Agustus 2018 kami, wakil tiap provinsi diundang ke Jakarta untuk mengikuti Pemilihan Tendik Berprestasi Tingkat Nasional 2018. Dari DIY, ada 31 orang yang mewakili provinsi untuk mengikuti seleksi tingkat nasional yang diselenggarakan oleh enam sub direktorat. Di Subdit Harlindung, ada 16 kategori yang dilombakan. Aku ikut dalam kategori Kepala SMP Berprestasi. Kami menginap di Hotel Milenium yang terletak di Tanah Abang.

Hari pertama di Milenium diisi kegiatan registrasi dan penjelasan-penjelasan oleh panitia. Dijelaskan bahwa lomba kali ini agak berbeda dari biasanya. Semua portofolio dan berkas yang menunjukkan kinerja manajerial  sudah dikirimkan melalui email maupun aplikasi online. Saat lomba akan lebih banyak dilihat kemampuaan sosial dan kepribadian. Para peserta yang pada umumnya berbekal dari juknis dan model penyelenggaraan tahun sebelumnya sempat terperangah. Benakku juga dipenuhi rasa ingin tahu, seperti apa bentuk lombanya nanti. Namun, aku optimis akan bisa melaluinya dengan baik dan akan berusaha semaksimal mungkin menunjukkan kemampuanku, demi mengibarkan nama Yogyakarta dan DIY.

Ternyata lombanya bukanlah semacam kompetisi dengan peserta lain, melainkan semua peserta berkompetisi dengan diri sendiri, harus berusaha menunjukkan kinerja dan performance terbaik. Kami seperti mengikuti dinamika kelompok, suasana santai, saling mendukung, saling menyemangati, benar-benar tidak terasa kalau sedang lomba. Menurut panitia, bentuk lomba ini mengadopsi bentuk seleksi guru berprestasi tingkat dunia.

Setelah melewati berbagai jenis kegiatan, tibalah hari ketiga atau hari terakhir lomba, yaitu berupa table topic. Dari setiap kategori dipilih lima nominasi untuk ikut dalam table topic. Satu per satu nama peserta dipanggil. Peserta yang dipanggil maju lalu mengambil gulungan kertas di toples yang berisi pertanyaan. Panitia akan membacakan pertanyaan, kemudian peserta diminta menjawab di hadapan audiens paling lama satu menit. Ada timer yang berbunyi mengiringi peserta menjawab pertanyaan. Cukup menegangkan. Ada peserta yang terampil berbicara dan menjawab pertanyaan dengan bagus tepat satu menit. Ada peserta yang grogi sehingga kurang lancar dalam menjawab pertanyaan. Ada peserta yang menjawab pendek sehingga masih banyak waktu tersisa. Aku sendiri awalnya kurang lancar dalam menjawab pertanyaan, mendadak ideku hilang dari kepala. Namun setelah berkonsentrasi sebenttar aku dapat melanjutkan menjawab pertanyaan dengan baik dan tepat satu menit.

Usai table topic, bukannya aku tenang, aku malah gelisah. Andai mungkin, aku ingin table topic diulang sehingga aku bisa menjawab pertanyaan dengan lebih baik. Meskipun demikian beberapa teman mengatakan bahwa jawabanku bagus. Entahlah, mungkin mereka hanya ingin menghibur. Pengumuman juara 1, 2, 3 akan dilaksanakan Rabu malam, itu berarti aku masih menunggu seharian. Malamnya ada talent show yang menampilkan kesenian daerah tiap provinsi. DIY mendapat giliran terakhir, yaitu pada pukul 23.00. Meski kami mendapat giliran terakhir dan penonton sudah berkurang, kami tetap tampil dengan semangat dan total.

Rabu pagi, saat teman-teman yang lain berjalan-jalan, berbelanja, atau kuliner di sekitar Jakarta, aku berdiam di kamar hotel dengan teman sekamarku. Kami tidak ke mana-mana, memanfaatkan waktu untuk istirahat, berdoa, dan saling mnghibur. Ada lima nominasi dan nanti hanya akan dipilih tiga orang. Tentu ini tidak mudah bagi siapa pun, sebab kelima nominator tentu ingin jadi juaranya dan mereka layak menjadi juara.

Hari Rabu malam adalah malam pengumuman bertempat di kantor Kemendikbud. Ternyata DIY menang dalam tujuh kategori, yaitu juara 3 pengawas TK, juara 3 pengawas SMP, juara 2 tenaga administrasi SMP, juara 2 pustakawan SMP, juara 2 kepala SD, juara 2 kepala SMA, dan juara 1 kepala SMP. Aku bahagia, haru, dan bangga menjadi juara 1, artinya harapanku untuk mengharumkan nama Yogyakarta dan DIY terkabul. Terima kasih Tuhan. Terima kasih semuanya. ( Y. Niken Sasanti)