Bilik Kata

Berbagi lewat bahasa, sastra, dan budaya


Tinggalkan komentar

Penyerahan Satya Lencana Karya Satya

Pada tahun ini beberapa guru SMP Negeri 1 Yogyakarta mendapatkan penghargaan Satya Lencana Karya Satya, baik yang 10 tahun, 20 tahun, dan 30 tahun. Penghargaan tersebut biasanya diserahkan oleh Bapak Walikota di Balai Kota. Namun untuk tahun ini langsung diserahkan ke sekolah dan Kepala Sekolah menyerahkan penghargaan tersebut kepada bapak dan ibu guru. Semoga dengan penghargaan tersebut, bapak ibu guru makin mantap mengabdikan dirinya di dunia pendidikan dan mau terus belajar agar meningkat kemampuannya dan makin terbuka wawasannya dalam mendidik putra putri bangsa. (Y. Niken Sasanti)

penyerahan satya lencana


Tinggalkan komentar

Pengenalan Lingkungan Sekolah

Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) di SMP Negeri 1 Yogyakarta berlangsung selama tiga hari yaitu tanggal 17, 18, dan 19 Juli 2017. Diawali dengan Hari Pertama Masuk Sekolah (HPS) pada tanggal 17 Juli. PLS berbeda dengan acara MOS. Dalam PLS siswa kelas VII dikenalkan dengan lingkungan sekolah dan diberikan informasi tentang tata tertib dan budaya di sekolah. Tidak ada labasis yang dalam MOS dikenal sebagai acara untuk mendisiplinkan siswa. Bahkan dalam PLS dihindari melibatkan senior atau kakak kelas. Meskipun demikian, di SMP Negeri 1 Yogyakarta, siswa kelas atas yang menjadi pengurus OSIS tetap dilibatkan dalam PLS untuk memandu adik-adik kelas namun dengan wanti-wanti agar mereka bersikap ramah dan bersahabat dengan adik-adik kelas. Acara PLS di SMP Negeri 1 Yogyakarta juga melibatkan hadirnya narasumber dari Kejaksaan Tinggi Yogyakarta untuk memberikan materi antikorupsi kepada para siswa baru. Selain itu, pada hari terakhir PLS, anak-anak diajak mengunjungi Perpustakaan Kota dan mengunjungi pameran pendidikan di Taman Pintar sebagai bagian dari kegiatan literasi. Semoga semua senang. (Y. Niken Sasanti)


Tinggalkan komentar

Tugas Fabel Kelas VIII

Kupu-Kupu Berhati Mulia
Sumber: http://www.dongeng.info
Dikisahkan pada suatu hari yang cerah ada seekor semut berjalan-jalan di taman. Ia sangat bahagia karena bisa berjalan-jalan melihat taman yang indah. Sang semut berkeliling taman sambil menyapa binatang-binatang yang berada di taman itu.
Ia melihat sebuah kepompong di atas pohon. Sang semut mengejek bentuk kepompong yang jelek dan tidak bisa pergi ke mana-mana.
“Hei, kepompong alangkah jelek nasibmu. Kamu hanya bisa menggantung di ranting itu. Ayo jalan-jalan, lihat dunia yang luas ini. Bagaimana nasibmu jika ranting itu patah?” Sang semut selalu membanggakan dirinya yang bisa pergi ke tempat ia suka. Bahkan, sang semut kuat mengangkat beban yang lebih besar dari tubuhnya. Sang semut merasa bahwa dirinya adalah binatang yang paling hebat. Si kepompong hanya diam saja mendengar ejekan tersebut. Pada suatu pagi sang semut kembali berjalan ke taman itu. Karena hujan, genangan lumpur terdapat di mana-mana. Lumpur yang licin membuat semut tergelincir dan jatuh ke dalam lumpur. Sang semut hampir tenggelam dalam genangan lumpur itu. Semut berteriak sekencang mungkin untuk meminta bantuan. “ Tolong, bantu aku! Aku mau tenggelam, tolong…, tolong…!” Untunglah saat itu ada seekor kupu-kupu yang terbang melintas. Kemudian, kupu-kupu menjulurkan sebuah ranting ke arah semut. “Semut, peganglah erat-erat ranting itu! Nanti aku akan mengangkat ranting itu.” Lalu, sang semut memegang erat ranting itu. Si kupu-kupu mengangkat ranting itu dan menurunkannya di tempat yang aman. Kemudian, sang semut berterima kasih kepada kupu-kupu karena kupu-kupu telah menyelamatkan nyawanya. Ia memuji kupu-kupu sebagai binatang yang hebat dan terpuji. Mendengar pujian itu, kupu-kupu berkata kepada semut. “Aku adalah kepompong yang pernah kau ejek,” kata si kupu-kupu. Ternyata, kepompong yang dulu diejek sudah menyelamatkan dirinya. Akhirnya, sang semut berjanji kepada kupu-kupu bahwa dia tidak akan menghina semua makhluk ciptaan Tuhan yang ada di taman itu.
Dimodifikasi dari “Semut yang Sombong” dalam 50 Cerita Fabel Dunia

Berikut ini terdapat beberapa pertanyaan tentang isi teks. Untuk mengetahui pemahamanmu tentang teks fabel “Kupu-Kupu Berhati Mulia” tersebut, kamu dapat menjawab beberapa pertanyaan berikut.

1. Siapa tokoh dalam cerita itu?

2. Apa masalah yang muncul dalam teks tersebut?

3. Apa yang dirasakan para tokoh dalam teks itu?

4. Mengapa si semut dikatakan sombong dan si kupu-kupu dikatakan berhati mulia?

5. Sebutkan contoh kebaikan dan kejelekan dari sifat tokoh-tokoh dalam teks itu!

6. Coba sebutkan satu kebaikan dan satu kejelekan yang pernah kamu lihat di lingkunganmu? Bagaimana sikap kamu melihat hal itu?

7. Setujukah kamu jika terjadi musibah, kita harus saling membantu? Mengapa hal itu kita lakukan?

8. Kepompong mewakili sebuah siklus kehidupan. Saat menjadi kepompong, dia hanya diam dan tidak bisa pergi ke mana-mana. Selanjutnya, dia bahagia saat menjadi kupu-kupu. Begitulah kehidupan. Bagaimana pendapat kamu tentang hal itu?

Sumber: Bahasa Indonesia Wahana Pengetahuan Mts/SMP Kelas VIII (Teks dan pertanyaan ini disalin di blog karena pada saat ini buku untuk siswa yang dipesan belum datang padahal para siswa harus segera menggunakan buku tersebut)

Tugas Lanjutan 1:

Anak-anak, pada waktu kelas VII kalian sudah memperlajari tentang struktur fabel. Coba analisislah struktur fabel di atas menurut bagian-bagiannya (orientasi, komplikasi, resolusi, dan koda).

Tugas Lanjutan 2:

Anak-anak, tahukah kalian yang disebut kata kerja transitif? Apa bedanya dengan kata kerja intransitif? Kata kerja transitif adalah kata kerja yang diikuti objek, sedangkan kata kerja intransitif adalah kata kerja yang tidak diikuti objek. Tuliskan kata kerja transitif dan intransitif yang ada pada teks fabel tersebut (masing-masing sepuluh)!

Tugas Lanjutan 3:

Tuliskan minimal lima kalimat aktif transitif yang ada pada teks fabel tersebut! Sesudah itu ubahlah menjadi kalimat pasif!

 


Tinggalkan komentar

Baksos yang Menyatukan

Baksos kesehatan yang diadakan di SMP Negeri 1 Yogyakarta pada tanggal 22 dan 23 Juli 2017 menjadi kegiatan yang menyatukan banyak orang. Ada siswa, guru, karyawan, alumni, para dokter dan tenaga medis, karyawan jamkesos, PMI, dan masyarakat. Kalau ditotal yang hadir selama dua hari itu ada seribu orang lebih. Seluruh panitia dan warga sekolah terlihat gembira bekerja sama dalam baksos. Tak lupa panitia menyediakan berbagai macam kudapan, makanan, dan minuman sehat. Untuk peserta donor darah, ada cinderamata kaos dari KR. (Y. Niken Sasanti)

 

 

baksos perhati


Tinggalkan komentar

Ceria Bersama Guru dan Karyawan

Hari Minggu saatnya kumpul dengan keluarga. Namun tidak demikian pada Minggu 23 Juli 2017 yang lalu. Kami harus tetap hadir di sekolah untuk mendukung kegiatan bakti sosial kesehatan yang diadakan oleh alumni bekerja sama dengan sekolah dan berbagai pihak. Meski hari Minggu harus berada di sekolah, tidak mengurangi kegembiraan teman-teman, apalagi baksosnya memang asyik dan diminati masyarakat. Keceriaan itu tampak dalam foto bersama ini.


Tinggalkan komentar

Soto Pak Dewo

Bila Anda melewati Jalan C. Simanjuntak, sesudah Mirota Kampus dan MK Fashion, Anda akan menjumpai warung Soto Kudus Pak Dewo. Meskipun namanya adalah warung soto kudus, yang disajikan bukan hanya soto kudus, melainnya banyak lagi menu lain, misalnya soto daging, rawon, lele, maupun ayam. Pemiliknya adalah Pak Dewo, yang juga alumnus SMP Negeri 1 Yogyakarta. Dalam acara Baksos tanggal 23 Juli 2017 di SMP Negeri 1 Yogyakarta, Pak Dewo memberikan 150 mangkuk soto kudus gratis kepada panitia maupun tenaga medis yang terlibat dalam baksos kesehatan tersebut. Terima kasih Pak Dewo atas sotonya. Semoga makin laris. (Y. Niken Sasanti)


Tinggalkan komentar

Cerita Fabel

Anak Burung Bangau dan Seekor Ketam

Pengarang: Anonim

Kategori: Fabel

Alkisah, pada zaman dahulu terdapat sebuah danau indah berair jernih dan ditumbuhi pohon-pohon teratai yang senantiasa berbunga sepanjang masa. Di sekeliling danau itu pun tidak kalah indahnya karena ditumbuhi oleh pohon-pohon rindang yang berjejer rapi. Suasana seperti ini tentu saja menarik perhatikan makhluk hidup yang ada di sekitarnya. Salah satu di antaranya adalah burung bangau yang selalu selalu datang ke tepian danau untuk menangkap ikan-ikan kecil, ketam atau katak.

Seiring dengan berlalunya waktu, usia Sang Burung pun semakin tua dan fisiknya semakin melemah. Dia tidak segesit dulu lagi dalam menangkap buruannya, baik ikan, ketam atau pun katak. Bahkan, sering ia tidak memperoleh satu pun hasil buruan, sehingga seharian tidak makan.

“Kalau begini terus, aku bisa mati kelaparan. Aku harus mencari cara agar memperoleh makanan dengan mudah,” pikir Sang Burung Bangau.

Setelah berpikir agak lama akhirnya ia menemukan suatu ide dengan berpura-pura termenung di tepi danau seakan tidak bergairah untuk mencari mangsa. Tujuannya adalah agar para penghuni danau menjadi bingung dan menghampiri untuk menanyakan keadaannya.

Ternyata siasat Sang Bangau berhasil. Tidak berapa lama dia duduk termenung, dari arah kejauhan datanglah seekor katak. Setelah agak dekat Si Katak berkata, “Hai Bangau, mengapa engkau hanya duduk termenung dan terlihat murung?”

Dengan cerdik Sang Bangau menjawab, “Aku sedang memikirkan nasib kita yang menghuni danau ini.”

“Ada apa dengan nasib kita? Setahuku, dari dulu hingga sekarang para penghuni di danau ini baik-baik saja,” kata Si Katak.

“Engkau yang hanya tinggal di air tentu saja tidak tahu. Aku yang selalu terbang ke mana-mana sering sekali mendengar manusia sedang berbincang tentang bencana kekeringan yang akan menimpa kawasan ini dalam beberapa bulan mendatang. Tanda-tandanya dapat engkau lihat sendiri kan? Akhir-akhir ini hari semakin panas dan hujan pun sudah lama tidak turun. Aku khawatir danau ini akhirnya mengering dan semua penghuni di dalamnya akan mati,” kata Sang Bangau panjang lebar.

Mendengar penjelasan Sang Bangau tadi Si Katak hanya mengangguk-anggukan kepalanya sebagai tanda persetujuan. Dan setelah berpamitan, tanpa membuang waktu lagi Si Katak langsung melompat ke dalam danau untuk memberitahukan kepada teman-temannya.

Singkat cerita, berita ancaman kekeringan karangan Sang Bangau tersebar cepat sekali ke seluruh penjuru danau. Sebagian besar penghuninya menjadi resah dan gelisah. Mereka lalu mendatangi Sang Bangau untuk meminta penjelasan akan kebenaran berita tersebut.

Setelah berhadapan langsung dengan Sang Bangau, salah satu di antara mereka, Ikan Haruan, memberanikan diri untuk bertanya, “Apakah betul apa yang engkau katakan pada Si Katak mengenai bencana kekeringan yang akan melanda danau ini, hai Sang Bangau?”

“Yang aku dengar dari pembicaraan para manusia memang begitu adanya,” jawab Sang Bangau.

“Apakah engkau dapat membantu kami mengatasi masalah ini?” tanya yang lain.

“Sebenarnya ada satu cara untuk mengatasinya, tetapi aku khawatir kalian semua tidak akan setuju,” jawab Sang Bangau bersiasat.

“Cara apakah itu?” tanya Ikan Haruan dengan tidak sabar.

“Tidak jauh dari sini ada sebuah danau lagi yang sangat besar. Danau itu adalah tempat bermuaranya beberapa sungai besar sehingga akan selalu ada airnya walau berbulan-bulan tidak turun hujan. Apabila kalian dapat berpindah ke danau itu, niscaya masalah kekeringan tidak akan lagi terlintas dalam pikiran,” kata Sang Bangau berbohong.

“Lalu, bagaimana caranya agar kami semua dapat pindah ke danau itu?” tanya beberapa ikan yang lain.

“Tidak ada jalan yang menghubungkan danau ini dengan danau yang aku ceritakan tadi. Satu-satunya cara hanyalah dengan membawa kalian terbang bersamaku. Tetapi karena kemampuanku yang terbatas, aku hanya dapat mengangkut kalian satu persatu. Itu pun kalau kalian percaya padaku. Bagaimana?” Sang Bangau balik bertanya.

Suasana seketika menjadi hening sejenak. Para ikan, ketam dan katak berada pada suatu dilema yang sulit untuk dipecahkan. Di satu sisi mereka merasa harus segera pindah ke danau lain agar tidak mati ketika danau menjadi kering. Namun di sisi yang lain, untuk dapat pindah tersebut mau tidak mau harus ikut Sang Bangau yang notabene adalah predator yang biasa memakan hewan-hewan sejenis mereka.

“Bagaimana?” tanya Sang Bangau sekali lagi.

Karena lebih takut mati apabila terjadi kekeringan, tanpa berpikir panjang lagi mereka pun setuju dengan saran Sang Bangau. Satu per satu mereka diangkut menuju danau hasil imajinasi Sang Bangau. Namun saat sampai di sebuah batu besar ikan yang dibawa dihempaskan hingga mati kemudian dimakannya. Selesai memakan satu ikan ia kembali lagi untuk “mengangkut” ikan yang lainnya. Begitu seterusnya hingga tiba giliran si ketam atau kepiting.

Tidak seperti ikan yang diangkut oleh Bangau menggunakan paruhnya, ketam lebih memilih menggunakan sapitnya sendiri untuk bergantung pada leher Bangau. Saat mereka terbang mendekati batu besar, Sang Ketam melihat banyak sekali tulang ikan berserakan. Sontak saja dia menjadi cemas dan langsung berprasangka bahwa itu adalah ulah Sang Bangau. Sang Ketam langsung memutar otak agar dapat meloloskan diri dari Sang Bangau.

Sambil berpegangan erat pada leher Bangau, Ketam berkata, “Di manakah letak danau itu?”

Bangau pun tergelak dengan terbahak-bahak lalu berkata, “Danau itu hanya khayalanku saja. Yang nyata, sekarang engkau akan menjadi makananku yang paling lezat!”

Dengan perasaan geram dan marah Sang Ketam langsung menjepit dengan lebih kuat lagi sehingga Sang Bangau sukar untuk bernapas. Sambil tersengal-sengal dan terbang semakin rendah ia memohon pada Sang Ketam agar mengendurkan jepitannya dan berjanji akan menghantarkannya pulang. Namun Sang Ketam tidak mempedulikannya dan bahkan semakin memperkuat jepitan sapitnya hingga leher Bangau akhirnya putus dan mati saat itu juga. Setelah mati, kepala Sang Bangau diseret oleh Ketam menuju danau untuk diperlihatkan kepada seluruh penghuni danau.

Sesampainya di danau, para penghuni yang telah mengantri menunggu giliran diangkut menjadi kaget dan sekaligus marah pada Sang Ketam. Mereka mengira kalau Ketam bermaksud ingin membinasakan mereka semua dengan cara menghabisi sang transporter yang akan mengantarkan ke danau “impian”. Namun, setelah Sang Ketam menceritakan secara detil seluruh kejadian yang dialaminya bersama Sang Bangau, para penghuni danau menjadi maklum. Mereka bahkan mengucapkan terima kasih kepasa Sang Ketam karena telah diselamatkan dari ancaman maut Sang Bangau.

Sumber: http://www.rumahdongeng.com (diunduh tanggal 25 Juli 2017, pk 18.05)

Bacalah fabel tersebut, kemudian jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut!

  1. Siapa sajakah tokoh dalam fabel tersebut?
  2. Bagaimana karakter tiap-tiap tokoh dalam fabel tersebut?
  3. Sebutkan seting/latar cerita tersebut!
  4. Apa permasalahan yang terjadi dalam cerita tersebut?
  5. Apa yang dikatakan bangau yang membuat katak takut?
  6. Apa dilema yang membuat penghuni danau bingung?
  7. Apa yang dilakukan bangau kepada ikan-ikan?
  8. Apa yang dilakukan ketam kepada bangau?
  9. Bagaimana akhir cerita tersebut?
  10. Pesan moral apa yang dapat kalian simpulkan dari cerita tersebut?

 

Semut dan Belalang

Pengarang: Anonim

Kategori: Fabel

Pada siang di akhir musim gugur, sebuah keluarga semut yang telah bekerja keras mengumpulkan makanan sepanjang musim panas, mengeringkan butiran-butiran gandum yang telah mereka kumpulkan. Saat itu seekor belalang yang kelaparan, dengan sebuah biola di tangannya datang dan memohon dengan sangat agar keluarga semut itu memberikan sedikit makan untuk dirinya.

“Apa!” teriak sang Semut dengan terkejut. “Tidakkah kamu telah mengumpulkan dan menyiapkan makanan untuk musim dingin yang akan datang ini? Selama ini apa saja yang kamu lakukan sepanjang musim panas?”

“Saya tidak mempunyai waktu untuk mengumpulkan makanan,” keluh sang Belalang. “Saya sangat sibuk membuat lagu, dan sebelum saya sadari, musim panas pun telah berlalu.”
Semut tersebut kemudian mengangkat bahunya karena menahan marah.

“Membuat lagu katamu ya?” kata sang Semut, “Baiklah, sekarang setelah lagu tersebut telah kamu selesaikan pada musim panas, sekarang saatnya kamu menari!”
Kemudian semut-semut pun membalikkan badan dan melanjutkan pekerjaan mereka tanpa memperdulikan sang Belalang lagi.

Sumber: http://www.rumahdongeng.com (diunduh tanggal 25 Juli 2017, pk 18.40)

Tugas: Lanjutkan cerita di atas dengan kreasimu sendiri, minimal 3 paragraf. Kalian boleh menghadirkan tokoh lain selain semut dan belalang.

Anak Kera dan Ayam

Pengarang: Anonim

Kategori: Fabel

Pada zaman dahulu, tersebutlah seekor ayam yang bersahabat dengan seekor kera. Namun persahabatan itu tidak berlangsung lama, karena kelakuan si kera. Pada suatu petang Si Kera mengajak si ayam untuk berjalan-jalan. Ketika hari sudah petang si Kera mulai merasa lapar. Kemudian ia menangkap si ayam dan mulai mencabuti bulunya. Si ayam meronta-ronta dengan sekuat tenaga. Akhirnya, ia dapat meloloskan diri.

Ia lari sekuat tenaga. Untunglah tidak jauh dari tempat itu adalah tempat kediaman si Kepiting. Si kepiting adalah teman sejati darinya. Dengan tergopoh-gopoh ia masuk ke dalam lubang kediaman si Kepiting. Di sana ia disambut dengan gembira. Lalu si ayam menceritakan semua kejadian yang dialaminya, termasuk penghianatan si kera.

Mendengar hal itu akhirnya si Kepiting tidak bisa menerima perlakuan si kera. Ia berkata, “Marilah kita beri pelajaran kera yang tahu arti persahabatan itu.” Lalu ia menyusun siasat untuk memperdayai si kera. Mereka akhirnya bersepakat akan mengundang si kera untuk pergi berlayar ke pulau seberang yang penuh dengan buah-buahan. Tetapi perahu yang akan mereka pakai adalah perahu buatan sendiri dari tanah liat.

Kemudian si ayam mengundang si kera untuk berlayar ke pulau seberang. Dengan rakusnya si kera segera menyetujui ajakan itu. Beberapa hari berselang, mulailah perjalanan mereka. Ketika perahu sampai ditengah laut, mereka lalu berpantun. Si ayam berkokok “Aku lubangi ho!!!” Si Kepiting menjawab “Tunggu sampai dalam sekali!!”

Setiap kali berkata begitu maka si ayam mencotok-cotok perahu itu. Akhirnya perahu mereka itu pun bocor dan tenggelam. Si Kepiting dengan tangkasnya menyelam ke dasar laut. Si ayam dengan mudahnya terbang ke darat. Tinggallah Si kera yang meronta-ronta minta tolong. Karena tidak bisa berenang akhirnya ia pun mati tenggelam.

Sumber: http://www.rumahdongeng.com (diunduh tanggal 25 Juli 2017, pk 18.57)

Tugas: Setelah membaca fabel Anak Kera dan Ayam, kerjakan soal berikut!

  1. Sebutkan tokoh-tokoh dalam fabel tersebut!
  2. Tuliskan karakter tokoh-tokoh tersebut!
  3. Siapakah tokoh yang paling menarik menurut kamu? Tuliskan alasanmu!
  4. Apa hal-hal buruk yang tidak dapat diteladani dari cerita tersebut?
  5. Adakah hal baik yang kautemukan dari cerita tersebut? Sebutkan!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Tinggalkan komentar

Nampang di Joko Lodang Edisi 22 Juli 2017

Beberapa hari yang lalu seorang teman dari Gunung Kidul, yaitu Pak Yohannes Wiyana mengabariku melalui WA bahwa namaku ada di Majalah Berbahasa Jawa, Joko Lodang, tanggal 22 Juli 2017. Sekolahku memang berlangganan majalah tersebut, namun saat kucari majalahnya belum ada, belum datang kata Pak Beja, salah satu karyawan di sekolahku. Beberapa hari kemudian, Pak Beja mengantarkan majalah itu di ruanganku. Segera kubali-balik halamannya dengan rasa penasaran. Waktu dikabari Pak Wiyana aku memang tidak menanyakan lebih jauh, kupikir lebih baik aku menanti majalahnya. Akhirnya ketemu, ternyata Pak Wiyanalah penulisnya. Dia menulis berita tentang Aksi dan Apresiasi Literasi di Kota Yogyakarta beberapa waktu yang lalu. Saat itu aku bersama 7 orang lainnya mendapatkan  apresiasi literasi dari Bapak Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, yaitu Drs. Edy Heri Suasana, M.Pd. Tak kukira, akhirnya aku memiliki dokumentasi kegiatan tersebut. Terima kasih Pak  Wiyana. (Y. Niken Sasanti)


Tinggalkan komentar

Berita Baksos di KR, 23 Juli 2017

Berita tentang baksos hari pertama, tanggal 22 Juli 2017 dimuat di Kedaulatan Rakyat tanggal 23 Juli 2017 halaman 2. Senang sekali rasanya, acara di sekolahku dipublikasikan di media cetak yang banyak dibaca orang. Terlebih-lebih kegiatan baksos itu dikunjungi oleh pejabat yaitu Bapak Hamid Muhammad selaku Dirjen Dikdasmen. Turut mendampingi kasek menyambut Pak Dirjen adalah Bapak Kepala Dinas Pendidikan dan Ketua PASTU. Terima kasih kepada semua pihak yang telah mewujudkan acara ini. Spesial terima kasih buat Bapak Edy Heri Suasana, Bapak Gun Samawi dan Mas Joko Saptono. Thanks for all. (Y. Niken Sasanti)

dirjen dikdasmen