Bilik Kata

Berbagi lewat bahasa, sastra, dan budaya


Tinggalkan komentar

Hening Terkoyak Denging

(Cerita pengalaman seorang sahabat yang telinganya berdenging)

Pada bulan April tahun 2015 Tisan merasa sedih karena terganggu dengan suara berisik di telinganya. Sebelum menyadari bahwa suara itu berasal dari telinganya, Tisan mencari-cari suara yang mendenging mirip dengan suara-suara peralatan elektronika seperti alat pendingin, kulkas, komputer, dan sebagainya. Kebetulan di ruang kerja Tisan ada seperangkat komputer dan cctv. Kecurigaan bahwa suara itu dari telinganya muncul saat Tisan berada di kamar sendirian yang jauh dari segala peralatan elektronik, kok suara itu muncul juga. Saat itulah Tisan sadar bahwa suara-suara itu berasal dari telinganya sendiri. Karena belum pernah mendengar kasus seperti itu, Tisan tenang aja, berniat ke dokter, pasti nanti ada jalan keluar dan telinga kembali normal.

Suatu sore Tisan ikut arisan ibu-ibu di kampungnya. Tisan sempat bercerita kepada Mia sahabatnya tentang gangguan di telinganya. Tak disangka Mia mengatakan bahwa hal itu bisa jadi pertanda penyakit serius di kepala, mungkin gangguan di otak, tumor, dan sebagainya. Lalu Mia menyarankan Tisan untuk segera berobat. Kata-kata sahabatnya itu membuat Tisan ketakutan dan sedih.

Beberapa hari kemudian, Tisan meluangkan waktu berobat ke dokter spesialis THT di sebuah rumah sakit terkenal. Dokter yang mengobati Tisan kebetulan seorang profesor yang sudah cukup tua, mungkin 70 tahun usianya. Salah seorang perawat yang ada di situ mengatakan bahwa dokter tersebut bagus dan sudah berpengalaman. Tisan menjadi mantap berobat. Saat bertemu dokter itu Tisan menceritakan semua gangguan yang dialami. Dokter memeriksa dengan cermat telinga kiri dan kanan Tisa. Tisan juga mengatakan bahwa dia penderita gangguan tiroid (hipotiroid) barangkali saja ada kaitannya dengan sakit telinganya. Dokter lantar membersihkan telinga Tisan dengan alat. Saat itulah Tisan merasakan tidak nyaman karena dokter itu melakukannya dengan agak keras. Telinga Tisan terasa sakit dan sangat tidak nyaman. Tisan melihat dokter itu mengusapkan kapas ke telinganya, saat itu Tisan melihat bahwa ada darah dari telinganya. Dokter mengatakan bahwa telinga Tisan meradang dan perlu antibiotik. Dokter meresepkan cukup banyak obat, ada enam macam obat yang diminum dan satu macam obat yang diteteskan di telinga.

Tisan pulang dengan perasaan sedih karena setelah telinganya dibersihkan, bunyi di telinganya tidak menghilang. Masih juga mendenging. Tapi Tisan percaya bahwa dokter memberikan obat yang baik untuknya. Telinganya yang kiri masih berdarah. Bahkan bila tidur miring ke kiri, darahnya menetes sampai ke bantal. Setiap hari diminumnya obat yang diresepkan dokter sambil berharap telinganya segera sembuh. Tisan juga membuka-buka internet untuk melihat kasus-kasus sakit telinga. Hasilnya membuat Tisan makin sedih karena cukup banyak kasus sakit telinga berdenging yang tidak dapat disembuhkan. Sakit itu sembuh tetapi telinga masih tetap berdenging.

Selama seminggu darah masih menetes di telinga yang habis dikorek-korek dokter. Di kantor pun darah itu masih menetes. Akhirnya saat obat habis, Tisan kembali ke dokter itu lagi. Dokter kembali mengorek telinga yang menyebabkan darah keluar lagi. Tisan merasa tidak nyaman dan menjadi ragu-ragu dengan dokter itu. Tisan sempat berkomunikasi dengan salah seorang adik Tisan, yaitu Dera  yang kebetulan menjadi dokter juga. Dera sudah mengingatkan bahwa dokter-dokter THT yang sudah tua sering melakukan malpraktik. Bisa jadi Tisan menjadi korban malpraktik mengingat ketidaknyamanan saat berobat.

Karena trauma dengan dokter THT itu, Tisan enggan datang lagi. Tisan memilih beradaptasi dengan bunyi nging di telinganya. Ternyata adik Tisan yang lain, yaitu Lala juga pernah bermasalah dengan telinganya. Bahkan bunda Tisan juga pernah bermasalah dengan telinganya. Tapi dua-duanya bisa teratasi. Bunda Tisan tidak sakit, hanya ada kotoran di telinganya yang sulit dikeluarkan karena sudah mengeras. Sedangkan Lala, telinganya ada jamurnya dan sudah diatasi dokter dengan obat antijamur. Akhirnya Tisan memilih mendiamkan saja sakitnya dan tidak kembali ke dokter.

Dengan telinga berdenging, Tisan melakukan aktivitas seperti biasa. Mula-mula memang terganggu apalagi saat sendirian di tempat yang sepi, bunyi itu akan terasa lebih keras. Kalau dipakai untuk aktivitas bunyi itu tersamarkan oleh suara-suara lain. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, telinga yang berdenging terus berdenging. Aktivitas Tisan juga berjalan seperti biasa. Tisan bahkan sempat pergi ke Jakarta, Bali, Makasar dengan naik pesawat. Tisan sudah bisa beradaptasi dengan sakit telinganya dan semua itu tidak menghalangi untuk beraktivitas apa pun. Tak terasa telinga berdenging itu sudah berlangsung setahun lebih.

Pada bulan September 2016, suatu malam tiba-tiba Tisan merasakan ketidaknyamanan di telinga kanan. Rasanya seperti habis kemasukan air. Oh, mungkin karena ada radang di saluran THT mengingat beberapa hari ini Tisan mengalami hidung tersumbat dan sedikit pilek. Beberapa hari tidak sembuh, Tisan lantas ke dokter umum. Dokter umum memberikan obat untuk pasien flu ditambah antibiotik untuk menyembuhkan radang. Sampai obat habis, telinga tak kunjung bolong, ada rasa tidak nyaman.

Bersamaan dengan itu Tisan menerima kabar dari Lala, adiknya, bahwa telinga Lala kembali bermasalah. Lala sudah berobat ke tiga orang dokter THT dan sudah menghabiskan jutaan rupiah, telinganya tak kunjung sembuh juga. Tisan sedih memikikan sakitnya dan sakit adiknya. Padahal beberapa waktu yang lalu, adik nomor empat yaitu Dana sakit juga, adik nomor lima yaitu Ning juga sakit. Bunda Tisan pun karena sudah sepuh juga kadang mengalami gangguan kesehatan.

Tisan memutuskan ke dokter lagi. Karena Tisan seorang PNS dan memiliki BPJS, Tisan mencoba berobat dengan BPJS. Dokter merujuk Tisan ke rumah sakit Faskes tingkat II. Di situ Tisan mendaftar ke ahli THT dan mendapat jawaban bahwa antrean masih seminggu lagi. Dokternya hanya satu dan antrean amat banyak sehingga pasien harus sabar mengantre sampai seminggu. Tisan mendaftar saja karena belum terpikir hal lain. Duh, ternyata menggunakan BPJS tidak simpel. Lagi pula selama 26 tahun Tisan mengiur untuk asuransi kesehatan, begitu mau menggunakan jadi ribet seperti ini sungguh tidak menyenangkan. Pasien tidak boleh langsung ke rumah sakit besar yang dokternya banyak. Bagaimana mungkin seorang yang sakit dan membutuhkan pertolongan dokter harus antre seminggu baru bisa bertemu dengan dokternya. Kalau sakitnya parah bisa tak tertolong bahkan keburu meninggal. Jadi selama ini Tisan iuran askes untuk mensubsidi orang lain yang sakit. Tak mengapalah. Seterusnya mensubsidi juga tak mengapa namun kalau bisa seterusnya sehat.

Dalam perjalanan pulang, Tisan memiliki ide untuk berobat saja langsung ke rumah sakit tanpa BPJS. Ternyata berobat langsung tanpa BPJS lebih mudah dan cepat. Tisan juga mendapatkan dokter spesialis THT yang masih muda dan teliti. Semua trauma yang dialami Tisan dengan dokter THT lama bisa terhapus karena dokter yang ini lebih hati-hati dan halus dalam memeriksa telinga Tisan. Dokter mendiagnosis ada gangguan asam lambung dari perut Tisan yang naik sampai mengganggu saluran THT dan menyebabkan telinga tidak nyaman. Tisan lalu diberi obat untuk meredakan asam lambung dan akan diobservasi selama dua minggu.

Sampai hari ini gangguan di telinga Tisan belum reda. Seperti yang sudah-sudah, Tisan hanya bisa berdoa dan berpasrah semoga kali ini dokter yang menangani Tisan bisa menjadi perantara Tuhan dalam menyembuhkan Tisan. Memang kesembuhan itu tidak serta merta. Kesembuhan itu memerlukan proses bisa pendek bisa panjang. Kesembuhan itu harus disertai usaha dn kesabaran yang terus-menerus. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Bila Tuhan hendak menyembuhkan, pasti segala sakit bisa mereda dan sembuh.

Kadang di pagi hari saat Tisan berdoa, suara itu begitu keras mendenging. Saat itu Tisan merasakan bahwa apa yang diterima itu suatu anugerah yang perlu disyukuri juga. Masih mending ada banyak suara yang masuk ke telinga daripada tidak ada suara sama sekali yang dapat ditangkap oleh telinga alias budeg total. (Y.Niken Sasanti)

p_20160120_102641


Tinggalkan komentar

Orientasi PPL untuk Mahasiswa UPSI Malaysia di UNY

Pada hari Selasa 20 September 2016 di Ruang Senat 2 UNY berlangsung acara Orientasi PPL untuk Mahasiswa Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) Malaysia. Aku sebagai Kepala SMP Negeri 1 Yogyakarta diminta menjadi salah satu pembicara pada kesempatan tersebut karena dua di antara lima mahasiswa tersebut akan melaksanakan PPL di SMP Negeri 1 Yogyakarta. Mereka akan diserahkan ke sekolah pada hari Rabu, 21 September 2016 dan mereka akan melaksanakan PPL sampai dengan tanggal 18 November 2016.


Tinggalkan komentar

Berbagi di Insipro PBSI Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Pada tanggal 17 September yang lalu aku diundang ke Universitas Sanata Dharma dalam acara Inisiasi Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Tahun 2016. Aku diminta berbicara sebagai salah satu alumnus prodi tersebut untuk memberikan motivasi kepada mahasiswa baru.

Memang 33 tahun yang lalu, yaitu tahun 1988 aku lulus dari prodi PBSI yang waktu itu bernama Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Sudah begitu lama ternyata. Pada saat itu hadir tiga orang dosen, yaitu Dr. Yuliana sebagai kaprodi, Dr. Kunjono sebagai wakaprodi, dan Dr. J. Karmin. Pak Karmin yang dulu menjadi dosenku ternyata masih bugar. Senang sekali, berbagi sekaligus bernostalgia.

Aku membagikan pengalamanku menjadi seorang guru yang berstatus pegawai negeri. Kudorong dan kuberikan motivasi bahwa profesi guru itu patut disyukuri karena menyenangkan dan menjanjikan. Menyenangkan karena profesi ini memiliki deskripsi tugas yang jelas, risikonya relatif kecil, secara finansial mencukupi, dan masih dihargai masyarakat. Kalau pun masih ada guru-guru yang menjadi korban tindakan yang kurang menyenangkan, hal itu bisa jadi karena kurang adanya jalinan komunikasi yang baik, antara guru dengan siswa, dengan orang tua, maupun dengan masyarakat.

Menurutku keberhasilan profesi guru ditopang oleh tiga hal, yaitu kemampuan akademik, kemampuan mendidik, dan kepribadian yang mantap. Aku berharap para mahasiswa baru giat belajar agar setelah lulus nanti memiliki bekal yang cukup mengenai materi, ilmu mendidik, dan memiliki kepribadian yang baik sehingga siap menjadi guru yang profesional.

Acara berlangsung santai penuh canda. Sekitar delapan puluh mahasiswa baru ditambah mahasiswa lama yang menjadi panitianya mengikuti sharing tersebut dengan cukup antusias. Aku berharap mudah-mudahan apa yang kuberikan bisa memotivasi mereka untuk menjadi guru. (Y. Niken Sasanti)


Tinggalkan komentar

Lomba Esai di Balai Bahasa Yogyakarta

Pada tahun 2016 ini Balai Bahasa Yogyakarta menyelenggarakan lomba penulisan esai untuk guru bahasa dan lomba penulisan cerpen untuk remaja se Daerah Istimewa Yogyakarta. Aku mencoba mengikuti dengan mengirimkan tulisanku yang berjudul “Mengulik Peribahasa, Membentuk Karakter Siswa”. Maksud utamaku mengikuti lomba tersebut adalah untuk memotivasi diri sendiri, memotivasi anak-anakku, memotivasi murid-muridku, dan memotivasi teman-teman guru, agar mencoba menulis.

Proses lomba tersebut berlangsung cukup lama, dibuka mulai bulan Mei dan berakhir bulan Agustus. Setelah pengumpulan naskah, ditentukan sepuluh nominator, kemudian para nominator diminta untuk mempresentasikan tulisannya. Sewaktu presentasi kulihat sebagian besar pesertanya adalah guru-guru muda. Mungkin aku adalah peserta yang tertua pada saat itu. Selain itu, aku juga satu-satunya peserta yang berstatus kepala sekolah. Tak mengapa, memang tujuanku untuk memotivasi dan syukur-syukur bisa membawa nama baik sekolahku. Lagi pula, karya nominator akan diterbitkan menjadi antologi, jadi bila beruntung bisa mendapatkan angka kredit dari karya yang diterbitkan itu.

Tak kusangka-sangka aku menjadi juara II. Syukur kepada Tuhan. Ini akan mendorongku untuk menulis dan menulis lagi. (Y. Niken Sasanti)

lomba-esai


Tinggalkan komentar

Pembekalan IN Guru Pembelajar

P_20160803_195256Medio Agustus 2016 aku mengikuti Pembekalan IN Guru Pembelajar Bahasa Indonesia. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh PPPPTK Bahasa, bertempat di Hotel @Home Platinum Gowongan Yogyakarta. Pesertanya adalah para guru bahasa Indonesia yang dalam UKG tahun 2015 lulus minimal 8 modul dari 10 modul. Mereka akan menjadi IN untuk para guru pembelajar yang belum mencapai kelulusan 8 modul, baik melalui moda daring penuh, daring kombinasi, maupun tatap muka. Semoga program guru pembelajar ini sungguh tepat sasaran dan kelak dapat meningkatkan kemampuan para guru di Indonesia.


Tinggalkan komentar

Bimtek Pendidikan Keluarga

Pada bulan Juli 2016 yang lalu sebelum hari pertama masuk sekolah, aku mengikuti Bimbingan Teknis Pendidikan Keluarga. Bimtek ini diselenggarakan oleh Dirjen PAUD bertempat di Hotel Grand Quality dan diikuti oleh kepala sekolah dan pengawas dari di DIY. Kegiatan ini merupakan persiapan adanya pendidikan keluarga di sekolah.  Dalam pendidikan keluarga, intinya, orang tua dilibatkan dalam pendidikan anaknya dengan berbagai bentuk kerja sama antara orang tua, sekolah, dan masyarakat. Sungguh bagus program tersebut, yaitu mengembalikan tanggung jawab pendidikan kepada trilogi yaitu orang tua, sekolah, dan masyarakat yang saling bekerja sama dalam mendidik anak.

P_20160713_160014


Tinggalkan komentar

Kebersamaan yang Indah

Tanggal 17 Agustus 2016 yang lalu, sekolahku kedatangan mahasiswa asing dari berbagai negara. Mereka datang dalam rangka mengikuti upacara peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Selain mengikuti upacara, mereka juga ikut dalam berbagai lomba yang diadakan di sekolah. Kebetulan saat itu ada lomba tarik tambang, lomba makan kerupuk, dan lomba pecah air. Dengan penuh semangat mereka berlomba dengan para siswa dan mahasiswa magang maupun mahasiswa PPL di sekolahku.

Pada kesempatan itu mereka juga bertanding sepak bola dangdut dengan para siswa. Sungguh lucu jalannya pertandingan tersebut. Mereka bertanding selama beberapa menit kemudian dibunyikan musik dangdut dan saat itu semua menghentikan permainan lalu berjoged dangdut. Para mahasiswa asing tersebut tanpa canggung berjoged dangdut dengan anak-anak.

P_20160817_092903