Bilik Kata

Berbagi lewat bahasa, sastra, dan budaya


Tinggalkan komentar

Outbond di Pantai Sadranan

Pada tanggal  20 Januari 2016, para guru pendamping khusus (GPK) untuk sekolah-sekolah inklusi yang tergabung dalam SPPI (Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusi), melakukan kegiatan outbond di Pantai Sadranan Gunung Kidul. Tujuan kegiatan tersebut adalah untuk penyegaran sekaligus menjalin kebersamaan para GPK di kota Yogyakarta.

Tak ketinggalan, aku juga menjadi salah satu peserta dalam kegiatan tersebut. Selama ini aku memang belum begitu aktif dalam SPPI, dan kegiatan out bond ini merupakan yang pertama kali kuikuti.

Para peserta berkumpul di SMK Muh. 3 Yogyakarta, selanjutnya berangkat bersama-sama menggunakan dua bus menuju Pantai Sadranan. Memasuki daerah Gunung Kidul, sepanjang perjalanan mata dimanjakan oleh pemandangan hutan jati dan pegunungan yang berwarna hijau muda. Tak heran, musim kemarau baru saja pergi digantikan oleh musim hujan sehingga dedaunan dan rerumputan bersemi memunculkan warna hijau muda dan sejuk segar.

Sampai di Pantai Sadranan, para peserta melakukan outbond, lalu dilanjutkan dengan snorkeling. Tak lama kemudian hujan mulai turun, mula-mula merintik makin lama makin deras sehingga para peserta segera berhamburan mencari tempat berteduh. Setelah membersihkan badan dan berganti pakaian, para peserta makan siang dengan menu ikan bakar dan cumi-cumi serta sayur Lombok ijo khas Gunung Kidul. Perjalanan dilanjutkan ke Pantai Baron untuk sekadar melihat-lihat dan berbelanja oleh-oleh. Di Pantai Baron banyak dijumpai penjual pisang dan aneka buah-buahan lain. Selain itu juga banyak dijual aneka ikan, udang, cumi-cumi, dan kepiting yang sudah digoreng renyah dan dapat dinikmati di situ atau dibawa pulang untuk oleh-oleh.

Out bond hari itu cukup menyenangkan. Para peserta yang berjumlah 75 orang dan sebagian besar wanita terdiri atas guru-guru, kepala sekolah, maupun pengelola SPPI dari Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta. Para GPK bisa saling berbagi pengalaman sekaligus bercanda ria. Dengan outbond itu, selain kegembiraan, peserta juga makin sehat. (YNS)


Tinggalkan komentar

Jati Malang dan Bugel

Usai tugas di Kulon Progo, masih ada waktu tersisa, aku mengajak Mbak Martha untuk jalan-jalan ke pantai. Di Kulon Progo ini banyak pantai yang bisa dikunjungi. Yang paling terkenal adalah Pantai Glagah tapi aku sudah sering ke sana. Mbak Martha pun pernah ke sana. Kami memutuskan ke Jati Malang yang terletak di Purworejo. Katanya jalan menuju ke sana pemandangannya cukup indah.

Mobil melaju dari Sentolo ke Wates, sampai di BRI Wates kami mengambil arah ke kiri terus ke selatan sampai ke jalur selatan yang dikenal dengan nama Jalan Daendeles. Lalu kami mengambil arah ke kanan menyusur jalur alternatif ke Purworejo tersebut. Cuaca agak redup disertai rintik gerimis. Kami berharap nanti cuaca membaik sehingga kami bisa menikmati pemandangan di pantai.

Setelah menempur perjalanan yang cukup panjang selama satu jam, sampailah kami di Pantai Jati Malang. Kehadiran kami disambut dengan kesenyapan. Suasana muram. Langit masih berselimut awan kelabu. Kudekatkan mobilku ke pantai. Hanya ada satu mobil boks yang mungkin saja sedang menyetor barang dagangan tertentu ke warung yang ada di situ. Sangat sepi. Hanya satu dua warung yang buka. Padahal kami tadi berharap bisa membeli sesuatu untuk oleh-oleh di situ.

Aku dan Mbak Marta turun dari mobil menuju pantai untuk berfoto sejenak. Kulihat ombak mengganas menyisakan rasa ngeri. Perahu-perahu nelayan diam mematung berjajar di tepi pantai. Ada jala rusak yang tergeletak begitu saja di situ. Ada juga beberapa helm dan beberapa pelampung tergeletak tak terurus. Seperti tidak ada kegiatan di situ.

Gerimis makin deras memaksa kami berdua segera beranjak dari tempat yang menyisakan kemuraman. Betapa pun muramnya, pantai tetaplah pantai, yang indah penuh misteri dan pesona.

Mobilku kuarahkan menyusur jalan di tepi pantai menuju ke arah timur, siapa tahu nanti ada jalan ke pantai lain. Memang benar, di situ ada jalan konblok yang bisa dilalui mobil. Dari jalan itu terlihat sepanjang tepi pantai. Ternyata suasana yang muram tidak menyurutkan para pemancing untuk mencari ikan di situ. Kulihat beberapa pemancing berdiri tak hirau gerimis. Hebat juga semangat mereka. Kadang aku tak mengerti jalan pikiran para pemancing itu, rela menghabiskan waktu berjam-jam bahkan seharian atau semalaman untuk menanti ikan menghampiri pancing mereka. Apalagi memancing di laut jelas memerlukan stamina yang luar biasa.

Mobil menyusur jalan ke timur lalu jalan membelok ke utara, kuikuti juga ternyata sampai di tambak. Ada beberapa kotak tambak, mungkin udang atau bandeng di situ. Ternyata jalan makin sempit membelah tambak. Aku agak takut karena jalannya licin dan pas persis untuk satu mobil. Bila mobil melenceng sedikit pasti kecebur tambak. Kujalankan mobil pelan-pelan dan ekstra hati-hati. Akhirnya kami lepas dari jalan maut itu menuju jalan yang agak besar lalu kembali ke Jalan Daendeles yang tadi kami lalui. Ternyata hujan reda. Aku mengusulkan kepada Mbak Martha untuk mengunjungi pantai lain yang kami lewati. Mbak martha setuju. Lantas mobil berbelok menuju Pantai Bugel.

Suasana di Pantai Bugel tak jauh berbeda dengan suasana di Jati Malang. Muram dan sepi. Bedanya, kami menemukan mobil SAR di situ dengan para petugas SAR ada yang di dalam mobil dan ada yang duduk di warung yang kosong. Pantai-pantai selatan memang sering menelan korban, entah itu pengunjung atau nelayan yang terperangkap ombak yang memang ganas. Jadi tidak mengherankan bila ada regu SAR yang selalu siap di sepanjang pantai untuk mengantisipasi bila sewaktu-waktu terjadi hal yang tidak diinginkan.

Melihat keganasan ombak di Pantai Bugel dengan airnya yang saat itu keruh, aku jadi teringat suamiku. Beliau tidak suka bila kuajak ke pantai karena trauma dengan seringnya orang yang menjadi korban keganasan laut selatan. Akhirnya kami lebih sering berwisata di pegunungan. Anak-anakku dan aku diam-diam ke pantai mencuri-curi waktu seperti ini karena kami sula melihat pantai.

Aku dan Mbak Martha berfoto dulu di situ, lalu kami beranjak meninggalkan Pantai Bugel dengan misterinya siang itu. (Y. Niken Sasanti)

P_20160203_123236


Tinggalkan komentar

Monev OJL2 ProDEP di SMPN 3 Sentolo

Pada tanggl 3 Februari 2016 aku ditugaskan untuk melakukan monev OJL2 PKB KS/M ProDEP di Kabupaten Kulon Progo. Sekolah yang dipilih sebagai tempat kegiatan adalah SMP Negeri 3 Sentolo. Pagi-pagi aku berangkat dari Yogya bersama Mbak Martha, pasangan kerjaku saat itu. Kujemput Mbak Martha pukul 7 tepat di gerbang kantor PPPPTK Matematika Yogyakarta dengan mobil tuaku yang setia.

Perjalanan menuju Kulon Progo tidak semulus yang kubayangkan karena pada jam tersebut jalanan di Yogya macet. Kebetulan aku harus mengantarkan anak perempuanku yang tengah menjalani ko as di Rumah Sakit Sardjito sehingga aku harus melewati rute-rute yang padat lalu lintasnya. Mobil dan sepeda motor memenuhi jalan sehingga perjalananku agak tersendat. Untunglah ketika sampai di Jalan Wates, perjalanan bertambah lancar karena jalan cukup lebar.

Tidak sampai satu jam kami sudah memasuki daerah Sentolo. Dari jalan besar kami berbelok ke jalan yang agak kecil dengan melintasi rel kereta api terlebih dahulu, lantas melewati pasar. Jalanan mulai naik turun dengan suasana pedesaan. Akhirnya kami sampai di SMP Negeri 3 Sentolo. Sekolah tersebut terletak di dataran yang tidak rata, ada bagian yang tinggi dan ada bagian yang rendah, sehingga bangunan sekolah unik sekali. Sebagian bangunan di atas, sebagian di bawah. Wah para guru untuk menuju satu kelas dengan kelas lainnya harus berolah raga dulu karena naik turun tangga. Lingkungan sekolah masih seperti hutan, banyak pohon jati di situ.

Kami disambut oleh Ibu Kepala Sekolah, yaitu Bu Praptinah  yang sangat ramah. Kami sangat senang bisa bertemu di sekolah itu. Sesuatu yang tidak disangka-sangka karena selama ini kami hanya bertemu di PPPPTK Matematika saat kegiatan in service learning saja. Saat itu belum semua pengawas yang berjumlah delapan orang hadir semua. Kami masih menanti kehadiran para pengawas sambil berbincang-bincang santai di ruang tamu kepala sekolah. Bu Praptinah menceritakan bagaimana suka duka para siswa bersekolah karena rumah mereka jauh-jauh dan minim sekali angkutan umum. Iya, kubayangkan juga bahwa bila mereka berjalan kaki, sangat jauh. Bila naik sepeda sangat berat karena jalanan naik turun. Padahal tidak semua siswa orang tuanya memiliki sepeda motor.

Setelah para pengawas berkumpul, aku dan Mbak Martha pindah ke ruang pertemua yang terletak di bawah. Rintik gerimis mengiringi kami dengan genit seperti gadis remaja. matahari tersenyum lembut seakan memaklumi kegenitan si rintik gerimis. Kami terpaksa menggunakan payung agar badan kami tidak basah.

Ternyata pengawas yang hadir pada pertemuan itu hanya tujuh orang. Satu orang pengawas terpaksa tidak dapat hadir karena sedang sakit. Pelaksanaan monev hari itu berjalan dengan lancar. Aku kebagian mengurusi akademiknya, Mbak Martha mengurusi administrasinya. Aku bertanya kepada para pengawas kesulitan-kesulitan apa yang muncul pada saat OJL maupun pelaksanaan ProDEP secara keseluruhan. Pada umumnya mereka menjawab bahwa kesibukan kepala sekolah dan pengawas menjadi kendala sehingga mereka harus menjadwal ulang pertemuan yang sudah direncanakan. Meskipun demikian, kendala itu dapat teratasi dengan baik dengan berbagai solusi. Misalnya dengan penjadwalan ulang, dengan komunikasi online, atau dengan kerja sama antarkepala sekolah binaan. (Y.Niken Sasanti)

 


Tinggalkan komentar

Senja di Tanah Lot

Usai melaksanakan tugas pendampingan OJL ProDEP di Kabupaten Badung, kami kembali ke Hotel Park Regis untuk beristirahat sebentar. Siang sudah berganti sore, saat aku sedang leyeh-leyeh di kamar 302 sendirian, tiba-tiba ada panggilan masuk ke hp-ku. Ternyata panggilan dari Pak Agus Suarjana, seorang fasilitator ProDEP juga yang tinggal di Denpasar. Pak Agus agak menyalahkanku kenapa aku tidak menghubungi beliau saat bertugas di Bali ini. memang aku sengaja tidak menghubungi beliau karena dapat dipastikan beliau akan merepotkan diri demi aku dan teman-temanku, dan hal ini sungguh tidak kuinginkan. Benar juga, saat itu juga Pak Agus menawarkan diri mengantar kami ke Pantai Tanah Lot untuk melihat matahari terbenam. Aku belum bisa menjawab karena harus memberitahu teman-temanku.

Ketika kutawarkan itu ke teman-teman, ternyata mereka menyambut positif, artinya dengan senang hati diajak ke Tanah Lot. Kusampaikan itu ke Pak Agus. Sejam kemudian Pak Agus datang menjemput kami. Tanpa mandi kami langsung berangkat. memang sengaja karena pasti nanti sehabis jalan-jalan kami akan berkeringat lagi, jadi untuk apa mandi saat ini.

Perjalanan ke Tanah Lot ternyata cukup jauh, kira-kira satu jam. Kuingat-ingat terakhir kali aku ke Tanah Lot lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Apakah saat ini Tanah Lot sudah berubah atau tetap seperti dulu. Pasti sudah berubah karena sudah lebih dari sepuluh tahun. Kulihat di mana-mana Bali semakin cantik berbenah.

Ternyata benar. Suasana petang itu di Tanah Lot sungguh berbeda dengan ketika aku ke situ dulu. Tempat parkir mobil bertambah luas. Tempatnya juga tertata lebih indah dan rapi. Keindahan tidak hanya terfokus pada pantainya saja namun lingkungan di sekelilingnya juga ditata dengan lebih indah, dengan bangunan-bangunan tradisional dan taman yang sangat indah. Kami sempat mencicipi makanan tradisional yang dijual di situ yaitu klepon.

Petang itu para wisatawan masih banyak. Mereka sibuk memotret pemandangan yang luar biasa indahnya. Ombak di lautan terasa ramah menyambut kami. Kami berfoto-foto sepuasnya. memotret pemandangan laut di Tanah Lot dengan sinar keemasan mentari yang hampir terbenam memberikan kebahagiaan yang luar biasa. Juga rasa syukur tak henti terucap dari dalam dada. Betapa agung ciptaan-Mu ya Tuhanku.

Setelah puas memotret dari atas tebing, kami berjalan menuju daratan kecil untuk membasuh muka dengan air suci. Sebenarnya kami juga ingin memegang badan ular putih yang sudah puluhan tahun berada di goa di situ tapi berhubung sudah petang, sang pawang tidak mengizinkan.

Tak terasa petang berganti malam.Pengunjung Tanah Lot berkurang satu per satu, akhirnya tinggal beberapa orang saja. Kami melangkah pelan-pelan, memasuki toko-toko yang masih buka. Sebagian besar toko sudah tutup pada pukul 8 malam itu. Harga pakaian yang dijual di situ ternyata tidak mahal sehingga kami tidak perlu menawar banyak. Sampai di tempat parkir hari sudah betul-betul gelap. Hanya satu mobil yang masih ada di situ yaitu mobil Pak Agus. Kami segera beranjak dari Tanah Lot.(Y. Niken Sasanti)

 


Tinggalkan komentar

Jalan-jalan di Pasar Klungkung

Saat bertugas di Kabupaten Badung, saya diajak teman-teman berjalan-jalan di Pasar Klungkung. Pasar yang terletak di Kabupaten Klungkung itu sebagian besar berisi pedagang yang menjual kain-kain tradisional Bali, sarung maupun endek. Kami berjalan-jalan di dalam pasar, melihat kain endek yang begitu banyak dengan aneka motif yang indah, dengan harga jual yang beragam sesuai kualitas bahan. Mata kami dimanjakan oleh keindahan warna dan motif kain yang dipajang hingga tak terasa sudah berjam-jam kami di situ. Kain-kain di Pasar Klungkung sungguh luar biasa indahnya.


Tinggalkan komentar

Pendampingan OJL di Badung

Pada tanggal 2 Maret 2016, saya mendapat tugas melakukan monev OJL3 PKB KS/M ProDEP di Kabupaten Badung Provinsi Bali. Saya berangkat sehari sebelumnya bersama Mbak Tituk dari PPPPTK Matematika dan rombongan lain yang bertugas monev di tempat-tempat yang berbeda di Bali.

Kami menginap di Hotek Park Regis yang terletak di Jalan Raya Kuta. Hotel berbintang empat tersebut cukup nyaman sebagai tempat menginap. Letaknya cukup strategis, dekat dengan Pantai Kuta (kira-kira 700m), dan banyak rumah makan di dekatnya sehingga memudahkan kami untuk mengisi perut.

Rabu pagi kami dijemput Bapak I Wayan Namia, salah satu Pengawas Diknas Badung untuk menuju SMP Negeri 2 Kuta yang terletak di Jalan Dewi Saraswati Seminyak Kuta. Selain saya dan Mbak Tituk, kami juga didampingi Ibu Nunik, salah satu pejabat struktural di PPPPTK Matematika yang akan melihat jalannya pendampingan dan monev OJL. Perjalanan cukup nyaman dan lancar karena lalu lintas tidak terlalu padat. Sampai di sana saya terpesona dengan bangunan sekolah yang sangat khas Bali, begitu indah dan megah. Lingkungan sekolah terlihat asri dan bersih.

Beberapa pengawas dan Kepala SMPN 2 Kuta menyambut kedatangan kami dengan ramah. Ternyata belum semua pengawas hadir. Untuk mengisi waktu saya sempatkan berjalan-jalan di sekeliling sekolah menikmati asrinya suasana.

Pukul 9 WITA acara dimulai, diawali dengan saling memberikan sambutan. Sesudah itu dilanjutkan dengan pengisian intrumen monitoring dan evaluasi. Selanjutnya, saya yang kebagian bidang akademik mewawancarai para pengawas satu demi satu untuk mengecek sejauh mana para kepala sekolah binaannya menyelesaikan tagihan-tagihan yang nanti akan dibawa pada saat in service 2.

Ternyata sebagian besar pengawas sudah melakukan tugasnya dengan baik dalam mendampingi kepala sekolah binaannya. Rata-rata kepala sekolah sudah menyelesaikan seluruh LK yang menjadi tagihan. Ada beberapa kepala sekolah yang sudah menyelesaikan laporan OJl dan menyiapkan bahan presentasi berupa powerpoint. Namun ada juga yang belum menyelesaikan laporan dan belum menyiapkan bahan presentasi. Hal itu tidak jadi masalah karena masih ada waktu lebih dari dua minggu sebelum saat in 2 nanti.

 


Tinggalkan komentar

Pendampingan OJL di Soppeng

Pada tanggal 23 Februari yang lalu, saya mendapat tugas melakukan monev OJL3 kegiatan ProDEP di Kabupaten Soppeng. Saya bersama Bu Lusandari dari PPPPTK Matematika, berangkat dari Yogya pada tanggal 22 Februari. Sampai di Makassar kami melanjutkan perjalanan darat menuju Kabupaten Soppeng yang berjarak kurang lebih 150 km dari Makassar. Kebetulan kami bersama-sama dengan Pak Tris dan Pak Teguh yang menuju Kabupaten Wajo. Perjalanan terasa menyenangkan karena pemandangan di sepanjang jalan sungguh indah. Kami berhenti sebentar di Taman Nasional Kupu-kupu Bantimurung Bulusaraung Maros untuk berfoto-foto. Kami segera melanjutkan perjalanan ke Soppeng. Jalan berkelok-kelok naik turun membelah pegunungan. Di kanan kiri kadang tebing menjulang, kadang jurang menganga. Medan yang cukup sulit itu tak terasa sulit karena driver kami adalah orang Bugis asli yaitu Mas Aris yang sudah terbiasa lewat di situ.

Sampai di Soppeng sudah sore. Kami lantas mencari tempat untuk makan. Berputar-putar keliling kota, kami mencari rumah makan. Setelah berputar dan berputar lagi, akhirnya kami menemukan sebuah rumah makan yang cukup nyaman dan enak masakannya. Kami memesan ayam panggang dan tengiri bakar ditambah dengan cap jay goreng. Ternyata cukup lezat dan mampu mengenyangkan perut kami. Usai makan, datanglah Bu Andi Astati, salah satu pengawas Soppeng. Setelah makan kami diantar ke penginapan dengan dipandu oleh Bu Astati. Di penginapan, kami berpisah dengan Pak Tris dan Pak Teguh yang melanjutkan perjalanan ke Wajo.

Pagi harinya Bu Andi Astati dan Pak Harmindong siap menjemput kami pada pukul 7.30. Berempat kami menuju sekolah tempat pertemuan yaitu MTs Walimpong. Kami diberi tahu bahwa nanti akan naik perahu menyeberang sungai. Mendengar itu Bu Lusandari sedikit takut. Saya tenang-tenang saja dan berharap menikmati petualangan yang seru. Ternyata jarak penginapan ke Walimpong cukup jauh, mungkin sekitar 20-25km. Dekat dengan Walimpong, kami bertemu dengan dua mobil pengawas lain yang segera bergabung beriringan menuju Desa Walimpong.

Perjalanan ternyata seru karena sebagian jalan desa rusak sehingga kami terguncang-guncang di dalam mobil. Tak mengapa karena mata kami dimanjakan oleh nuansa hijau dari pepohonan di sepanjang jalan. Juga kebun kakao yang begitu luas di antara rumah-rumah penduduk. Sampai di SMP Negeri 4 Walimpong mobil berhenti. Ternyata beberapa pengawas numpang ke kamar mandi sebentar. Saya dan Bu Lusandari tidak ketinggalan ikut menumpang ke kamar mandi. Setelah saling menyapa dengan Kepala Sekolah dan beberapa guru yang kami temui, kami melanjutkan perjalanan ke MTs. Walimpong.

Tak lama kemudian sampailah kami di Sungai Walanae. Sungai itu cukup lebar dan deras arusnya. Air sungai berwarna coklat tapi sekeliling sungai bersih, tidak kelihatan sampah sedikit pun. Aku bersyukur lingkungan di sini masih terjaga kelestariannya. Kami segera turun ke tepi sungai untuk naik perahu. Perahunya kecil tapi panjang. Mula-mula kami ragu karena kami memakai sepatu hak tinggi tapi ternyata kami bisa mencapai perahu tanpa melepas sepatu. Sampai di atas perahu kami diminta jongkok karena tidak mungkin kami duduk di dasar perahu yang basah. Perahu pun melaju dan rasa was was kami hilang lenyap karena kami semua sibuk mengabadikan moment berharga tersebut dengan berfoto jeprat jepret tiada henti, hingga tak terasa perahu sudah sampai ke tepi sungai.

Di tepi sungai beberapa orang sudah menyambut kami, yaitu Pak Muliadi, kepala MTs Walimpong, beberapa kepala sekolah lain, dan pengawas yang sudah lebih dulu tiba. Kami disambut dengan ramah. Lalu kami berjalan naik hendak menuju sekolah. Sampai di atas saya melihat beberapa sepeda motor dengan pengendaranya yang berseragam batik hijau siap menyambut kami. Pak Kepala Sekolah mengatakan supaya kami tidak lelah berjalan, maka kami akan diboncengkan anak-anak ke sekolah. Wah pengalaman tak terduga nih. Saya, Bu Lusandari, dan Bu Astati segera membonceng sepeda motor itu dan kami di bawa berputar-putar keliling desa sebelum menuju ke sekolah.

Sepanjang perjalanan mengelilingi desa, saya sungguh terpesona melihat desa yang tertata rapi dan indah, sungguh asri dan bersih. Tak ada sampah sedikit pun di jalan-jalan desa. Rumah-rumah penduduk yang berupa bangunan tradisional sangat asri dengan taman di setiap halaman. Tak berapa lama terlihat bendera umbul-umbul di sepanjang pagar sekolah. Jangan-jangan umbul-umbul ini untuk menyambut kami? Pikirku nakal. Di pintu depan sekolah kami sudah disambut oleh kepala sekolah, guru, dan karyawan. Semua menyalami kami dan menyambut kami dengan senyum sapa yang sangat bersahabat.

Dalam acara sambutan, Pak Muliadi menjelaskan bahwa desa tersebut memang menjadi juara lomba desa. Point plusnya adalah di setiap rumah ada asbak dan kotak PPPK. Jadi, ada aturan di desa itu bahwa tidak boleh merokok di dalam rumah. Wah, sesuatu banget. Pak Muliadi juga menjelaskan bahwa setiap tamu di desa itu apalagi dari pemerintahan, akan disambut dengan baik dan diumumkan di desa melalui pengumuman di masjid. Juga pemasangan umbul-umbul itu memang untuk menyambut kedatangan kami. Wah luar biasa, seru banget. Jadi seluruh penduduk desa tahu bahwa ada tamu di MTs Walimpong.

Sementara kami saling memberikan sambutan, para ibu guru yang masih muda-muda menghidangkan aneka makanan tradisional dan teh panas untuk kami. Makanan yang dihidangkan adalah jagung rebus, klepon, dan kue beras (semacam apem yang dimakan dengan juruh gula merah). Kami menikmati hidangan dengan gembira.

Kami segera melanjutkan dengan monev OJL untuk para pengawas. Saya di bagian akademik, sedangkan Bu Lusandari menyelesaikan urusan administrasinya. Singkat kata monev OJL berlangsung dengan baik dan lancar. Semua pengawas sudah menjalankan tugasnya dengan baik mendampingi para kepala sekolah binaannya. Semua LK sudah dikerjakan oleh kepala sekolah sesuai dengan BPu yang diambil. Saat itu para kepala sekolah sedang menyusun laporan dan mempersiapkan bahan presentasi untuk In 2 yang akan berlangsung pertengahan Maret nanti. Kendala yang ditemukan terutama masalah kesibukan kepala sekolah dan pengawas yang cukup padat sehingga tidak mudah mencari kesempatan untuk bertemu dan melakukan pendampingan. Namun kendala tersebut dapat diatasi dengan baik.

Usai monev dilanjutkan dengan makan siang bersama. Pak Kepala Sekolah dan teman-temannya sudah menyiapkan makanan tradisional yang terlihat enak dan melimpah untuk kami semua. Mereka menghidangkan sayur bening daun kelor, sayur bening lembayung dicampur jagung dan jipang, sayur bambu muda alias rebung, sayur terong dengan bumbu kacang, bandeng masak pedas, ayam bumbu laos, dan bakwan jagung. Kami bersantap siang dengan gembira dan penuh canda.

Akhirnya kami harus mengakhiri pertemuan pada siang itu karena perjalanan yang kami tempuh masih jauh. Siang itu juga kami harus balik ke Makasar. Saat pulang, Bu Astati mengusulkan kami untuk jalan kaki saja menuju sungai karena jaraknya dekat. Benar kata Bu Astati, ternyata sungai itu sangat dekat dengan sekolah, kami tadi memang sengaja dibawa keliling desa menggunakan motor supaya kami berkesempatan melihat desa mereka yang indah itu. Ternyata kreatif juga ya Pak Muliadi yang betul-betul mulia ini.

Kali ini kami sudah lebih berpengalaman dalam menyeberang sehingga kami makin heboh dalam berfoto ria. Tak ada rasa takut sama sekali menyeberang sungai padahal konon saat hujan tiba, sungai tersebut meluap airnya sehingga penduduk tidak bisa menyeberang menggunakan perahu. Wow. Inilah pendampingan OJL yang paling seru untuk saya. (Y. Niken Sasanti)