Bilik Kata

Berbagi lewat bahasa, sastra, dan budaya


Tinggalkan komentar

Oleh-oleh di Pasar Bandungan

Turun dari Gedong Songo, kami mampir sebentar di Pasar Bandungan untuk beli oleh-oleh. Kebanyakan teman membeli tempe mentah yang dibungkus daun, tahu bandungan yang terkenal lezat, sayur-sayuran, dan buah-buahan. Ada yang membeli buah alpokat, nangka, jeruk, mangga, buah naga, kelengkeng, dan sebagainya. Ada juga yang tertarik membeli ampyang kacang, torakur (tomat rasa kurma), intip, dan berbagai keripik. Yang menarik adalah di sepanjang jalan banyak penjual gorengan, ada tahu, tempe, jadah, bakwan dijual dalam keadaan masih panas baru keluar dari penggorengan. Aromanya cukup menggugah selera. Makanan lain yang aromanya menggugah selera adalah sate ayam dan sate kelinci yang banyak dijual di situ. Bau sate yang dibakar dengan lumuran bumbu kacang menyebar ke hidung tiap orang yang ada di situ. Juga ada wedang ronde yang siap menghangatkan perut dan kue leker yang terlihat bener-bener leker.

Di deretan jalan yang lain berjajar penjual tanaman hias dan bibit buah-buahan. Bunga anggrek, aster, mawar, terlihat indah dan membuat para wanita kepincut untuk membelinya.

Hal yang kurang nyaman di Bandungan adalah macetnya kendaraan roda empat yang memenuhi jalan. Hal itu tidak mengherankan karena selain jalannya memang sempit, tempat itu dikunjungi banyak wisatawan yang sebagian besar membawa mobil pribadi. Jadi tak ayal lagi hal itu menyebabkan jalanan macet.

DSC01683


Tinggalkan komentar

Candi Gedong Songo

Minggu, 18 Oktober 2015, kumenapak areal Candi Gedong Songo. Bayanganku tentang suasana sejuk seperti beberapa puluh tahun yang silam ternyata sudah tak ada lagi. Aku masih ingat pada suatu siang beberapa puluh tahun yang lalu (mungkin tahun 80-an) aku ke Gedong Songo bersama ayah ibu dan adik-adikku. Waktu itu, siang diwarnai mendung yang membuat warna sekeliling terasa redup. Ketika kami hendak naik ke candi-candi tersebut, gerimis mulai turun, lalu beberapa orang mengingatkan bahwa kabut sebentar lagi turun sehingga lebih baik kami tidak naik.

Berbeda sekali dengan suasana saat ini. Panas terik terasa menyengat di kulit, tak beda dengan di kota. Sudah demikian berubahkah atau karena kali ini bertepatan dengan musim kemarau panjang. Meski panas, kami tetap menikmati pemandangan di sekeliling candi. Aku dan beberapa teman naik kuda menuju candi III. Ada juga teman yang naik sampai candi terakhir. Sebenarnya bukan hanya sekali itu naik kuda, beberapa waktu yang lalu aku pernah juga naik kuda, tetapi karena sudah lama dan sekarang usiaku sudah berkepala lima, jadinya agak takut juga. Meski sedikit tegang, kami semua berhasil menyelesaikan sesi naik kuda dengan selamat.

IMG_7295

IMG_7276

DSC01638

DSC01669

IMG_7238


Tinggalkan komentar

Museum Kereta Api Ambarawa

Memasuki pelataran museum kereta api yang terletak di Ambarawa, serasa kembali ke masa lalu. Ketika kulihat lokomotif dan gerbang tua yang terbuat dari kayu jati, aku ingat kembali saat aku kecil dulu. Masa itu, tahun tujuh puluhan, kereta api masih dipakai sebagai salah satu alat transportasi umum dari Semarang, Kudus, Pati, Rembang. Bila aku diajak nenek atau ayahku ke Pat, Rembang, atau Semarang, kami naik kereta api. Aku suka naik kereta api karena tidak membuatku mabok. Bila naik bus, aku selalu mabuk dan muntah meski jaraknya dekat saja.

Syukurlah ada museum ini, jadi anak-anak sekarang bisa melihat dan memegang kereta-kereta tua yang dulu pernah dipakai melintas kota-kota di Pulau Jawa. Selain itu, juga ada peralatan yang dulu dipakai, misalnya mesin morse, timbangan, loket karcis, jam, bahkan meja kursi yang dulu dipakai di kantor stasiun.

DSC01573 IMG_7210 IMG_7200 IMG_7194 DSC01610 DSC01612