Bilik Kata

Berbagi lewat bahasa, sastra, dan budaya


Tinggalkan komentar

Pembukaan Pameran Seni Wayang Museum Sonobudoyo Yogyakarta

Photo3054

Photo3046

Photo3050

Pada hari Sabtu Tanggal 20 September 2014 berlangsung Pembukaan Pameran Wayang Museum Sonobudoyo Yogyakarta bertempat di Heritage Bank Indonesia di kilometer 0 Yogyakarta. Pameran tersebut bertema Ksatria: memahami Tripama dan Hastabrata. Sebelum acara pembukaan, disajikan pementasan Tari Bambangan Cakil oleh mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta. Tarian tersebut menggambarkan seorang ksatria yaitu Arjuna yang sedang bertapa diganggu oleh Buto Cakil dan kawan-kawannya. Kemudian Arjuna bertempur melawan Buto Cakil. Pesan moralnya adalah bahwa kebenaran akan dapat mengalahkan kejahatan.
Pameran tersebut dibuka oleh Sri Paku Alam IX. Dalam kesempatan tersebut Sri Paku Alam IX membacakan sambutan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono X. Dikatakan bahwa pamor museum masih redup, padahal museum bersifat tangible dan intangible. Saat ini, tema pameran yang mengangkat nilai-nilai kewiraan masih sangat tepat dengan kondisi bangsa Indonesia yang sedang membangun karakter bangsanya. Dari sini masyarakat dan generasi muda akan mendapatkan informasi tentang keberadaan museum, khususnya museum negeri Sonobudoyo. Pengelola museum diharapkan meningkatkan kreativitas dan pelayanannya sehingga museum makin diminati.
Pameran wayang akan berlangsung tanggal 20 sampai dengan 29 September. Acara ini juga dimeriahkan oleh delapan perupa Yogyakarta. Masih satu rangkaian dengan acara pameran, juga diselenggarakan talkshow dengan narasumber. Ir. Yuwono Sri Suwito, MM.dan Afendy Widayat, M.Phil. Selain itu juga dipertunjukkan wayang kulit semalam suntuk dengan lakon Wahyu Makutharama. (Y. Niken Sasanti)


Tinggalkan komentar

Resume tentang Kecerdasan Majemuk dan Pengembangan Kecerdasan Linguistik

By: Y. Niken Sasanti

Teori mengenai kecerdasan majemuk dikemukakan oleh Gardner melalui bukunya yang berjudul Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligence pada tahun 1983. Pada mulanya dikemukakan tujuh kecerdasan. Sejalan dengan perkembangan penelitian yang dilakukannya, Gardner lalu memasukkan tiga kecerdasan yang lain dalam bukunya Intelligence Reframed (1999), yaitu kecerdasan naturalis, kecerdasan eksistensial, dan kecerdasan spiritual. Kesepuluh kecerdasan tersebut adalah (1) Kecerdasan Linguistik, (2) Kecerdasan Logika-Matematika, (3) Kecerdasan Intrapersonal, (4) Kecerdasan Interpersonal, (5) Kecerdasan Musikal, (6) Kecerdasan Visual-Spasial, (7) Kecerdasan Kinestetik, (8) Kecerdasan Naturalis, (9), Kecerdasan Eksistensial, (10) Kecerdasan Spiritual

Kecerdasan linguistik adalah kemampuan dalam menggunakan kata-kata secara terampil dan mengekspresikan konsep-konsep secara fasih. Kecerdasan logis-Matematis adalah kemampuan dalam memahami hubungan-hubungan humanikal. Kecerdasan intrapersonal adalah kemampuan untuk menghubungkan dunia di luar diri kita dengan dunia di dalam diri kita. Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk berkomunikasi dan memahami orang lain, mengerti kondisi pikiran atau suasana hati yang berbeda, sikap atau temperamen, motivasi dan kepribadian, dan juga meliputi kemampuan untuk membentuk dan mempertahankan suatu hubungan. Kecerdasan musikal adalah kemampuan untuk merespon musik, membuat komposisi, maupun memainkan alat musik. Kecerdasan Visual-Spasial adalah kemampuan untuk mentransformasikan dunia visual-spasial. Kecerdasan Kinestetik adalah kemampuan untuk menggabungkan gerakan fisik dan pikiran untuk menyempurnakan suatu gerakan. Kecerdasan naturalis adalah kemampuan untuk mengenali orang, tanaman, hewan, dan benda yang ada di sekitar kita. Kecerdasan eksistensial adalah kecerdasan yang berhubungan dengan kapasitas atau kemampuan untuk berpikir kosmis.

Gunawan (2003) memasukkan kecerdasan kepemimpinan, yaitu kemampuan seseorang dalam memimpin. Seseorang yang memiliki kecerdasan kepemimpinan memiliki bermacam kecerdasan yang lain, antara lain kecerdasan linguistik, kecerdasan interpersonal, dan kecerdasan eksistensial.
Jennifer James menambahkan satu jenis kecerdasan lagi yang disebutnya kecerdasan praktis.Yang dimaksud dengan kecerdasan praktis adalah keterampilan yang memungkinkan sejumlah orang untuk mengambil komputer atau membongkar bagian-bagiannya dan kemudian menyatukannya kembali.

Kecerdasan Linguistik

Kecerdasan linguistik muncul ketika manusia masih dalam rahim. Seorang anak tidak diajarkan bahasa ibunya; jika ibunya mempunyai kemampuan berbicara, maka ia tidak dapat menghalangi anaknya untuk belajar berbicara. Nyatanya, jika seorang anak selalu mendengar suatu bahasa setiap saat selama tujuh tahun pertama hidupnya, maka kecerdasan linguistiknya akan menjadi aktif.
Menurut James (dalam Efendi, 2005), kecerdasan linguistik ditunjukkan oleh kepekaan akan makna dan urutan kata, serta kemampuan membuat beragam penggunaan bahasa. Kemampuan alamiah yang berkaitan dengan kecerdasan bahasa ini adalah: percakapan spontan, dongeng, humor, kelakar, membujuk orang untuk melakukan tindakan, member penjelasan atau mengajar

Menurut Gunawan (2003), orang dengan kecerdasan linguistik yang berkembang baik mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
Mampu mendengar dan memberikan respon pada kata-kata yang diucapkan dalam suatu komunikasi verbal,
Mampu menirukan suara, mempelajari bahasa, serta mampu membaca dan menulis karya orang lain
Mampu belajar melalui pendengaran, bahan bacaan, tulisan, dan melalui diskusi atau debat
Mampu mendengarkan dengan efektif serta mengerti dan mengingat apa yang telah didengarkan
Mampu membaca dan mengerti apa yang dibaca
Mampu berbicara dan menulis dengan efektif
Mampu mempelajari bahasa asing
Mampu meningkatkan kemampuan bahasa yang digunakan untuk komunikasi sehari-hari
Tertarik pada karya jurnalisme, berdebat, berbicara, menulis, atau menyampaikan suatu cerita atau melakukan perbaikan pada karya tulis
Memiliki kemampuan menceritakan dan menikmati humor.

Kecerdasan linguistik juga mencakup kemampuan berkomunikasi. Menurut Albert Mehrabian (dalam Gunawan, 2003) ada tiga komponen dalam berkomunikasi, yaitu kata yang digunakan, suara atau intonasi nada yang digunakan saat mengucapkan kata-kata tersebut, dan bagaimana kita menggunakan ekspresi wajah dan bahasa tubuh untuk menegaskan apa yang kita sampaikan.

Pengembangan Kecerdasan Linguistik

Pengembangan Kemampuan Mendengarkan
a. Berusaha menemukan hal menarik dari apa yang sedang didengarkan
b. Jangan terlalu terpengaruh pada bagaimana cara menyampaian informasi atau ide
c. Bila mendengarkan orang lain, jangan memotong pembicaraan
d. Berusaha untuk memfokuskan perhatian
e. Berusaha mengolah informasi yang diterima dan tetap terbuka pada ide-ide yang disampaikan

Pengembangan Kemampuan Berbicara
a. Latihan public speaking dengan mengikuti organisasi tertentu
b. Mengarang cerita dengan memilih kata secara acak
c. Mengarang cerita dengan memilih objek secara acak
d. Bercerita seakan-akan sedang mengajar
e. Menulis buku harian
f. Berdiskusi dengan orang lain mengenai suatu topik yang menarik
g. Berdebat

Pengembangan Kemampuan Membaca
a. Kiat untuk membaca:
• Mempersiapkan diri
• Meminimalkan gangguan
• Duduklah dengan sikap tegak
• Luangkan waktu beberapa saat untuk menenangkan pikiran
• Gunakan jari Anda atau benda lain sebagai petunjuk
• Melihat sekilas bahan bacaan sebelum mulai membaca
b. Kiat untuk memahami bacaan:
• Jadilah pembaca yang aktif
• Membaca gagasannya, bukan kata-katanya
• Libatkan seluruh indera
• Ciptakan minat
• Buatlah peta pikiran untuk bacaan tersebut

Pengembangan Kemampuan Menulis
a. Menulis dengan tahap-tahap berikut:
• Persiapan
• Membuat draft kasar
• Berbagi (sharing)
• Memperbaiki
• Penyuntingan
• Penulisan kembali
• Evaluasi
b. Untuk memperlancar penulisan, gunakan cara-cara berikut:
• Mulailah secepatnya
• Putarlah musik
• Mencari waktu penulisan yang tepat
• Berolahraga untuk menyegarkan tubuh dan otak
• Membaca apa saja untuk membuka wawasan
• Mengelompok-kelompokkan pekerjaan
• Gunakan warna-warna
c. Kiat supaya tidak mengalami hambatan dalam menulis:
• Menghemat kertas
• Gunakan sudut pandang yang berbeda
• Mengambil jarak dari tulisan
• Keluar dari aktivitas rutin
• Mengganti alat-alat tulis
• Mengubah lingkungan
• Berbicara kepada orang-orang dekat tentang projek yang dikerjakan

Daftar Pustaka

De Porter, Bobbi dan Mike Hernacki. 2003. Quantum Learning. Bandung: Penerbit Kaifa PT
Mizan Pustaka.

Efendi, Agus. 2005. Revolusi Kecerdasan Abad 21. Bandung: Penerbit Alfabeta.

Gunawan, Adi W. 2003. Born to Be a Genius. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.


Tinggalkan komentar

Hari Perdamaian Internasional

Hari Perdamaian Internasional dirayakan tiap 21 September sejak resolusi Majelis Umum PBB pada 1981. Negara-negara di dunia, termasuk Indonesia merayakan Hari Perdamaian Internasional. Peringatan ini menjadi saat yang tepat untuk mengajak dan menyebarkan semangat kedamaian, ketenangan, dan keharmonisan seluruh masyarakat agar gejolak intoleransi yang sering terjadi belakangan ini dapat berkurang.

Bagaimana dengan kita? Sudah selayaknya kita pun turut merayakan Hari Perdamaian ini. Tidak perlu kita rayakan dengan berbagai aksi, namun mari kita merayakannya dengan hati. Kita semua pasti ingin hidup dalam damai karena dengan hidup dalam damai kita akan mengalami ketenangan dan kesejahteraan batin. Kita mulai dengan menciptakan rasa damai di keluarga kita, di lingkungan kita, dan di tempat kita bekerja. Kalau itu juga dilakukan oleh orang lain, maka akan terciptalah perdamaian di seluruh negeri Indonesia.

Di lingkungan pendidikan yang saya hadapi setiap hari, perdamaian merupakan syarat mutlak bagi terselenggaranya pendidikan yang baik. Anak-anak bisa belajar dengan baik bila mereka hidup dalam kedamaian. Para guru dan karyawan juga bisa bekerja dengan baik bila berada dalam lingkungan yang penuh kedamaian. Oleh karena itu, marilah kita ciptakan perdamaian di hati kita, di keluarga kita, di sekolah kita, dan di masyarakat kita. (Y. Niken Sasanti)

Photo0393


Tinggalkan komentar

Enam Program Prioritas Pendidikan di Tahun 2014

Pemerintah Indonesia memprioritaskan enam program utama di tahun 2014 pada sektor pendidikan, dalam rangka mengakselerasi pembangunan sumber daya manusia (SDM), sekaligus memanfaatkan bonus demografi dan momentum 100 tahun Indonesia merdeka. Keenam program tersebut yaitu Pendidikan Menengah Universal (PMU), Kurikulum 2013, peningkatan kualitas guru, rehabilitasi dan sarana prasarana, afirmasi daerah 3T, serta Bantuan Siswa Miskin (BSM) dan Bidikmisi.
Hal tersebut disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 16 Agustus 2013 di depan sidang bersama DPR-RI dan DPD-RI di Gedung MPR/DPR RI Jakarta dalam rangka HUT ke-68 Proklamasi Kemerdekaan RI. Untuk mendukung program-program prioritas tersebut, menurut Presiden, anggaran pendidikan ditingkatkan 7,5%, dari Rp. 345,3 triliun tahun ini menjadi Rp. 371,2 triliun di tahun 2014. Namun angka tersebut masih dimungkinkan mengalami perubahan, karena masih bersifat rancangan undang-undang (RUU).
Program Prioritas
Program PMU yang secara resmi diluncurkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh tanggal 25 Juni 2013 yang lalu, diharapkan dapat mempercepat kenaikan angka partisipasi kasar (APK) pendidikan menengah. APK pendidikan menengah sampai tahun 2012 sebesar 78,9%. Dengan PMU, ditargetkan pada tahun 2020 APK pendidikan menengah dapat meningkat menjadi 97%. “Apabila tanpa program PMU, angka tersebut baru dicapai pada tahun 2040,” kata Presiden pada kesempatan tersebut.
Sebagai konsekuensi logis atas dilaksanakannya kebijakan PMU ini, Pemerintah mulai tahun pelajaran 2013/2014 mulai menyalurkan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk pendidikan menengah. Nilai nominal BOS tersebut yaitu Rp. 1.000.000,- per siswa per tahun untuk seluruh siswa sekolah menengah baik negeri maupun swasta. Selain itu pembangunan unit sekolah baru (USB) dan ruang kelas baru (RKB), serta peningkatan kualifikasi dan kompetensi para pendidik dan tenaga kependidikan menjadi bagian tidak terpisahkan dari program PMU ini.
Selain itu implementasi Kurikulum 2013 juga mendapatkan perhatian serius di tahun depan. Tahun pelajaran 2013/2014 sekarang ini, Kurikulum 2013 telah diimplementasikan secara bertahap dan terbatas. Terkait implementasi Kurikulum 2013 tersebut, Mendikbud (17/8) mengatakan bahwa penyiapan buku dan pelatihan guru menjadi hal yang mendapat perhatian khusus. “Kurikulum 2013, dimaksudkan untuk menyiapkan manusia Indonesia yang kreatif, inovatif dan mampu berpikir orde tinggi,” kata Mendikbud.
Satu masalah penting yang perlu mendapatkan perhatian khusus, kata Presiden, adalah masalah kualitas guru, distribusi guru antarsatuan pendidikan dan antarwilayah yang belum merata. Di daerah-daerah terpencil, perbatasan, dan kepulauan, masih ada guru-guru yang belum terpenuhi kebutuhannya sesuai dengan standar pelayanan minimal. Upaya meningkatkan kualitas pendidikan akan terus dilakukan, antara lain melalui peningkatan kualitas guru termasuk di dalamnya sertifikasi guru.
Menanggapi peningkatan kualitas guru tersebut, Mendikbud menjelaskan bahwa penataan sistem perguruan mutlak perlu dilakukan. Penataan tersebut, menurut Menteri Nuh, meliputi penataan sistem di lembaga pendidik tenaga kependidikan (LPTK), pelatihan guru, karier guru, dan sertifikasinya.
Dalam rangka pemerataan kualitas SDM, beberapa program afirmasi akan tetap dilanjutkan dan ditingkatkan seperti pengiriman guru, pada daerah terpencil, terluar dan tertinggal (3T), pengiriman pelajar asal Papua untuk melanjutkan studinya di beberapa SMA/SMK dan Perguruan Tinggi Negeri terbaik di luar Papua.
Selain itu untuk makin memeratakan akses pendidikan, dalam tahun 2014 penyediaan bantuan siswa miskin (BSM) dan beasiswa Bidikmisi akan ditingkatkan. Dengan BSM dan beasiswa Bidikmisi diharapkan anak-anak dari keluarga miskin mendapatkan kesempatan yang sama dalam mengenyam pendidikan sampai jenjang perguruan tinggi. Sumber: http://www.kemdiknas.go.id


Tinggalkan komentar

PPKSPS/M di Aryaduta Makasar (Kenangan yang tak Mudah Dilupakan)

Tanggal 28 Agustus sampai dengan 1 September 2014 berlangsung Pelatihan PPKSPS/M (Program Pendampingan Kepala Sekolah oleh Pengawas Sekolah/Madrasah) ProDEP di Hotel Aryaduta Makasar yang diselenggarakan oleh P4TK Matematika Yogyakarta. Penyelenggaranya dari Yogyakarta namun pelaksanaannya di Makasar karena seluruh pesertanya adalah pengawas sekolah dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.

Kami semua merasa beruntung karena bisa menginap di Hotel Aryaduta Makasar yang terletak di Pantai Losari yang sangat terkenal itu. Dan memang Pantai Losari sangat indah dengan ombak yang mengalun tenang seperti membuai hati siapa pun yang memandangnya. Saya bersama Bu Bekti mendapatkan kamar 242 yang sangat mewah menurut ukuran kami. Kamar itu jendelanya menghadap laut dengan pemandangan yang sangat indah. Jadi pagi, siang, sore, maupun malam, kami bisa melihat laut. Kami bisa melihat matahari terbit di timur maupun tenggelam di ufuk barat.

Kamar kami terdiri atas tiga ruangan, yaitu ruang tamu yang dilengkapi televisi besar, minibar, dan dapur, ruang kerja lengkap dengan mesin faks, serta kamar tidur yang dilengkapi televisi besar dan kamar mandi mewah. Keberuntungan kami itu semata-mata karena kesabaran kami. Ceritanya, ketika rombongan fasilitator dari Yogya datang, belum semua kamar disiapkan sehingga kami harus menanti beberapa saat untuk mendapatkan kamar. Saya dan Bu Bekti paling akhir mendapatkan kamar, dan ternyata ….kamar yang sangat mewah.

Peserta pelatihan dibagi menjadi 4 kelas, yaitu kelas Sulsel 1, kelas Sulsel 2, kelas Sulsel 3, dan kelas Sulbar. Kebetulan saat itu saya menjadi tim fasilitator di kelas Sulsel 1 bersama Bu Bekti Dyah Hastuti (PS Magelang) dan Pak Agus Dwi Wibawa (WI P4TK Matematika). Peserta di kelas Sulsesl 1 terdiri PS dari lima Kabupaten/Kota, yaitu Gowa, Maros, Jeneponto, Bantaeng, dan Bone. Bagi saya ini merupakan pengalaman pertama menjadi fasilitator pelatihan untuk pengawas sekolah. Biasanya pengawaslah yang melatih kepala sekolah. Awalnya ada sedikit rasa kurang percaya diri, namun saya tepis perasaan itu dengan mengingat bahwa materi diklat sebagian besar adalah masalah teknis prosedur pendampingan kepala sekolah oleh pengawas dan teknis mengerjakan lembar-lembar kerja. Bila ada permasalahan tentang tugas kepengawasan yang tidak saya pahami pasti nanti akan diselesaikan Bu Bekti, PS yang sudah berpengalaman. Dengan penuh rasa percaya diri, saya memulai perkenalan pada malam pertama.

Awal perjumpaan dengan peserta masih terasa sedikit kebekuan. Ada senyuman tapi masih sedikit mahal. Saya memulai dengan sedikit humor tentang kesetiaan wanita dan laki-laki yang saya baca di colt box. Ternyata itu mengundang tawa. Kemudian kami memancing peserta dengan lagu-lagu maupun ice breaker lain. Ternyata pancingan mengena. Banyak di antara peserta yang hobi menyanyi dangdut dan suaranya bagus-bagus sehingga saat istirahat peserta bersama fasilitator berkaraoke ria. Seiring berjalannya waktu, suasana tambah cair, banyak gelak tawa dan canda, kebekuan tak lagi terasa.

Ternyata dengan penciptaan suasana yang menyenangkan, materi yang disampaikan lebih mudah dipahami. Lembar kerja yang harus dikerjakan juga dapat diselesaikan dengan bagus dan relatif cepat. Beberapa peserta sangat smart sehingga yang terjadi lebih banyak sharing, saling memberi dan menerima. Hal-hal yang tidak jelas atau meragukan didiskusikan dengan penuh semangat namun kepala tetap dingin. Waktu lima hari menjadi terasa singkat dan beberapa peserta mengatakan bahwa waktu berlalu begitu cepat. Menjelang berakhirnya acara, seorang peserta dari Gowa mengatakan kepada saya bahwa kenangan bersama ini tak mudah dilupakan.

Saya bersama Bu Bekti, Pak Agus DW, dan Mas Cahyo juga tak kan mudah melupakan kenangan manis bersama kelas Sulsel 1 ini. Semoga pada kesempatan yang akan datang kita bisa berjumpa lagi. Selamat dan sukses untuk kita semua. (Yosepha Niken Sasanti, Kasek SMP Negeri 10 Yogyakarta)


Tinggalkan komentar

TOT PPKSPS/M di Best Western Mangga Dua Jakarta

Tanggal 18 – 25 Agustus yang lalu saya berkesempatan ikut serta dalam TOT ( Training of Trainer) PPKSPS/M (Program Pendampingan Kepala Sekolah oleh Pengawas Sekolah/Madrasah) ProDEP yang diselenggarakan Pusbangtendik Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Program ini terselenggara atas hibah dari Pemerintah Australia dan akan berjalan sampai tahun 2016.

Lebih dari dua ratus peserta TOT yang dikirim melalui 6 P4TK di Indonesia berkumpul di Hotel Best Western Mangga Dua Jakarta untuk mendapatkan pelatihan sebelum nantinya menjadi fasilitator program PPKSPS/M dan PKBKS/M. Saya tidak membayangkan akan mendapatkan kamar di lantai teratas hotel megah tersebut, yaitu lantai 33, tepatnya di kamar nomor 3317. Kebetulan saya sekamar dengan Ibu Bremaniwati, Pengawas Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta. Saat melihat ke luar jendela yang pertama kali, lutut saya gemetaran dan kepala saya serasa berputar seperti orang mabuk karena memang saya takut ketinggian. Beruntung saya dapat mengatasinya. Selain itu, untuk naik atau turun kami harus menggunakan lift yang terbatas jumlahnya sehingga harus rela antre. Untunglah kecepatan lift itu bisa sampai 40 km/jam sehingga tidak terlalu lama untuk naik atau turun ke lantai lain.

Saya bersama 9 teman dari P4TK Matematika Yogyakarta bergabung menjadi satu kelas dengan peserta dari P4TK Bahasa Jakarta. Tim fasilitatornya adalah Bapak Yadi Rohyadi, Bapak Arju Rahmanto, dan Bapak Sri Mulyono ditambah satu staf yaitu Bapak Rofik. Ternyata kelas kami cukup menyenangkan penuh canda dan tawa sehingga penyampaian materi dan tugas-tugas tidak terasa membosankan.

Bagi saya sendiri, banyak hal baru dan menarik yang saya dapatkan dari TOT ini. Selain materi baru, metode penyampaian, dan ice breaking-nya juga seru. Bahkan di sela-sela istirahat kami sempat berkaraoke yang sungguh-sungguh bisa menyegarkan suasana dan menambah energi kami untuk mengerjakan tugas-tugas yang cukup banyak. Dan yang jelas, saya juga mendapatkan banyak teman baru. Terima kasih untuk Pak Yadi, Pak Arju, Pak Sri, dan Pak Rofik yang telah membimbing dan melayani kami selama 8 hari di Best Western. Selamat dan sukses untuk teman-teman sekelas. Selamat menjalani tugas. Salam dari saya, Y. Niken Sasanti, SMP Negeri 10 Yogyakarta.