Bilik Kata

Berbagi lewat bahasa, sastra, dan budaya


Tinggalkan komentar

Hari Buku Nasional

Photo1202

Hari Buku Nasional dicanangkan pada saat peresmian Perpustakaan Nasional di Jakarta pada 17 Mei 1980. Tujuannya adalah meningkatkan minat baca di Indonesia serta menumbuhkan produksi buku di Indonesia. Meskipun demikian sampai tahun 2014 ini dua hal tersebut belum tercapai sebagaimana yang diharapkan. Minat baca di negara kita masih memprihatinkan. Produksi buku pun belum sebanyak yang diharapkan. Selain itu, harga buku masih mahal, belum terjangkau oleh semua kalangan.
Apa yang bisa kita lakukan sekarang? Sebagai orang tua dan pendidik, kita bisa memberikan contoh untuk menjadikan buku sebagai kebutuhan kita sehari-hari. Tiada hari tanpa membaca buku. Mari kita jadikan kebiasaan membaca buku sebagai virus yang dapat menular pada siapa pun.
Saya punya pengalaman menarik ketika berkunjung ke Portland Secondary College (PSC) di Victoria Australia. Di sana, sesudah istirahat pertama dan kedua ada reading time (waktu untuk membaca) selama 15 menit. Pada saat itu, seluruh siswa yang berada di kelas membaca buku yang dibawa dari rumah atau dipinjam dari perpustakaan. Guru menunggui sambil membaca buku juga. Tidak ada yang bercakap-cakap. Mereka semua membaca. Bila ada satu dua siswa yang tidak berkonsentrasi atau sibuk melakukan hal lain, guru akan segera menegur dan menyuruh siswa tersebut kembali membaca.
Dari pengalaman di Australia itu saya mengambil hikmah bahwa kebiasaan membaca itu harus ditanamkan orang dewasa terhadap anak-anak, bila perlu dengan sedikit keharusan seperti yang saya lihat di PSC. Keharusan membaca ini akan menumbuhkan kebiasaan membaca pada sebagian besar siswa. Lama-kelamaan membaca buku akan menjadi kebiasaan dan kebutuhan yang harus dilakukan setiap hari. (Y. Niken Sasanti)


Tinggalkan komentar

Kepercayaan Masyarakat Yogyakarta terhadap Mitos Nyai Roro Kidul

Pendahuluan

Kehidupan masyarakat Yogyakarta pada masa kini tidak lepas dari budaya nenek moyang atau leluhur yang telah melekat pada hidup sehari-hari. Budaya nenek moyang tersebut antara lain adalah kepercayaan pada roh halus (animisme), kepercayaan bahwa benda-benda tertentu mempunyai kekuatan gaib (dinamisme), dan adanya benda-benda tertentu yang dipuja atau disembah (totemisme).

Meskipun pada masa kini agama dan ilmu pengetahuan yang rasional telah menggeser kepercayaan lama tersebut, masih ada budaya-budaya lama yang tetap melekat pada sebagian masyarakat Yogyakarta. Salah satunya adalah kepercayaan terhadap mitos Nyai Roro Kidul yang disebut juga Kanjeng Ratu Kidul, atau Ratu Pantai Selatan.

Dalam tulisan ini hendak dibahas dua hal, yaitu (1) apa yang menyebabkan masyarakat Yogyakarta masih memercayai mitos Nyai Roro Kidul dan (2) bagaimana aktualisasi kepercayaan terhadap Nyai Roro Kidul pada sebagian masyarakat Yogyakarta.

Kisah Nyai Roro Kidul dalam Mitos Jawa

Nyai (Nyi) Roro Kidul adalah seorang ratu yang sangat cantik bagaikan bidadari. Kecantikannya tak pernah pudar di sepanjang zaman. Di dasar Laut Selatan, yakni lautan yang dulu disebut Samudra Hindia – sebelah selatan pulau Jawa, ia bertahta pada sebuah kerajaan makhluk halus yang sangat besar dan indah.

Siapakah Ratu Kidul itu? Dikisahkan pada mulanya Ratu Kidul adalah seorang wanita, yang berparas elok, ia bernama Kadita. Karena kecantikannya, ia sering disebut Dewi Srengenge, yang artinya Matahari Jelita. Kadita adalah putri Raja Munding Wangi. Walaupun Kadita sangat elok wajahnya, Raja tetap berduka karena tidak mempunyai putra mahkota yang dapat disiapkan. Baru setelah Raja memperistri Dewi Mutiara, lahirlah seorang anak lelaki. Akan tetapi, begitu mendapatkan perhatian lebih, Dewi Mutiara mulai mengajukan tuntutan-tuntutan, antara lain, memastikan anaknya lelaki akan menggantikan tahta dan Dewi Kadita harus diusir dari istana. Permintaan pertama diluluskan, tetapi untuk mengusir Kadita, Raja Munding Wangi tidak bersedia.

Dewi Mutiara lalu pengutus inang mengasuh memanggil seorang tukang sihir, namanya Jahil untuk mengguna-gunai Dewi Kadita. Jahil menyanggupinya. Malam harinya, tatkala Kadita sedang lelap, masuklah angin semilir ke dalam kamarnya. Angin itu berbau busuk, mirip bau bangkai. Tatkala Kadita terbangun, ia menjerit. Seluruh tubuhnya penuh dengan kudis, bernanah dan sangat berbau tidak enak.

Tatkala Raja Munding Wangi mendengar berita ini pada pagi harinya, sangat sedihlah hatinya. Dalam hati tahu bahwa yang diderita Kadita bukan penyakit biasa, tetapi guna-guna. Raja juga sudah menduga, sangat mungkin Mutiara yang merencanakannya. Hanya saja. Bagaimana membuktikannya. Dalam keadaan pening, Raja harus segera memutuskan apa yang akan dilakukan terhadap Kadita. Atas desakan patih, putri yang semula sangat cantik itu mesti dibuang jauh agar tidak menjadikan aib.

Maka berangkatlah Kadita seorang diri, bagaikan pengemis yang diusir dari rumah orang kaya. Hatinya remuk redam; air matanya berlinangan. Namun ia tetap percaya, bahwa Sang Maha Pencipta tidak akan membiarkan mahluk ciptaan-Nya dianiaya sesamanya. Campur tangan-Nya pasti akan tiba. Untuk itu, seperti sudah diajarkan neneknya almarhum, bahwa ia tidak boleh mendendam dan membenci orang yang membencinya.

Siang dan malam ia berjalan, dan sudah tujuh hari tujuh malam waktu ditempuhnya, hingga akhirnya ia tiba di pantai Laut Selatan. Kemudian berdiri memandang luasnya lautan, ia bagaikan mendengar suara memanggil agar ia menceburkan diri ke dalam laut. Tatkala ia mengikuti panggilan itu, begitu tersentuh air, tubuhnya pulih kembali. Jadilah ia wanita cantik seperti sediakala. Tak hanya itu, ia segera menguasai seluruh lautan dan isinya dan mendirikan kerajaan yang megah, kokoh, indah, dan berwibawa. Dialah kini yang disebut Ratu Laut Selatan.

Menurut cerita yang beredar Nyi Roro Kidul itu tak lain adalah seorang jin yang mempunyai kekuatan dahsyat. Hingga kini masih ada saja orang yang mencari kekayaan dengan jalan pintas yaitu dengan menyembah Nyi Roro Kidul. Mereka dapat kekayaan berlimpah tetapi harus mengorbankan keluarga dan bahkan akan mati sebelum waktunya, jiwa raga mereka akan dijadikan budak bagi kejayaan Keraton Laut Selatan.

Ada cerita lain, bahwa Nyai Roro Kidul sebenarnya adalah Ratna Suwida. Ada juga yang berpendapat bahwa Nyai Roro Kidul adalah Dewi Nawang Wulan. Meskipun demikian, kisahnya tidak jauh berbeda, yaitu seseorang putri mahkota raja yang mempunyai paras wajah cantik yang terkena penyakit guna-guna oleh saudara tirinya yang menginginkan tahta ayahnya. Pada akhirnya, ia dibuang oleh ayahnya lantaran penyakit yang dimiliki meresahkan dan menular. Selain itu, ada juga yang berpendapat bahwa Nyi Roro Kidul adalah jelmaan dari salah satu tujuh bidadari. Tetapi, menurut tradisi mataram itu sendiri beranggapan bahwa Nyi Roro Kidul adalah seorang putri Pajajaran yang telah diusir dari istana karena dia menolak suatu perkawinan yang diatur oleh ayahnya. Raja Pajajaran ini mengutuk putrinya: dia dijadikan ratu kaum roh halus dengan istananya dibawah perairan Samudera Hindia, dan hanya akan menjadi seorang wanita biasa lagi pada Hari Kiamat (Ricklefs 2005).

Kepercayaan Sebagian Masyarakat Yogyakarta terhadap Mitos Nyai Roro Kidul

Mitos Nyai Roro Kidul tidak dapat dilepaskan dari sejarah berdirinya Kerajaan Mataram. Secara faktual, situs keberadaan situs keberadaan sejarah Kerajaan Mataram masih dapat ditelusuri hingga saat ini, walaupun kerajaan tersebut sudah terbagi ke dalam dua, yaitu Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Di dalam situs itu juga terdapat sebuah mitos atau legenda yang mengisahkan adanya hubungan antara pendiri Kerajaan Mataram dengan hal-hal mistis, yaitu Nyi Roro Kidul, sang Penguasa Laut (Anwar 2010: 5).

Sebenarnya, belum ada fakta yang kuat mengenai keberadaan Nyai Roro Kidul. Akan tetapi, sejarah menyatakan bahwa mitos Nyai Roro Kidul muncul pada masa berdirinya Kerajaan Mataram oleh Panembahan Senapati, yang memiliki nama asli Danang Sutawijaya. Mitos tersebut diwariskan turun-temurun sampai Kerajaan Mataran terpecah belah menjadi dua, yaitu Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta. Meskipun demikian, keberadaan Nyi Roro Kidul telah melekat dalam keyakinan sebagian masyarakat Jawa.

Tampaknya mitos Nyai Roro Kidul justru memperkuat legitimasi raja. Hal ini berlainan dengan orang kaya yang berhubungan dengan Nyai Blorong. Yang disebut terakhir adalah negatif, sedangkan yang pertama, yakni hubungan Raja Mataram dengan Nyai Roro Kidul adalah positif. Demikian juga dengan roh halus lain yang melindungi Raja Mataram, yakni Sunan Lawu di Gunung Lawu. Menurut salah satu konsepsi, roh Sunan Lawu ini adalah roh raja-raja Majapahit (Ham 2002:184).

Sebagian orang memang sudah tidak memercayai kebenaran cerita mengenai Nyai Roro Kidul. Berbeda halnya dengan orang-orang Keraton, khususnya Keraton Yogyakarta. Orang-orang yang hidup di lingkungan Keraton Yogyakarta meyakini tentang kebenaran cerita ini. Sebagian masyarakat Yogyakarta yang tinggal di luar lingkungan keraton juga masih memercayai keberadaan Nyai Roro Kidul. Meskipun masih mengandung perdebatan, sebagian masyarakat masih tetap meyakini bahwa ada sebuah fenomena nyata yang menjelaskan bahwa Nyai Roro Kidul memang memiliki relevansi dengan eksistensi Keraton Yogyakarta.

Menurut sebagian pengamat kebudayaan Jawa, bagi para Raja Jawa, berkomunikasi dengan para makhluk halus dan Nyai Roro Kidul, khususnya, merupakan salah satu upaya untuk memperolehkekuatan batin dalam mengelola negara. Para Jawa itu pun meyakini bahwa sebagai kekuatan yang kasat mata, Nyi Roro Kidul harus dimintai restu dalam kegiatan sehari-hari untuk mendapatkan keselamatan dan ketenteraman.

Aktualisasi Kepercayaan terhadap Nyai Roro Kidul pada Sebagian Masyarakat Yogyakarta

Kepercayaan yang berlaku secara turun-temurun terhadap Nyi Roro Kidul masih diaktualisasikan dengan baik oleh masyarakat dalam berbagai macam kegiatan sampai saat ini. Salah satu contohnya adalah kegiatan labuhan. Labuhan adalah sebuah upacara tradisional keraton yang dilaksanakan di tepi laut di selatan kota Yogyakarta. Labuhan diadakan dalam setiap ulang tahun Sri Sultan Hamengkubuwono, yang tanggal maupun tahun kelahirannya dihitung menurut perhitungan Saka (tahun Jawa). Upacara labuhan ini bertujuan untuk kesejahteraan Sultan dan masyarakat Yogyakarta pada umumnya.

Aktualisasi kepercayaan masyarakat terhadap Nyai Roro Kidul juga diwujudkan lewat tari-tarian. Selama ini, dikenal Tari Bedaya Lambangsari dan Bedaya Semang, yang keduanya diselenggarakan untuk menghormati dan memperingati Sang Ratu.

Di dalam lingkungan Keraton Yogyakarta, ada sebuah bangunan di Kompleks Taman Sari (Istana Bawah Air), yakni sekitar 1 km sebelah barat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang dinamai Sumur Gumuling. Tempat ini diyakini sebagai tempat bertemunya sultan dengan Ratu Pantai Selatan, Kanjeng Nyi Roro Kidul.

Sekalipun mitos Nyi Roro Kidul erat berkaitan dengan Kesultanan Yogyakarta, penghayatan dan keyakinan terhadap penguasa Laut Selatan itu juga berlaku bagi sebagian masyarakat yang berdiam di wilayah kesultanan. Salah satu bukti yang paling sering ditemukan adalah ketika terjadi musibah orang hilang di Pantai Laut Selatan. Jika ada orang hilang di sana maka orang tersebut diyakini hilang karena “diambil” oleh Nyai Roro Kidul, entah untuk dijadikan sebagai tumbal, prajurit, ataupun suami.

Dalam penjelasan Babad Tanah Jawi secara tegas menyiratkan bahwa Nyi Roro Kidul pernah berjanji kepada Panembahan Senapati bahwa akan menjaga Kerajaan Mataram, para sultan, keluarga kerajaan, dan masyarakat dari malapetaka.

Salah satu bentuk penghayatan yang dilakukan oleh Keraton, baik Keraton Yogyakarta maupun Keraton Surakarta adalah pementasan tarian yang paling sakral di Keraton, yakni Bedoyo Ketawang, yang diselenggarakan setahun kali saat peringatan Hari Penobatan Para Raja. Dalam tarian itu, sembilan orang penari mengenakan pakaian tradisional pengantin Jawa, serta mengundang Nyai Roro Kidul dan menikahi Susuhunan. Konon, sang ratu akan muncul secara gaib dalam wujud penari kesepuluh yang terlihat berkilauan dibandingkan penari lainnya.

Sedemikian kuatnya mitos Nyi Roro Kidul sehingga kepercayaan terhadapnya tidak hanya berlaku bagi masyarakat Jawa Tengah. Bahkan. Kepercayaan Nyi Roro Kidul juga dikenal luas oleh masyarakat Jawa Barat. Bukti yang sudah lazim diketahui oleh banyak orang adalah keberadaan sebuah kamar hotel bernomor 308 di lantai atas Samudra Beach, Pelabuhan Ratu, Jawa Barat. Konon, kamar itu tidak bisa dipesan oleh siapapun karena kamar tersebut disajikan khusus untuk Nyi Roro Kidul. Siapa pun yang ingin bertemu dengan Sang Ratu, ia bisa masuk ke ruangan ini, tetapi harus melalui seorang perantara yang menyajikan persembahan buat Sang Ratu. Entah cerita awalnya seperti apa, namun yang jelas, masyarakat percaya begitu saja dengan keberadaan Nyi Roro Kidul yang menghuni kamar 308 itu.

Penutup

Berdasarkan uraian yang telah disampaikan, dapat disimpulkan bahwa masyarakat Yogyakarta masih memercayai mitos Nyai Roro Kidul karena berkaitan dengan sejarah berdirinya Keraton Yogyakarta. Masyarakat juga percaya bahwa Nyai Roro Kidul membantu Sultan Yogyakarta untuk menjaga keraton dan masyarakat Yogyakarta.

Adanya kepercayaan itu teraktualisasikan pada beberapa kebiasaan yang dilakukan keraton dan masyarakat yang bertalian dengan Nyai Roro Kidul, misalnya upacaya labuhan dan tarian bedaya ketawang. Masyarakat juga memercayai bahwa orang yang terseret ombak dan tenggelam di Laut Selatan diambil oleh Nyai Roro Kidul.

Dengan demikian, pada masa yang sangat modern ini, legenda Nyi Roro Kidul masih menjadi legenda yang spektakuler dan mendarah daging bagi sebagian masyarakat Jawa, terutama Keraton Yogyakarta beserta masyarakatnya.

                                                                                                                                                                      (Y. Niken Sasanti)

Daftar Sumber:
Anwar, Salman Rusydie. 2010. Misteri Nyi Roro Kidul dan Laut Selatan. Yogyakarta : Flashbooks.
Ham, Ong Hok. 2002. Dari Soal Priyayi sampai Nyi Blorong : Refleksi Historis Nusantara. Yogyakarta : PT. Kompas Media Nusantara.
Haryani, Linda Sari. 2012. “Sistem Kepercayaan Pada Mitos Ratu Kidul yang diyakini oleh Masyarakat Yogyakarta” (makalah). Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Tanpa Nama. 2007. Babad Tanah Jawi ; mulai dari Nabi Adam sampai Tahun 1647.Yogyakarta: Narasi.
http://linda-sari-h.blog.ugm.ac.id
http://www.kompasiana.com


Tinggalkan komentar

Puisi-puisi Y. Niken Sasanti

Gambar

 

 

 

 

 

 

 

 

Bus, Halte, dan Pohon

Di halte itu kita menanti
bus membawa kita pergi
ke tujuan yang ditetapkan
Roda pun berputar menggilas jalan

Di halte itu ada sebatang pohon
berdiri mematung dalam udara beku
Tak lelah ia menghitung waktu
Saat bus datang dan pergi menghilang

Silih berganti orang datang menanti
ratusan bus datang dan pergi
hanya pohon yang tinggal tetap
berteman waktu abadi

 

Doa Seorang Ibu

Ya Tuhan,
setiap hari kulepas anak-anakku
untuk menuntut ilmu mencari jati diri.
Rasa bangga menjalari dada,
anak-anakku, buah hati bunda,
penuh semangat mencapai cita.
Namun rasa cemas datang menyesak.
Dunia begitu luas, orang begitu banyak,
lalu lintas semrawut, kendaraan kalang kabut
anak-anakku ada di mana bersama siapa.
Kuhanya bisa berdoa semoga mereka
selamat dalam lindungan-Nya.

 

Doa Seorang Istri

Setiap pagi, mulai Senin sampai Jumat
Kulepas kepergian suami
Mencari nafkah buat anak istri
Bekerja hingga siang bahkan senja hari
Kuhanya bisa berdoa
semoga suamiku sehat sejahtera
Sehingga dapat bekerja dengan gembira
Dan saatnya pulang,
dia melangkah dengan bahagia
Biarlah tubuh lelahnya menemukan
tempat istirahat yang nyaman
dan penuh kehangatan
di rumah yang sederhana tapi penuh cinta.


Tinggalkan komentar

Ujian Nasional

Tanggal 5 sampai 8 Mei 2014 ini digelar hajatan besar di Indonesia, yaitu Ujian Nasional untuk siswa SMP/MTs. Kegiatan yang sudah berlangsung bertahun-tahun dan seakan merupakan ritual yang rutin ini ternyata selalu menimbulkan ketegangan, kekhawatiran, harap-harap cemas, tidak saja pada para siswa yang menghadapi ujian tersebut, namun juga pada banyak pihak yang terlibat di dalamnya. Orang tua jelas berharap-harap cemas mengenai hasil ujian anaknya. Siswa dan orang tua tentu mengharapkan hasil yang paling baik karena hasil ujian ini digunakan sebagai tiket untuk masuk sekolah jenjang yang lebih tinggi. Bila hasil ujian bagus, tentu lebih mudah mencari sekolah yang bagus pula.

Para guru juga sedikit penasaran menantikan hasil ujian siswa-siswanya. Hampir semua guru tentu memiliki target-target nilai tertentu yang dicapai siswanya. Selama ini salah satu ukuran kesuksesan guru mengajar adalah bila nilai ujian siswa-siswanya bagus sesuai harapan. Para guru juga pasti bangga bila nilai ujian siswa-siswanya bagus.

Kepala Sekolah sedikit tegang karena menjadi penanggung jawab penuh jalannya ujian di sekolahnya. Sejak pembentukan Tim Penyelenggara Ujian sampai dengan pelaporan penyelenggaraan ujian menjadi tanggung jawab Kepala Sekolah. Yang paling mendebarkan adalah pelaksanaan ujian selama empat hari tersebut. Bila semuanya lancar, segalanya berjalan sesuai prosedur, tidak ada pelanggaran, tentu melegakan.

Sebenarnya suasana tegang bisa dicairkan bila kita mengingat bahwa seharusnya ujian ini menjadi momentum yang membahagiakan karena akan mengantarkan para siswa ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Oleh sebab itu, penyelenggara ujian di sekolah sebaiknya memberikan rasa nyaman dan aman bagi siswa maupun para pengawas sehingga mereka tidak takut dan tegang melaksanakan ujian. Kenyamanan ini diciptakan dengan sapaan yang ramah, tidak memberikan ancaman-ancaman, dan memberikan kepercayaan penuh kepada pengawas ruang.

Selamat mengikuti ujian, semoga sukses semuanya!


Tinggalkan komentar

Refleksi Hardiknas 2014

Gambar

Hari ini, Jumat 2 Mei 2014 adalah Hari Pendidikan Nasional. Di mana-mana diadakan upacara untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional, termasuk di sekolah saya. Upacara berlangsung khidmat dan pada saat amanat Pembina Upacara, saya membacakan sambutan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Seluruh peserta upacara yang terdiri atas para guru, karyawan, beberapa mahasiswa PPL, dan ratusan siswa mendengarkan dengan tenang dan penuh perhatian. (Ini adalah salah satu hal yang membuat saya bangga, yaitu para siswa dan guru di sekolah saya tidak berisik pada saat upacara).

Isi sambutan Pak Menteri cukup menarik, menyoroti berbagai capaian program pendidikan yang makin terjangkau dan makin berkualitas di Indonesia. Adapun tema Hardiknas tahun ini adalah Pendidikan untuk Peradaban Indonesia yang Unggul. Saya mengakui apa yang dikatakan Pak Menteri benar adanya dan saya berharap serta berdoa agar pendidikan di Indonesia semakin terjangkau dan semakin berkualitas.

Sampai saat ini, sudah sekitar 26 tahun saya menjadi guru. Selama 4 tahun menjadi guru SMA, 20 tahun menjadi guru SMP, dan saat ini menjadi guru sekaligus kepala sekolah di sebuah SMP Negeri di Yogyakarta. Selama itu saya berkecimpung secara langsung dalam dunia pendidikan. Selama itu pula saya merasakan berbagai upaya terus dilakukan oleh Pemerintah dan berbagai pihak untuk memperluas akses pendidikan dan meningkatkan kualitas pendidikan. Pemerintah memberikan kesempatan kepada siswa miskin untuk terus sekolah dengan program BSM, JPD, dan PKH. Bahkan di DIY ada Kartu Cerdas, yaitu beasiswa untuk anak kurang mampu yang cerdas. Ini menunjukkan bahwa Pemerintah sungguh peduli dengan pendidikan. Bagaimana dengan kualitas pendidikan? Menurut saya, yang sangat menentukan kualitas pendidikan adalah kemampuan guru. Dengan demikian, untuk meningkatkan kualitas pendidikan, pertama-tama yang harus dilakukan adalah meningkatkan kemampuan guru. (Y. Niken Sasanti)