Bilik Kata

Berbagi lewat bahasa, sastra, dan budaya


Tinggalkan komentar

Yayasan Humana dan Girli

By: Yosepha Niken Sasanti

Matahari musim kemarau di awal bulan Agustus 2012 yang lalu menyengat aspal jalanan Yogyakarta. Siang itu saya berada di Jalan A.M. Sangaji Yogyakarta sedang mencari alamat Kantor Yayasan Humana di Kampung Nandan. Saya mengetahui adanya Yayasan Humana dari internet ketika sedang mencari informasi tentang Girli (pinggir kali), yaitu sebutan untuk anak jalanan yang bermukim di pinggir kali.

Saya mencari informasi tentang Girli untuk membantu Louise, seorang siswi di Portland Secondary College, Victoria, Australia, yang membutuhkan informasi tentang Girli sebagai bagian dari risetnya tentang Permasalahan Anak Jalanan di Indonesia. Beberapa waktu sebelumnya saya bersama serombongan siswa dan beberapa guru SMP N 5 Yogyakarta mengunjungi sekolah Louise di Portland Victoria Australia. Pada saat itu Louise mengikuti kelas Bahasa Indonesia dan semua siswa di kelas tersebut mendapat tugas dari gurunya untuk melakukan riset mengenai Indonesia. Louis memilih topik Permasalahan Anak Jalanan di Indonesia.

Dalam sebuah situs di internet (http://www.it-camp.org), dijelaskan terbentuknya Yayasan Humana yang saya kutip sebagai berikut: ” Pada mulanya hanyalah sebuah jalinan perkawanan biasa antara segerombolan mahasiswa dengan sekawanan gelandanan anak di Yogyakarta. Perkawanan intim yang dimulai sejak awal 1982 itu akhirnya melahirkan sebuah persaudaraan yang bukan dari hasil perkawinan. Persaudaraan itu bernama Keluarga Besar GIRLI. GIRLI adalah singkatan pingGIR kaLI, tempat di mana umumnya kaum miskin perkotaan bermukim. Kompleksitas relasi perkawanan tersebut menuntut ruang tersendiri untuk mengkaji pengalaman keseharian. Maka pada tanggal 13 Juni 1990 lahirlah Yayasan Lembaga Pengkajian Sosial (YLPS) HUMANA dengan akta notaris no: 6 dan terdaftar di Pengadilan Negeri Yogyakarta dengan nomor 76/90/VI/Y. Jadi lembaga ini bukan OTB (Organisasi Tanpa Bentuk). Pada awal tahun 1993 YLPS HUMANA mulai bergiat secara dengan membentuk empat departemen, yakni: Departemen Pengembangan Komunitas, Departemen Edukasi, Departemen Produksi/koperasi, dan Departemen Penelitian dan Pengembangan.”

Lalu lintas Jalan A.M. Sangaji siang itu sangat padat seperti biasanya, maklum karena jam pulang sekolah. Saya mengendarai mobil dengan santai di tengah arus lalu lintas yang deras, sederas aliran Sungai Code pada musim hujan. Saya menyebut Sungai Code karena di tepian sungai itulah banyak penduduk miskin dan anak jalanan bermukim. Saya ingat, pada tahun 80-an, Romo Mangun bersama Pak Lurah Terban (Pak Wili) dan beberapa orang yang perduli, membangun permukiman kumuh di tepian Sungai Code itu menjadi permukiman yang lebih layak, bersih, dan sehat. Dan sejak saat itu, permukiman kaum miskin di pinggiran Sungai Code sering dijadikan contoh kota-kota lain dalam menata permukiman penduduk di tepian sungai.

Menurut informasi, letak Kantor Yayasan Humana di sebelah barat Karitas Nandan. Pertama, saya masuk ke sebuah gang yang menuju Gereja Katholik Nandan. Setelah bertanya dua kali, akhirnya saya menemukan Kantor Yayasan Humana, yaitu persis di sebelah barat SMP Karitas Nandan. Saya disambut oleh Bapak Sugiya (atau lebih dikenal dengan nama Bapak Bahagia), yaitu salah satu pengurus di Yayasan Humana. Tak lama kemudian, muncul seorang wanita, yang ternyata adalah Debi, mantan murid saya di SMP Negeri 5 Yogyakarta sekian tahun yang lalu. Debi juga menjadi pengurus di situ. Saya kemudian berbincang-bincang dengan Bapak Sugiya.

Saya menanyakan apakah keberadaan kaum Girli (anak jalanan yang bermukim di pinggir kali) sekarang ini masih ada ataukah Girli tinggal istilah saja? Pak Sugiya menjelaskan bahwa Girli sekarang ini memang ada dua macam. Yang pertama untuk menyebut perkampungan orang-orang yang bermukim di tepian kali. Mereka itu belum tentu anak jalanan dan belum tentu miskin. Yang kedua untuk menyebut anak jalanan yang bermukim di sekitar pinggir kali maupun yang hidupnya di jalanan saja (tidak bermukim). Anak-anak jalanan yang tidak bermukim biasanya menempati rumah singgah yang banyak terdapat di Yogyakarta. Yang dikategorikan anak jalanan adalah anak-anak yang berusia 18 tahun ke bawah.

Yayasan Humana sampai saat ini masih melakukan pendampingan terhadap anak-anak jalanan tersebut, utamanya dalam hal pendidikan, kesehatan, dan hukum. Dalam bidang pendidikan, Yayasan Humana bekerja sama dengan Dinas Sosial. Mereka mengusahakan agar anak-anak jalanan dapat bersekolah kembali. Selain itu, Yayasan Humana juga mengadakan pelatihan-pelatihan untuk membekali anak-anak jalanan itu dengan berbagai keterampilan, misalnya jahit-menjahit, kerajinan tangan, memasak, dan sebagainya. Bagaimanapun anak-anak jalanan itu masih termasuk anak-anak yang membutuhkan pendidikan sebagai bekal mereka kelak bila kembali hidup bermasyarakat. Pak Sugiya yakin bahwa anak-anak jalanan itu tidak akan selamanya hidup di jalanan. Cepat atau lambat mereka akan kembali hidup normal di tengah-tengah masyarakat.

Dalam bidang kesehatan, Yayasan Humana bekerja sama dengan Dinas kesehatan. Mereka mengadakan pemeriksaan kesehatan secara berkala, memberikan makanan yang sehat dan bergizi, dan memberikan berbagai penyuluhan tentang kesehatan, antara lain tentang penyalahgunaan obat-obat terlarang dan seks berisiko. Dalam bidang hukum, Yayasan Humana bekerja sama dengan Lembaga Bantuan Hukum untuk mendampingi anak-anak jalanan yang bermasalah dengan kepolisian.

Pak Sugiya lalu menunjukkan foto-foto kegiatan Yayasan Humana bersama anak-anak jalanan. Dalam foto-foto itu terekam berbagai kegiatan dari waktu ke waktu. Beberapa kegiatan yang sempat saya catat antara lain, berbuka puasa bersama, pentas seni, wisata, bermain bersama, belajar bersama, pelatihan, dan pengobatan gratis. Kadang-kadang, anak-anak jalanan itu disertakan dalam kegiatan bakti sosial seperti saat bencana meletusnya Gunung Merapi. Mereka diajak untuk mengumpulkan dana bagi korban Merapi dan ternyata rasa solidaritas dan rasa kemanusiaan mereka juga besar.

Mengenai jumlah anak jalanan di Yogyakarta, Pak Sugiya menyebut angka 500, namun itu hanya perkiraan dan meliputi semua umur. Bila ingin tahu jumlah pastinya kita bisa bertanya pada Dinas Sosial. Tidak semua anak jalanan di Yogyakarta didampingi oleh Yayasan Humana karena di Yogyakarta ada cukup banyak yayasan sosial dan rumah singgah yang mendampingi atau menampung anak-anak jalanan, antara lain Komunitas Malioboro, Kandang Macan, Rumah Singgah AnakMandiri, Rumah Singgah Ahmad Dahlan dan masih banyak lagi.

Saya sering mendengar bahwa Yogyakarta sering disebut sebagai surga bagi anak jalanan. Ketika Pak Sugiya saya minta memberikan komentarnya, beliau tersenyum. Pak Sugiya tidak memungkiri bahwa banyak orang mengatakan bahwa Yogyakarta menjadi surga bagi anak jalanan. Memang, banyak anak jalanan dari kota lain berdatangan ke Yogyakarta karena dalam peraturan daerah disebutkan adanya perlindungan terhadap anak yang bekerja di jalanan. Selain itu, penyebutan anak jalanan di Yogyakarta sedikit lebih halus daripada istilah yang digunakan di kota lain, misalnya gepeng (gelandangan dan pengemis). Dalam kenyataannya tidak semua anak yang menempuh hidup di jalanan disebabkan faktor ekonomi. Beberapa di antara mereka lari dari rumah karena faktor-faktor lain, misalnya ingin bebas, karena ketidakharmonisan keluarga, broken home, atau ingin mencoba kehidupan yang berbeda. Jadi penyebabnya tidak semata-mata faktor ekonomi. Oleh karena itu penyebutan gepeng (gelandangan dan pengemis) dirasa kurang pas.

Ada lagi perbedaan sikap masyarakat terhadap anak jalanan di Yogyakarta dan di kota-kota besar lainnya. Di Yogyakarta masih banyak orang yang peduli terhadap anak jalanan. Tidak jarang dijumpai orang yang memberikan nasi bungkus atau makanan lain kepada anak-anak jalanan yang mengamen di simpang-simpang empat di dekat lampu lalu-lintas. Kadang-kadang ada juga yang memberikan uang receh kepada mereka meskipun di beberapa tempat sudah dipasang poster yang berisi anjuran untuk tidak memberikan uang kepada anak jalanan di simpan-simpang empat. Di kota-kota besar lain, misalnya di Jakarta, peraturan mengenai anak jalanan (gepeng) lebih ketat. Orang-orang yang memberikan sekadar uang receh kepada anak jalanan (gepeng) di simpan-simpang empat akan dikenai denda.

Kebanyakan anak-anak jalanan yang kabur dari rumah mengganti nama mereka. Biasanya mereka menggunakan nama-nama yang sekilas terasa agak kasar tapi lebih akrab di antara mereka. Pak Sugiya menuturkan, pernah suatu ketika ada orang tua bermobil bagus mencari anaknya di sebuah rumah singgah. Ketika ditanyakan nama anaknya, tidak ada yang mengetahui anak tersebut. Ketika orang tua itu diminta masuk dan mencari sendiri anaknya di dalam rumah singgah, ternyata anaknya memang ada di situ namun telah berganti nama. Dan si anak tidak mau diajak pulang orang tuanya. Itu merupakan salah satu contoh bahwa faktor ekonomi bukan penyebab satu-satunya seseorang memilih hidup di jalanan.

Ketika saya mengakhiri perbincangan dengan Pak Sugiya, matahari sudah mulai bergeser ke barat. Siang yang terik sudah mulai teduh. Saya merasakan juga suasana teduh ada di ruang kantor Yayasan Humana yang merangkap menjadi ruang baca bagi anak-anak jalanan. Yayasan yang berusia 30-an tahun itu menampung harapan-harapan kecil anak jalanan. Selama kurun waktu itu sudah banyak anak-anak jalanan yang dientaskan, dan akan terus ada anak-anak jalanan yang dientaskan.

Kota besar identik dengan kehidupan modern yang gemerlapan. Kota besar identik dengan impian dan harapan banyak orang untuk mendatanginya, mencoba meraih mimpi di sana. Gemerlapnya kota besar itu seperti gemerlapnya lampu yang menarik laron-laron mengerumuninya. Namun tak dapat dimungkiri, di berbagai sudut kota besar di berbagai belahan bumi, masih ada orang-orang yang memilih hidup di jalanan. Mungkin karena terpaksa, karena faktor ekonomi, mungkin juga karena faktor-faktor lain yang tak dapat dihindari, mungkin juga sebuah pilihan hidup. Masyarakat tidak perlu memberikan stigma yang menyudutkan para pencari hidup di jalanan itu. Bagaimanapun mereka adalah bagian dari masyarakat dan sudah seharusnya menjadi tanggung jawab masyarakat. Suatu saat, entah cepat entah lambat, mereka akan kembali hidup layak di masyarakat.


Tinggalkan komentar

Perbedaan Istilah Drama dan Teater

Penulis: Y. Niken Sasanti

Istilah drama dan teater mengandung pengertian yang berbeda. Berikut ini dipaparkan beberapa uraian mengenai istilah drama dan teater. Dalam Kamus Istilah Sastra dikemukakan bahwa drama adalah karya sastra yang bertujuan menggambarkan kehidupan dengan mengemukakan tikaian dan emosi lewat lakuan dan dialog, lazimnya dirancang untuk pementasan panggung sedangkan teater adalah (1) istilah lain untuk drama dan (2) kumpulan karya drama seseorang atau suatu bangsa (Sudjiman (ed.) 1984: 20 dan 74).

Menurut M. Noor Said (2009: 1-3) teater berasal dari bahasa Yunani yaitu theatron yang berarti takjub memandang. Secara etimologis, teater adalah gedung pertunjukan atau auditorium. Sementara, dalam arti luas teater ialah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak. Namun dalam arti sempit, teater adalah drama, kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas dengan media: percakapan, gerak, dan laku didasarkan pada naskah yang tertulis. Ditunjang dengan dekorasi, musik, nyanyian, tarian, dan sebagainya. Misalnya wayang orang, ketoprak, ludruk, arja, reog, lenong, topeng, dagelan, dan sebagainya.

Teater sebagai tontonan mempunyai dua bentuk, yaitu teater modern dan teater tradisional. Teater tradisional tidak menggunakan naskah. Sutradara hanya menugasi pemain untuk memainkan tokoh tertentu. Para pemain dituntut mempunyai spontanitas dalam berimprovisasi yang tinggi. Contoh teater tradisional antara lain ludruk (Jawa Timur), ketoprak (Jawa Tengah), dan lenong (Jawa Barat). Teater modern menggunakan naskah yang dipegang teguh, dipatuhi dan dilaksanakan seluruhnya. Penataan panggung, musik pengiring, penataan lampu, percakapan dan gerak pemain harus mengikuti naskah.

Sementara itu, pengertian drama yaitu kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas, disaksikan oleh penonton, dengan media percakapan, gerak dan laku, dengan atau tanpa dekorasi (seting), didasarkan atas naskah yang tertulis (hasil dari seni sastra) dengan atau tanpa musik, nyanyian, dan tarian.

Kata drama berasal dari bahasa Yunani “draomai” yang berarti berbuat, berlaku, bereaksi, bertindak. Drama merupakan kualitas komunikasi, situasi, action, (segala yang terlihat dalam pentas/panggung) yang menimbulkan perhatian, kehebatan, dan ketegangan pada pendengar atau penonton. Drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan gerak di hadapan penonton.

Seni drama merupakan suatu tontonan hasil perpaduan dari cabang seni lainnya antara lain:
1. Seni sastra untuk naskah cerita
2. Seni lukis untuk tata rias dan tata panggung
3. Seni musik untuk musik pengiring
4. Seni tari untuk gerak gerik pemain
5. Seni peran untuk pemeranan tokoh.

Beberapa istilah yang mempunyai kedekatan makna dengan drama, yaitu sebagai berikut.
1. Sandiwara
Istilah ini diciptakan oleh Mangkunegara VII, berasal dari kata bahasa Jawa sandhi yang berarti rahasia dan warah yang berarti pengajaran. Oleh Ki Hajar Dewantara istilah sandiwara diartikan sebagai pengajaran yang dilakukan dengan perlambang atau secara tidak langsung.
2. Lakon
Lakon memiliki beberapa arti, yaitu (1) cerita yang dimainkan dalam drama, wayang, atau film, (2) karangan yang berupa cerita sandiwara, dan (3) perbuatan, kejadian, peristiwa.
3. Tonil
Istilah tonil berasal dari bahasa Belanda toneel, yang artinya pertunjukan. Istilah ini popular pada masa penjajahan Belanda.
4. Pentas
Pengertian sebenarnya adalah lantai yang agak tinggi, panggung, tempat pertunjukan, podium, mimbar, tribun.
5. Sendratari
Kepanjangan akronim ini adalah seni drama dan tari, artinya pertunjukan serangkaian tari-tarian yang dilakukan oleh sekelompok orang penari dan mengisahkan suatu cerita tanpa dialog.
6. Opera
Opera berarti drama musik, yaitu drama yang menonjolkan nyanyian dan musik.
7. Operet
Opera kecil, singkat, pendek.
8. Tablo
Tablo yaitu drama yang menampilkan kisah dengan sikap dan posisi pemain, dibantu oleh pencerita. Pemain-pemain tablo tidak berdialog.

Adrian Darma Wijaya membedakan ciri-ciri drama dan teater sebagai berikut.
1. Drama
a. drama tidak memerlukan pengucapan vokal yang cukup kuat, karena diperkuat atau diambil oleh microfone
b. emosi tidak perlu kuat, karena akan diperkuat oleh kamera yang mengambil
secara short shoot atau close up
c. make up cukup tipis, karena akan diperkuat oleh kamera
d. pengambilan adegan secara partial atau sebagian-sebagian yang
dipotong-potong menjadi sangat pendek-pendek sesuai dengan yang akan di
ceritakan, sehingga adegan yang salah bisa diulang-ulang hingga mencapai
seperti yang dikehendaki oleh sutradara
2. Teater
a. pengucapan vokal harus sangat kuat, karena penampilan dilakukan di atas
panggung dan vokal harus terdengar hingga penonton di barisan yang paling
belakang
b. emosi atau perasaan harus ekstreem, karena penampilan dilakukan di atas
panggung dan emosi atau perasaan harus terlihat hingga penonton di barisan
yang paling belakang
c. make up harus ekstrem, karena penampilan dilakukan di atas panggung dan
make up harus terlihat hingga penonton di barisan yang paling belakang.
d. adegan dari awal hingga akhir penampilan atau show harus sempurna, karena
tidak ada jeda atau pengulangan bagi adegan yang salah, salah pada salah
satu adegan atau dialog, maka rusaklah semua performa yang sedang
ditampilkan (http://groups.google.com/group/soc.culture.australian/)

Dalam situs loker seni ditemukan perbedaan drama dan teater sebagai berikut.
1. Drama
a. Arti pertama dari Drama adalah kualitas komunikasi, situasi, actiom (segala yang terlihat di pentas) yang menimbulkan perhatian, kehebatan (axciting), dan ketegangan pada para pendengar.
b. Menurut Moulton : Drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak (life presented in action).
c. Menurut Ferdinand Brunetierre : Drama haruslah melahirkan kehendak dengan action.
d. Menurut Balthazar Vallhagen : Drama adalah kesenian melukiskan sifat dan sifat manusia dengan gerak.
e. Arti kelima drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan action dihadapan penonton (audience).
2. Teater
a. ada yang mengartikan sebagai “gedung pertunjukan”
b. ada yang mengartikan sebagai “panggung” (stage)
c. secara etimologi (asal kata), teater adalah gedung pertunjukan (auditorium).
d. dalam arti luas teater adalah kisah hidup dah kehidupan manusia yang dipertunjukan di depan orang banyak. Misalnya wayang orang, ludruk, lenong, reog, sulapan.
e. alam arti sempit teater adalah kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan dalam pentas, disaksikan oleh orang banyak, dengan media, gerak, percakapan dan laku, dengan atau tanpa dekor (layar) didasarkan pada naskah yang tertulis (hasil seni sastra) dengan atau tanpa musik
(http://www.lokerseni.web.id/2011/04/perbedaan-drama-dengan-teater.html/)

Demikian beberapa uraian mengenai perbedaan istilah drama dan teater. Semoga bermanfaat.

Sumber:
Said. M. Noor. 2009. Mengenal Teater di Indonesia. Semarang: Penerbit Aneka Ilmu.
Sudjiman, Panuti. 1984. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Penerbit PT Gramedia.
Adrian Darma Wijaya (http://groups.google.com/group/soc.culture.australian/)
(http://www.lokerseni.web.id/2011/04/perbedaan-drama-dengan-teater.html/)


Tinggalkan komentar

RAGAM WACANA

Penulis: Y. Niken Sasanti

1. Pengantar
Sebagai wujud penggunaan bahasa, wacana itu ada beraneka ragam. Tentang keragaman wacana itu, sejumlah ahli wacana telah mengemukakan pendapatnya dengan dasar yang berbeda-beda. Para ahli yang dimaksud antara lain Longacre (1968) dan Wedhawati dkk (1979), Tarigan (1987), Baryadi (2002), dan Mulyana (2005). Dalam tulisan ini dipaparkan pendapat para ahli tersebut tentang ragam wacana dan dasar pengklasifikasiannya. Pemaparan pendapat para ahli tersebut dalam tulisan ini didasarkan pada urutan tahun terbitan bukunya. Setelah itu, pada akhir tulisan ini dikemukakan rangkumannya.

2. Pendapat Longacre (1968) dan Wedhawati (1979) tentang Ragam Wacana
Berdasarkan bentuknya, Robert E. Longacre (1968) membedakan wacana menjadi (a) wacana naratif, (b) wacana procedural, (c) wacana ekspositori, (d) wacana hortatori, (e) wacana epistolari, dan (f) wacana dramatik. Kemudian Wedhawati dkk (1979: 41) menambah satu jenis wacana lagi berdasarkan bentuknya itu, yaitu (g) wacana seremonial. Dengan demikian, berdasarkan bentuknya, wacana dapat diklasifikasikan menjadi tujuh jenis.
Wacana naratif adalah wacana yang menceritakan suatu peristiwa, misalnya cerita pendek, novel, cerita rakyat, dan biografi. Wacana prosedural merupakan wacana yang berisi tentang langkah-langkah melakukan suatu perbuatan, misalnya cara melakukan suatu tindakan, cara membuat sesuatu, resep masakan, dan sejenisnya. Wacana hortatori adalah wacana yang disusun dengan tujuan untuk mempengaruhi pendapat orang lain, misalnya khotbah, nasihat atau petuah, dan pidato politik. Wacana ekspositori adalah wacana yang menjelaskan sesuatu, misalnya artikel ilmiah, makalah, skripsi, dan sebagainya. Wacana dramatik merupakan wacana yang berbentuk dialog antarpenutur, misalnya drama, sandiwara, dan scenario film.
3. Pendapat Brown dan Yule (1983) tentang Ragam Wacana
Brown dan Yule (1983: 6-9) menyebutkan bahwa realisasi wacana adalah teks. Berdasarkan cara memproduksinya, teks dibedakan menjadi dua yaitu teks tertulis dan teks lisan. Teks tertulis adalah wacana yang diproduksi secara tertulis sedangkan teks lisan adalah wacana yang diproduksi secara lisan (bandingkan dengan Brown dan Yule, 1996: 6-9).

4. Pendapat Tarigan (1987) tentang Ragam Wacana
Tarigan (1987: 51-67) mengklasifikasikan wacana berdasarkan empat hal, yaitu (1) tertulis tidaknya wacana, (2) langsung tidaknya pengungkapan wacana, (3) cara penuturan wacana, dan (4) bentuknya. Berdasarkan apakah wacana itu disampaikan dengan media tulis atau media lisan, wacana dibedakan menjadi (a) wacana tulis dan (b) wacana lisan. Berdasarkan langsung tidaknya pengungkapan, wacana dikelompokkan menjadi (a) wacana langsung dan (b) wacana tidak langsung. Berdasarkan cara menuturkannya, wacana dapat diklasifikasikan menjadi wacana pembeberan dan wacana penuturan. Berdasarkan bentuknya, wacana dibedakan menjadi (a) wacana prosa, (b) puisi, dan (c) wacana drama.

5. Pendapat Baryadi (2002) tentang Ragam Wacana
Baryadi (2002: 9-14) mengelompokkan wacana berdasarkan tujuh hal, yaitu (1) media yang dipakai untuk mewujudkannya, (2) keaktifan partisipan komunikasi, (3) tujuan pembuatan wacana, (4) bentuk wacana, (5) langsung tidaknya pengungkapan, (6) genre sastra, dan (7) isi wacana.
Berdasarkan media yang dipakai untuk mewujudkannya, dapat dibedakan menjadi dua jenis wacana, yaitu (a) wacana lisan dan (b) wacana tulis. Berdasarkan keaktifan partisipan komunikasi, wacana dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu (a) wacana monolog, (b) wacana dialog, dan (c) wacana polilog. Berdasarkan tujuan pembuatan wacana, wacana diklasifikasikan menjadi (a) wacana naratif, (b) wacana deskriptif, (c) wacana eksposisi, (d) wacana argumentatif, (e) wacana persuasif, (f) wacana informatif, (g) wacana prosedural, (h) wacana hortatori, (i) wacana regulatif, (j) wacana humor, (k) wacana jurnalistik. Berdasarkan bentuknya, wacana dikelompokkan menjadi (a) wacana epistolari, (b) wacana kartun, (c) wacana komik, dan (d) wacana mantra. Atas dasar kelangsungannya, wacana diklasifikasikan menjadi (a) wacana langsung dan (b) wacana tidak langsung. Atas dasar genre sastra, wacana dapat dibedakan menjadi (a) wacana prosa, (b) wacana puisi, dan (c) wacana drama. Menurut isinya, wacana dapat dibedakan menjadi (a) wacana politik, (b) wacana olah raga, (c) wacana ekonomi, (d) wacana ilmiah, (e) wacana pendidikan, dan sebagainya.

6. Pendapat Mulyana (2005) tentang Ragam Wacana
Mulyana (2005: 47-66) mengklasifikasikan wacana berdasarkan enam hal, yaitu (1) bentuk, (2) media penyampaian, (3) jumlah penutur, (4) sifat, (5) isi, dan (6) gaya dan tujuan. Atas dasar bentuknya, wacana dikelompokkan menjadi tujuh jenis, yaitu (a) wacana naratif, (b) wacana prosedural, (c) wacana ekspositori, (d) wacana hortatori, (e) wacana dramatik, (f) wacana epistolari, dan (g) wacana seremonial. Pengelompokan wacana berdasarkan bentuk ini mengikuti pengelompokan yang dilakukan oleh Robert E. Longacre dan Wedhawati dkk. Berdasarkan media penyampaiannya, wacana dibedakan menjadi (a) wacana tulis dan (b) wacana lisan. Berdasarkan jumlah penuturnya, wacana dikelompokkan menjadi (a) wacana monolog dan (b) wacana dialog. Berdasarkan sifatnya, wacana diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu (a) wacana fiksi dan (b) wacana nonfiksi. Atas dasar isinya, wacana dapat dibedakan menjadi (a) wacana politik, (b) wacana sosial, (c) wacana ekonomi, (d) wacana budaya, (e) wacana militer, (f) wacana hukum dan kriminalitas, dan (g) wacana olah raga dan kesehatan. Berdasarkan gaya dan tujuannya, hanya ada satu jenis wacana, yaitu wacana iklan. Ragam wacana yang dikemukakan oleh Mulyana dapat ditunjukkan melalui tabel berikut.

7. Rangkuman
Di antara para ahli, terdapat persamaan dan perbedaan dasar penentuan ragam wacana. Persamaannya misalnya berdasarkan media penyampaiannya, wacana dibedakan menjadi wacana lisan dan wacana tulis. Berdasarkan isinya, wacana dibedakan antara lain menjadi wacana politik, wacana sosial, wacana ekonomi, wacana olah raga dan kesehatan, wacana budaya, wacana pendidikan, wacana ekonomi, wacana ilmiah, wacana militer, wacana hukum dan kriminalitas, dan sebagainya. Perbedaannya antara lain jenis wacana yang sama ditentukan dengan dasar klasifikasi yang berbeda. Misalnya wacana naratif, prosedural, hortatori, dan wacana ekspositori oleh Longacre dan Mulyana diklasifikasi berdasarkan bentuknya, sedangkan oleh Baryadi diklasifikasi berdasarkan tujuannya.
Lepas dari persamaan dan perbedaan tersebut, berbagai jenis wacana yang telah disebutkan para ahli tersebut dapat dirangkum atau didaftar sebagai berikut.
(1) wacana lisan
(2) wacana tulis
(3) wacana langsung
(4) wacana tidak langsung
(5) wacana monolog
(6) wacana dialog
(7) wacana polilog
(8) wacana naratif atau penuturan
(9) wacana ekspositori atau pembeberan
(10) wacana hortatori
(11) wacana deskriptif
(12) wacana argumentasi
(13) wacana epistolari
(14) wacana prosedural
(15) wacana seremonial
(16) wacana persuasif
(17) wacana informatif
(18) wacana humor
(19) wacana jurnalistik
(20) wacana prosa
(21) wacana puisi
(22) wacana drama
(23) wacana fiksi
(24) wacana nonfiksi
(25) wacana iklan
(26) wacana politik
(27) wacana pendidikan
(28) wacana olah raga dan kesehatan
(29) wacana hukum dan kriminalitas
(30) wacana ilmiah
(31) wacana militer
(32) wacana sosial
(33) wacana budaya
(34) wacana komik
(35) wacana mantra
(36) wacana kartun
Tentu saja masih ada jenis wacana lain yang belum disebutkan di atas.

 DAFTAR PUSTAKA

Baryadi, I. Praptomo. 2002. Dasar-dasar Analisis Wacana dalam Ilmu Bahasa. Yogyakarta: Penerbit Gondosuli.

Brown, Gillian dan George Yule. 1983. Discourse Analysis. Cambridge: Cambridge University Press.

——-. 1996. Analisis Wacana (Discourse Analysis) (diterjemahkan oleh I. Soetikno). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Longacre, Robert E. 1968. Discourse, Paragraph, and Sentence Structure in Selected Phillipine Languages. Santa Ana. California: The Summer Institute of Linguistics.

Mulyana. 2005. Kajian Wacana: Teori, Metode & Aplikasi Prinsip-prinsip Analisis Wacana. Yogyakarta: Penerbit Tiara Wacana.

Tarigan, Henry Guntur. 1987. Pengajaran Wacana. Bandung: Penerbit Angkasa.

Wedhawati dkk. 1979. Wacana Bahasa Jawa. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

 

 


Tinggalkan komentar

Tradisi Bekakak di Ambarketawang Sleman

Asal Usul Bekakak

Desa Ambarketawang memiliki tradisi khas berupa penyembelihan bekakak, sepasang boneka temanten (pengantin Jawa) muda yang terbuat dari tepung ketan. Tradisi ini dilaksanakan setahun sekali dalam bulan Sapar dalam Kalender Jawa. Oleh sebab itu upacara ini disebut juga Saparan. Upacara ini diadakan atas perintah P. Mangkubumi. Mengenai kata saparan berasal dari kata sapar dan berakhiran -an. Kata sapar identik dengan ucapan Arab Syafar yang berarti bulan Arab yang kedua. Jadi Saparan ialah upacara selamatan yang diadakan di setiap bulan Sapar.

Saparan di Desa Ambarketawang disebut juga Saparan Bekakak. Bekakak berarti korban penyembelihan hewan atau manusia. Bekakak pada Saparan ini hanya tiruan manusia saja, berujud boneka pengantin dengan posisi duduk bersila yang terbuat dari tepung ketan.
Tradisi ini terkait dengan tokoh Ki Wirasuta, satu dari tiga bersaudara dengan Ki Wirajamba, dan Ki Wiradana yang merupakan abdi dalem Hamengkubuwana I yang sangat dikasihi. Dahulu, ketika pembangunan Keraton Yogyakarta sedang berlangsung, para abdi dalem tinggal di pesanggrahan Ambarketawang kecuali Ki Wirasuta yang memilih tinggal di sebuah gua di Gunung Gamping. Pada bulan purnama, antara tanggal 10 dan 15, pada hari Jumat, terjadi musibah, Gunung Gamping longsor. Ki Wirasuta dan keluarganya tertimpa longsoran dan dinyatakan hilang karena jasadnya tidak ditemukan. Hilangnya Ki Wirasuta dan keluarganya di Gunung Gamping ini menimbulkan keyakinan pada masyarakat sekitar bahwa jiwa dan arwah Ki Wirasuta tetap ada di Gunung Gamping.

Upacara Saparan semula bertujuan untuk menghormati kesetiaan Ki Wirasuta dan Nyi Wirasuta kepada Sri Sultan Hamengkubuwana I. Tapi kemudian berubah dan dimaksudkan untuk mendapatkan keselamatan bagi penduduk yang mengambil batu gamping agar terhindar dari bencana. Sebab pengambilan batu gamping cukup sulit dan berbahaya.

Pelaksanaan Upacara Bekakak

Bekakak yang dibuat adalah dua pasang pengantin. Satu pasang berbusana adat Solo dan satu pasang lainnya berbaju adat Yogyakarta. Pembuatan Bekakak bisa memakan waktu hingga 6 jam lebih dengan diiringi gejog lesung dan tembang-tembangan Jawa lainnya. Yang menyiapkan bahan mentahnya adalah para wanita, sedangkan yang mengerjakan pembuatan bekakak adalah para pria. Mereka tidak hanya membuat bekakak pengantin, namun juga membuat bekakak gendruwo dan wewe yang biasanya sangat besar ukurannya.

Ada 3 ritual pada acara ini yaitu (1) midodareni bekakak, (2) kirab dan penyembelihan pengantin bekakak, dan (3) sugengan ageng. Seperti pengantin pada umumnya, bekakak ini juga memakai acara midodareni. Acara midodareni berlangsung pada malam hari (Kamis malam). Bekakak, sesaji, gendruwo, dan wewe diarak dari tempat pembuatan menuju balaidesa. Kemudian diadakan pentas dan tirakatan.

Keesokan harinya, yaitu pada hari Jumat diadakan Kirab bekakak, yaitu arak-arakan membawa jali pengantin bekakak serta sesaji ke tempat penyembelihan. Kirab tersebut berawal dari balai desa menuju bekas Gunung Ambarketawang yang menjadi tempat penyembelihan bekakak pertama kali. Peserta kirab antara lain, reyog dan jathilan kemudian sesaji, barisan prajurit yang membawa umbul-umbul seperti prajurit daeng, rombongan demang, kaum atau rois, prajurit pembawa tombak, pemudi-pemudi dengan baju hijau membawa landak gemak dan merpati. Kemudian, sepasang pengantin bekakak diusung ke mulut gua. Setelah didoakan bekakak disembelih, lalu dipotong-potong untuk dibagikan kepada pengunjung.

Arak-arakan kemudian berlanjut menuju tempat penyembelihan kedua yaitu di Gunung Kliling. Acara ini disebut Sugengan Ageng. Biasanya dipimpin oleh Ki Juru Permana yang membuka upacara dengan mengikrarkan adanya Sugengan Ageng. Setelah mendoakan sesaji, sepasang burung merpati putih dilepaskan disertai tepuk tangan para hadirin yang menyaksikan. Sebelumnya yang dilepaskan adalah sepasang burung gagak, namun karena populasi gagak semakin kecil akhirnya diganti burung merpati. Sesaji Sugengan Ageng kemudian dibagikan kepada semua yang hadir, di antaranya adalah tawonan kegemaran Sultan Hamengku Buwana I. Setelah sesaji habis terbagi, ritual Sugengan Ageng pun ditutup. Sugengan Ageng menjadi ritual tempat segala permohonan dihaturkan. Pelepasan sepasang burung diyakini sebagai jalan dan pengantar atas segala permohonan tersebut pada Yang Kuasa.

Makna Simbolik dalam Tradisi Bekakak

Masyarakat Gamping dahulu mempercayai bahwa tradisi bekakak dan sesaji-sesaji di dalamnya mengandung makna simbolik, makna simbol-simbol yang ada pada tradisi bekakak pada umumnya dijadikan sebagai pengingat, agar masyarakat Ambarketawang selamat dari bahaya selama masih di dunia. Simbol-simbol yang mengandung makna pada tradisi bekakak antara lain: sepasang pengantin bekakak mempunyai makna agar korban manusia bagi penduduk pencari batu kapur tidak terjadi lagi. Clupak mempunyai makna jika sesaji itu sudah dipersembahkan, maka kehidupan masyarakat akan kembali terang. Gendruwo dan Wewegombel sebagai simbol atau gambaran wujud dayang atau penghuni Gunung Gamping, kain bangun tolak mempunyai makna atau simbol akan bahaya atau pantangan agar dapat ditolaknya, dan masih banyak lagi makna simbol-simbol dalam tradisi bekakak.
Sumber:
http://sunudotcom.blogspot.com/2010/09/upacara-adat-saparan-bekakak.html
http://www.ruparagam.com/ragamplus/agenda/upacara-adat-saparan-bekakak-0
http://id.wikipedia.org/wiki/Ambarketawang,_Gamping,_Sleman

Catatan:
Tawonan atau jenang tawonan adalah salah satu makanan kegemaran Sultan Hamengkubuwono I. Makanan tradisional ini dapat kita buat sendiri untuk keluarga. Berikut ini disajikan resepnya.

Bahan Resep Jenang Tawonan:
• 1 kg Tepung beras
• 1 kg Gula merah
• 1 lt Santan dari 1,5 btr kelapa
Cara Membuat Resep Jenang Tawonan:
• Masak tepung beras, gula merah dengan santan secukupnya (jangan   encer). Tuang di Loyang beralas daun pisang, kukus hingga matang. Angkat
• Setelah dingin, potong-potong
• Sajikan dalam piring saji


Tinggalkan komentar

Kesederhanaan dan Keindahan Joko Pinurbo

Penulis: Y. Niken Sasanti

Pendahuluan
Joko Pinurbo (biasa dipanggil Jokpin) lahir di Sukabumi, Jawa Barat, 11 Mei 1962. Lulusan Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Sanata Dharma ini mulai mempublikasikan puisinya pada tahun 1979, saat ia berusia 18 tahun. Dia menjadi penyair di usia yang relatif muda (bandingkan dengan Chairil Anwar yang mempublikasikan puisinya yang pertama saat berusia 20 tahun). Saat masih menjadi mahasiswa, ia aktif dalam organisasi kemahasiswaan dan aktif bersastra (terutama menulis puisi). Ia menikah dan tinggal di Yogyakarta sampai saat ini.

Puisi-puisinya diterbitkan dalam buku-buku kumpulan puisi, antara lain Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacarkecilku (2002), Trouser Doll (terjemahan Celana; 2002), Telepon Genggam (2003), Kekasihku (2004, cetak ulang 2010), Pacar Senja (Seratus Puisi Pilihan; 2005), Kepada Cium (2007), Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung (cetak ulang tiga kumpulan puisi, 2007), Tahilalat (2012). Selain didokumentasikan dalam bentuk buku, puisi-puisinya dimuat secara lengkap pada Jokpin@blogspot.com. Beberapa puisinya juga diterjemahkan dalam berbagai bahasa.

Tidak hanya menulis puisi, Joko Pinurbo juga sering diundang menjadi pembicara dalam berbagai kegiatan kesastraan. Dalam forum tersebut, ia juga sering membacakan puisi-puisinya.
Selama masa kepenyairannya, Joko Pinurbo mendapatkan berbagai penghargaan. Beberapa di antaranya adalah Penghargaan Buku Puisi Pusat Kesenian Jakarta (2000), Hadiah Sastra Lontar (2001), Sih Award (2001), Tokoh Sastra Pilihan Tempo (2001), Penghargaan Sastra Pusat Bahasa (2002), Khatulistiwa Literary Award (2005).

Perjalanan Kepenyairan Joko Pinurbo
Perjalanan kepenyairan Joko Pinurbo sudah cukup panjang. Dimulai saat masih remaja belasan tahun (akhir tahun 1970-an atau awal 1980-an) sampai kini usianya telah berkepala lima. Selama itu pula, proses kreatifnya mengalami dinamika perubahan sebagaimana tampak dalam puisi-puisinya dari waktu ke waktu.

Korrie Layun Rampan (dalam Waluyo, 2010: 382) memasukkan Joko Pinurbo ke dalam penyair Angkatan 2000. Ciri-ciri puisi Angkatan 2000 ini antara lain: kata-kata diambil dari bahasa sehari-hari yang oleh Korrie Layun Rampan disebut “Kerakyat-jelataan”; revolusi tipografi atau tata wajah, yaitu menggunakan tata wajah yang bebas dari aturan dan cenderung ke puisi konkret; penggunaan estetika baru yang disebut “antromorfism” yaitu gaya bahasa yang berupa penggantian tokoh manusia sebagai “aku lirik” ke benda-benda; penciptaan interaksi massal dari hal-hal yang bersifat individual; komposisi dibangun dalam pengaturan partisipasi benda-benda, peristiwa, pertanyaan aku lirik dalam perfeksi yang sejajar dan objektif; puisi-puisi profetik (keagamaan/religiositas) dengan kecenderungan menciptakan penggambaran yang lebih konkret melalui alam, rumput, atau daun-daun. Kritik sosial juga masih muncul bahkan dengan lebih tajam. Banyak puisi yang nirbait, penggunaan citraan alam benda. Adanya pergeseran “atavisme” (cerita/dongeng kuno) dengan pelukis yang bersifat isoterik (terasing), bercirikan warna lokal dengan inovasi sehingga menghilangkan sifat keterasingan. Adanya penggantian aku lirik luaran ke dalam aku lirik dalaman.

Berkaitan dengan perkembangan kepenyairan Joko Pinurbo, dalam esainya, Agung Dwi Ertato (AgungDwiErtato@blogspot.com) menulis tentang Joko sebagai berikut. Joko Pinurbo adalah penyair yang tumbuh dan berkembang pada era kekuasaan hegemonik Orde Baru. Pria kelahiran Sukabumi ini melakukan metamorfosis estetik kepenyairannya. Metamorfosis tersebut merupakan pertunjukkan estetik yang ditampilkan oleh Joko Pinurbo dalam menentang hegemoni penguasa Orde Baru. Berikut ini ditampilkan puisi Joko Pinurbo yang ditulis tahun 1986.

PENYAIR TARDJI
Tardji minta bir buat pesta di malam buta.
“Sampai tuntas pahit-asamnya.
Sampai pecah ini botolnya.”

Dalam mabuk ia minta tuak dari jantungMu.
“Mana kapak? Biar kutetak leher panjangMu.”

Sampai huruf habislah sudah.
Sampai nganga luka dibelah.
“Ya Allah, sajak terindah kutemu dalam Kau darah.”

(1986)
Dalam puisi tersebut tampak bahwa penyair menonjolkan bunyi yang memiliki persajakan yang indah seperti yang kita jumpai pada puisi-puisi yang menonjolkan keindahan bunyi, antara lain puisi-puisi Sapardi Joko Damono, Goenawan Muhamad, dan Abdul Hadi W.M.
Mengenai hal ini, Agung Dwi Ertato menuliskan wacana estetik puisi Joko Pinurbo masih berkisar pada jenis puisi lirik yang dikembangkan oleh Goenawan Muhamad dan Sapardi Joko Damono. Pada tahun 1989, wacana estetik Joko Pinurbo mulai bergeser atau bermetamorfosis. Ia sudah tidak lagi menggunakan wacana estetik puisi lirik yang dulu ia gunakan pada awal kepenyairannya. Ia mulai menggunakan gaya narasi dalam lirik-lirik puisinya. Menggunakan potongan cerita atau kisah pendek namun tetap menggunakan metafora-metafora yang menimbulkan ironi.

Selanjutnya Agung Dwi Ertato menambahkan, pada periode awal 1990-an hingga mendekati masa keruntuhan kekuasaan hegemoni Orde Baru, wacana estetik yang dilakukan Joko Pinurbo terus berkembang dan menemukan bentuk khasnya. Pada tahun 1990-an, Joko Pinurbo membuat puisi dengan gaya yang berbeda, tidak lagi kembali pada tradisi puisi lirik ataupun terjebak pada kegelapan puisi à la Afrizal Malna. Ia mengembangkan gayanya sendiri berupa gaya humor dengan menggunakan bahasa yang sering kita jumpai sehari-hari seperti celana, ranjang, dan sarung.
Pada periode itu pula, Orde Baru sedang gencar-gencarnya melakukan represif terhadap penentangnya. Buktinya adalah pembredelan sejumlah media massa seperti Tempo. Joko Pinurbo, dalam sajak ‘Tuhan Datang Malam Ini’, berhasil menangkap peristiwa pemberedelan Tempo. Kritiknya terhadap hegemoni Orde Baru memang tak sekeras W.S. Rendra, namun ironi muncul pada puisi tersebut

Tuhan datang malam ini
di gudang gulita yang cuma dihuni cericit tikus
dan celoteh sepi. Ia datang dengan sebuah headline
yang megah: “Telah kubredel ketakutan
dan kegemetaranmu. Kini bisa kaurayakan kesepian
dan kesendirianmu dengan lebih meriah.”
Dengar, Tuhan melangkah lewat dengan sangat gemulai
di atas halaman-halaman yang hilang,
rubrik-rubrik terbengkelai.
….

(“Tuhan Datang Malam Ini”, Joko Pinurbo, dalam Pacar Senja, hal. 111)

Metafora yang dilakukan oleh Joko Pinurbo untuk penguasa Orde Baru adalah Tuhan. Orde Baru pada masa tahun 1990-an memang seperti “Tuhan”. Penguasa dengan mudah membredel media massa yang menentang penguasa Orde Baru. Orde Baru seperti “Tuhan”, mempunyai kekuasaan tak berbatas di Indonesia.
Beberapa lagi masih terdapat wacana estetik yang orisinil dan khas yaitu narasi humor tragisnya (pada puisi “Celana Ibu”, 2004)

CELANA IBU

Maria sangat sedih menyaksikan anaknya
mati di kayu salib tanpa celana
dan hanya berbalutkan sobekan jubah
yang berlumuran darah.

Ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit
dari mati, pagi-pagi sekali Maria datang
ke kubur anaknya itu, membawakan celana
yang dijahitnya sendiri dan meminta
Yesus untuk mencobanya.

“Paskah?” tanya Maria.
“Pas sekali, Bu,” jawab Yesus gembira.

Mengenakan celana cinta buatan ibunya,
Yesus naik ke surga.

2004
(Pacar Senja, Joko Pinurbo, hal. 14)

Ayu Utami (dalam Jokpin@blogspot.com), novelis yang cukup mengagumi karya Joko Pinurbo mengatakan, karya Joko dimungkinkan untuk nyeleneh lantaran bentuknya yang bercerita. Secara umum, sajaknya adalah sajak yang bercerita. Itu ciri utamanya. Barangkali sebagian bisa dianggap golongan cerita mini juga.

Arkib (Utusan.com 21-10-2012 dalam Jokpin@blogspot.com) menuliskan, walaupun Joko Pinurbo berbahasa seperti bercerita dalam setiap puisinya, selalu ada keanehan, misteri dan kejutan pada bahagian akhir puisi. Dan penyudah puisi Joko itulah sebenarnya yang berjaya mencuit hati kita dan adakalanya kita temui kejutan yang tidak disangka serta ia menarik kita untuk membaca puisinya yang lain pula.

Tri Wahyu Utami menuturkan, bagi Jokpin, puisi adalah sebuah kebersahajaan dan kesungguhan.Ia tidak perlu dibebani oleh misi-misi di luar dirinya, yang pada akhirnya menjerumuskannya pada deretan kata yang pekik. Puisi-puisi Jokpin merupakan ironi-ironi hidup manusia sehari-hari yang diungkapkan dengan kata ringan. Ia merasa tidak perlu meletakkan puisi sebagai sesuatu yang ‘sakral’ meski tidak berarti ia menyepelekan kepenyairannya. Misalnya, peristiwa penyalipan dan kebangkitan Yesus Kristus berjudul Celana Ibu, puisi yang paling ia sukai.Jokpin mampu membuang jauh wejangan dari puisinya, meski ia lama bergumul dengan kitab suci dan bahkan peristiwa itu merupakan puncak iman umat Kristiani. Ia menaklukkan narasi yang kasar, menampilkan tokoh Maria dengan kata-kata yang tampak sepele namun mengundang perenungan (Utami, Harian Jogja, Minggu, 26 Agustus 2012). Berikut ini disajikan puisi Celana Ibu.

CELANA IBU

Maria sangat sedih menyaksikan anaknya
mati di kayu salib tanpa celana
dan hanya berbalutkan sobekan jubah
yang berlumuran darah.

Ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit
dari mati, pagi-pagi sekali Maria datang
ke kubur anaknya itu, membawakan celana
yang dijahitnya sendiri dan meminta
Yesus untuk mencobanya.

“Paskah?” tanya Maria.
“Pas sekali, Bu,” jawab Yesus gembira.

Mengenakan celana cinta buatan ibunya,
Yesus naik ke surga.

2004

(Pacar Senja, Joko Pinurbo, hal. 14)

Penutup
Perjalanan kepenyairan Joko Pinurbo memang sudah panjang, melampaui 30 tahun. Namun, impiannya untuk terus menulis puisi masih amat panjang. Tak ada kata untuk berhenti berkarya. Apa pun bisa menjadi ide untuk penulisan puisi. Di situlah letak kesederhanaan dan keindahan puisi-puisi Joko Pinurbo. Tri Wahyu Utami (dalam Harian Jogja) menuliskan obsesi Joko Pinurbo akhir-akhir ini adalah melakukan perjalanan keliling Indonesia untuk menuliskan sejarah dalam bentuk puisi. Semoga Joko Pinurbo terus berkarya dan semoga obsesinya terpenuhi.

Daftar Pustaka

Arkib (Utusan.com 21-10-2012
Jokpin@blogspot.com
Pinurbo, Joko. 2005. Pacar Senja. Jakarta: Grasindo.
Utami, Ayu. 2005. “Joko Pinurbo: Mengapa Kematian, Penyairku” dalam Joko Pinurbo, Pacar
Senja. Jakarta: Grasindo
Tri WahyuUtami, Harian Jogja, Minggu, 26 Agustus 2012.

 


Tinggalkan komentar

Hari Buku Sedunia

Tanggal 23 April dirayakan sebagai Hari Buku Sedunia (World Book Day). Buku diperingati dan dirayakan setiap tahun, bahkan oleh masyarakat dunia karena buku menjadi benda yang begitu penting bagi semua orang yang ingin mendapatkan berbagai informasi dan ingin belajar. Melalui buku kita dapatkan berbagai informasi dalam waktu yang relatif singkat. Melalui buku kita juga bisa menjelajah dunia.

Berbicara tentang Hari Buku ingatan kita akan melayang ke minat baca. Kita tahu bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih rendah. Di tempat-tempat umum, di bus, di kereta api, di taman-taman kota, belum banyak kita jumpai orang yang duduk sambil membaca buku. Orang-orang yang ada di situ lebih banyak bercengkerama, berbicara, termenung, melamun, bahkan memejamkan mata. Kebanyakan perpustakaan di Indonesia juga belum banyak pengunjungnya. Bahkan pengunjung perpustakaan sekolah juga belum sebanyak yang diharapkan. Ini menunjukkan bahwa membaca buku belum menjadi kebutuhan apalagi budaya.
Melalui peringatan Hari Buku Sedunia ini, kita lakukan usaha untuk meningkatkan minat baca orang Indonesia, khususnya kaum muda. Di sekolah, guru-guru bisa memberikan contoh untuk banyak membaca buku. Para guru juga bisa memberikan tugas-tugas kepada siswa yang dapat dikerjakan dengan bahan-bahan dari buku-buku di perpustakaan sekolah. Para siswa juga bisa ditugasi untuk membuat sinopsis. Masih banyak lagi hal-hal lain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan minat baca kaum muda terhadap buku.

Ada banyak gayutan dalam meningkatkan kecintaan kita terhadap buku di tengah situasi masyarakat kita. Buku bisa dipakai sebagai sarana untuk memerangi kebodohan. Memerangi kebodohan juga berarti memerangi kemiskinan. Buku juga bisa dipakai untuk meredam kemarahan. Meredam kemarahan juga berarti ada keinginan untuk menyelesaikan segala konflik dengan jalan damai. Untuk itu, mari kita budayakan membaca buku. Menjadi kutu buku lebih baik daripada mati kutu. (Y. Niken Sasanti)