Bilik Kata

Berbagi lewat bahasa, sastra, dan budaya


Tinggalkan komentar

Sudah Siapkah belajar di Sekolah Kembali?

Mas Menteri Nadiem Makarim menyatakan bahwa bila sekolah akan dibuka kembali dalam masa new normal, minimal ada sepuluh syarat yang harus dipenuhi sekolah, yaitu:

  1. Ketersediaan fasilitas sanitasi dan kebersihan
  2. Menjaga jarak peserta didik 1,5-2 meter di kelas
  3. Pembatasan isi ruangan kelas (15-18siswa)
  4. Pembatasan jam belajar siswa
  5. Penerapan wajib masker
  6. Kecukupan jumlah guru yang masuk batas usia dan tidak rentan
  7. Peniadaan aktivitas di kantin sekolah
  8. Peniadaan aktivitas pertemuan orang tua dan guru di lingkungan sekolah
  9. Peniadaan aktvitas siswa berkumpul dan bermain di sekolah
  10. Peniadaan aktivitas ekstrakurikuler

Untuk syarat nomor satu, saat ini tentunya sekolah-sekolah sedang berusaha memenuhinya, antara lain dengan menambah jumlah wastafel, penyediaan sabun cuci tangan, hand sanitizer, dan cairan desinfenktan untuk penyemprotan. Syarat nomor dua, tiga, empat, dan lima dapat diusahakan.  Syarat nomor tujuh dan sepuluh dapat dipenuhi.

Syarat nomor delapan dan sembilan dapat diusahakan meskipun tidak gampang. Biasanya saat mengantar atau menjemput anak-anaknya, cukup banyak orang tua yang tidak langsung meninggalkan lingkungan sekolah  melainkan berinteraksi dengan sesama orang tua. Apalagi mereka yang sudah memiliki kelompok-kelompok paguyuban orang tua, biasanya ada saja yang dibahas, entah tentang anak-anaknya, tentang sekolah, dan yang lain. Pertemuan orang tua dengan guru bisa disiasati dengan media online.  Yang agak sulit adalah menahan siswa untuk tidak berinteraksi dengan teman-temannya di luar kelas.  Bila siswa sudah datang ke sekolah, dapatkah kita menyuruh mereka berdiam di kelas sampai pelajaran usai padahal mereka adalah anak-anak yang ingin selalu bergerak? Ini bisa diatasi dengan cara, istirahat tetap di dalam kelas,  mengurangi jam istirahat atau bahkan meniadakan jam istirahat. Oleh sebab itu, diperlukan pengawasan dan ketegasan sekolah agar tidak ada aktvitas berkumpul di luar kelas.

Yang paling sulit adalah memenuhi syarat nomor enam. Berapa sih batas usia yang rentan terhadap virus corona? Ada yang mengatakan 30 tahun ke atas, ada yang mengatakan 45 tahun ke atas. Jumlah guru yang usianya kepala empat bahkan kepala lima sangat banyak. Di sebuah sekolah bisa jadi guru yang berusia kepala lima lebih dari lima puluh persen. Bila guru berusia rentan harus WFH, maka guru yang masuk sekolah harus full power mengajar dan mengurusi anak-anak yang masuk sekolah.  Yang paling repot adalah bila guru-guru pengajar mata pelajaran tertentu semuanya berusia rentan. Misalnya di sebuah sekolah, guru matematikanya berusia empat puluh lima tahun ke atas semua dan mereka harus WFH semua, tentu akan repot sekali melayani anak-anak di sekolah.

Bagaimana pun suatu saat nanti, sekolah akan kembali dibuka bila keadaan sudah membaik. Tentu menunggu keadaan benar-benar aman. Entah itu di bulan Oktober, Desember, atau bahkan pada tahun depan. Syarat-syarat yang dikemukakan Mas Menteri akan dipenuhi oleh sekolah-sekolah. Selain syarat-syarat di atas, sekolah juga harus menyiapkan kurikulum yang diadaptasi sesuai kondisi masa covid-19. Guru-guru juga harus menyiapkan perangkat pembelajaran, materi, metode, media yang paling baik untuk siswa. Kapankah saat itu tiba? Kita tunggu dengan sabar sambil menyiapkan segala piranti yang diperlukan. (Y. Niken Sasanti)


Tinggalkan komentar

Jelang Tahun Ajaran 2020/2021 Era Covid-19 di Yogyakarta

Sampai dengan minggu kedua bulan Juni 2020 ini, kondisi terkait covid-19 di Yogyakarta belum memungkinkan untuk melaksanakan pembelajaran di sekolah. Pengumuman kelulusan dan penyerahan kembali siswa kelas 9 kepada orang tua sudah dilaksanakan. Sebagian besar sekolah di Yogyakarta juga sudah melaksanakan tes daring sebagai pengganti penilaian akhir tahun untuk kelas 7 dan 8. Tinggal mengolah nilai-nilai yang didapat untuk menentukan kenaikan kelas. Penerimaan peserta didik baru secara online juga sedang berproses di Yogyakarta. Setelah itu semua terlampaui, kita segera menyongsong tahun ajaran baru 2020/2021.

Sebelum menyusun strategi pembelajaran tahun ajaran baru nanti, Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta mengadakan survei untuk orang tua siswa terkait dengan pelaksanaan Belajar dari Rumah (BDR) selama masa pandemik covid-19. Survei ini dimaksudkan untuk mengevaluasi pelaksanaan BDR yang sudah beberapa bulan ini dilaksanakan sekolah-sekolah, sejauh mana efektivitasnya dan apa kendalanya. Selain itu survei dimaksudkan untuk mengetahui tanggapan orang tua siswa tentang rencana pembelajaran yang akan dilaksanakan dalam era new normal.

Survei diikuti lebih dari tiga ribu orang tua siswa di Yogyakarta. Berkaitan dengan keefektivan BDR, sepertiga orang tua menganggap bahwa BDR efektif dan dua pertiga berpendapat bahwa BDR kurang efektif. Sepertiga orang tua menyatakan bahwa anak-anaknya senang mengikuti BDR dan dua pertiga menyatakan bahwa anak-anaknya tidak senang mengikuti BDR. Mengapa anak-anak tidak senang mengikuti BDR, ada beberapa jawaban yang bervariasi, sebagian besar menyatakan jenuh, pengin ketemu teman, sebagian kecil menyatakan galau, dan sedikit yang menyatakan pengin ketemu guru. Hal ini tentu dapat dimaklumi bahwa anak-anak lebih ingin bertemu dengan teman-temannya daripada bertemu guru. Namun bukan berarti yang lebih ingin bertemu temannya tidak ingin bertemu dengan gurunya. Kebanyakan siswa tentu ingin bertemu teman dan gurunya.

Mengenai kendala BDR, sekitar 60 persen orang tua mengalami kendala dalam BDR dan 40 persen tidak terkendala. Kendala yang dialami pada waktu BDR adalah (1) orang tua tidak mampu mengikuti pembelajaran dalam BDR, (2) tidak punya waktu mendampingi anak BDR. (3) orang tua kesulitan membeli paket data, (4) orang tua kesulitan dengan akses intermet, (5) HP dibawa orang tua sehingga anak tidak bisa BDR daring, (6) HP hanya satu di rumah.

Ketika ditanyakan kemungkinan sekolah dibuka kembali pada tahun ajaran baru, sebagian besar orang tua tidak setuju. Orang tua masih merasa khawatir dengan kondisi penularan covid-19 yang belum mereda. Bila saatnya nanti anak-anak masuk sekolah kembali, sebagian besar orang tua ingin membekali anaknya dengan bekal makanan dari rumah, sebagian ingin memberikan uang jajan supaya anaknya bisa jajan di sekolah, dan sebagian kecil ingin memberikan dua-duanya, yaitu bekal makanan dan uang jajan. Tentang kantin sekolah, ternyata lebih banyak orang tua yang setuju bila kantin sekolah tidak dibuka. Hasil survei ini akan menjadi bekal bagi Dinas Pendidikan dan sekolah untuk mengambil langkah strategis dalam menyongsong tahun ajaran baru nanti. Bagaimana teknis pembelajaran, sarana dan prasarana apa yang harus disiapkan, bagaimana kesiapan guru dan siswa, semua itu perlu dipersiapkan sebaik-baiknya. Misalnya saja dalam hal sarpra, sekolah perlu menyediakan wastafel dalam jumlah yang memadai, menyediakan sabun cuci tangan, hand sanitizer, thermo gun, dan masker untuk siswa yang lupa tidak memakai masker. Guru dan karyawan mengenakan face shield, mengikuti skrining, dan sebagainya. Kurikulum tingkat sekolah juga perlu disesuaikan dengan kondisi masa covid termasuk penyesuaian KI dan KD tiap mata pelajaran, pengurangan jam belajar, penyusunan jadwalnya serta bagaimana teknis pembelajarannya. Semua itu perlu disiapkan seraya melihat  perkembangan situasi dan kondisi  penyebaran covid-19. Harapannya covid segera mereda, kondisi aman, semua sehat, sehingga kita bisa memulai era new normal di sekolah dengan harapan hari esok pendidikan Indonesia lebih baik.(Y. Niken Sasanti)


Tinggalkan komentar

Pernak-pernik Tes Daring Kelas 7 dan 8 di SMPN 1 Yogyakarta

Mulai Senin, 8 Juni 2020 siswa kelas 7 dan 8 SMPN 1 Yogyakarta melaksanakan tes daring. Tes daring ini sebagai pengganti penilaian akhir tahun (PAT) yang biasanya dilaksanakan di sekolah. Bagi kelas 7 dan 8, ini merupakan pengalaman pertama mereka mengikuti tes daring secara massal dari rumah. Berbeda dengan kakak kelas mereka yang baru saja lulus. Kakak kelas mereka sudah terbiasa melakukan tes menggunakan komputer meskipun tetap dari sekolah sehingga istilah link, token, atau jari jemari yang menekan tombol keyboard tidak lagi menjadi hal asing. Siswa kelas 7 dan 8 bukannya tidak pernah sama sekali mengikuti tes dengan komputer. Mereka pun pernah dikenalkan ulangan dengan komputer oleh beberapa guru. Meskipun demikian, untuk tes daring dari rumah mereka belum pernah sama sekali. Alhasil, ada kejadian-kejadian lucu yang melengkapi pernak pernik tes daring dari rumah.

Hal yang cukup banyak terjadi selama berlangsungnya tes daring adalah bangun kesiangan. Sebenarnya wali kelas pada malam harinya melalui grup WA anak dan orang tua sudah mengingatkan mereka agar tidak terlambat bangun, namun ada satu dua tiga, bahkan lebih, anak-anak yang pada saat menjelang link diberikan belum juga bangun. Dengan sabar wali kelas menelpon orang tuanya meminta untuk membangunkan anaknya. Logikanya, orang tua sudah menyiapkan anaknya untuk tes daring, namun barangkali orang tuanya sibuk sehingga lupa membangunkan anaknya.

Beberapa orang tua menceritakan bahwa anaknya agak panik dalam mengerjakan soal-soal daring. Mereka berpikir bahwa waktu akan cepat habis, maka mereka mengerjakan dengan agak tegang. Hal ini dapat dimaklumi karena anak-anak hanya sendirian di rumah, sementara mereka melihat waktu bergulir terus, hal ini membuat mereka panik. Berbeda bila mereka mengerjakan bersama-sama temannya di sekolah, ditunggui bapak atau ibu guru, mereka tenang. Kepanikan ini bertambah bila mereka mengalami gangguan jaringan internet, kadang sinyal terputus sehingga mereka harus mengulang dari awal. Untungnya guru-guru sudah mengingatkan anak-anak agar mencatat jawaban-jawabannya di kertas, sehingga bila internet terputus dan mereka harus mengulang dari awal, jawabannya tinggal ditulis ulang. Ada beberapa anak yang mengalami gangguan internetnya, ternyata itu disebabkan selama mengerjakan tes daring, mereka membuka jendela lain, misalnya sambil WA-nan, sambil face book-an, atau yang lain. Hal ini menyebabkan aplikasi google form yang sudah dibuka tadi akan kembali ke awal lagi.

Berkat kesabaran dan ketelatenan guru-guru SMPN 1 Yogyakarta, anak-anak dapat diberi pengertian sehingga mereka kembali lancar mengerjakan soal-soal daring.  (Y. Niken Sasanti)


Tinggalkan komentar

Tes Daring Pengganti Penilaian Akhir Tahun (PAT) di SMPN 1 Yogyakarta

Dalam kondisi pandemic covid-19 ini pembelajaran dilakukan dari rumah, baik secara daring maupun semi daring. Sebagai tindak lanjutnya, perlu diadakan penilaian untuk mengukur pencapaian siswa dalam belajar. Selain mengukur pencapaian siswa dalam belajar, penilaian itu juga sebagai bentuk apresiasi kepada para siswa yang sudah benar-benar belajar sesuai arahan bapak ibu gurunya. Maka, mulai tanggal 8 Juni sampai dengan 11 Juni 2020, siswa kelas 7 dan 8 SMPN 1 Yogyakarta mengikuti Tes Daring. Tes daring ini sebagai pengganti penilaian akhir tahun yang biasa dilaksanakan di sekolah secara tertulis. Media yang digunakan untuk tes daring adalah google form. Para siswa mengerjakan tes menggunakan piranti online yang mereka miliki, antara lain hand phone, laptop, maupun komputer biasa. Jumlah siswa yang ikut, kelas 8 sebanyak 260 siswa, kelas 7 sebanyak 274 siswa, total 534 siswa. Sebanyak 533 siswa bisa daring dari rumah, sedangkan 1 siswa hadir di sekolah mengikuti tes di ruang khusus menggunakan piranti sekolah. Pada pukul tujuh anak-anak sudah mulai bisa presensi online kepada wali kelasnya. Bila sudah presensi, mereka otomatis akan mendapatkan link soal yang akan dikerjakan mulai pukul 08.00. setelah selesai mengerjakan soal yang semuanya pilihan ganda tersebut, anak-anak bisa submit. Nilai yang diperoleh siswa bukanlah satu-satunya nilai yang dipakai untuk menentukan kenaikan kelas siswa. Para siswa sudah memiliki sejumlah nilai yang diperolehnya sebelum covid-19 maupun sesudah covid-19. Nilai tersebut adalah nilai ulangan harian dan nilai tugas. (Y. Niken Sasanti)


1 Komentar

Pengumuman Kelulusan dan Penyerahan Kembali Siswa Kelas IX SMP Negeri 1 Yogyakarta Tahun 2020

Assalamualaikum.W.W.

Syalom,

Om Swastiastu

Namo Budaya

Bapak ibu guru, bapak ibu orang tua siswa yang saya hormati serta anak-anakku siswa kelas IX SMPN 1 Yogyakarta yang saya sayangi dan saya banggakan, baik yang di sekolah maupun di rumah. Apa kabar semuanya? Semoga semua sehat dan bahagia dimasa pandemik covid-19 ini. Syukur kepada Tuhan karena rangkaian kegiatan akhir tahun ajaran untuk anak-anak kelas 9 berupa latihan soal daring maupun tes daring sudah terlaksana. Setelah nilai yang kalian peroleh diolah bapak ibu guru digabungkan dengan rapor lima semester, nilai tugas, maupun portofolio kalian, maka semua anak mendapatkan nilai yang memenuhi syarat kelulusan. Oleh sebab itu, pada kesempatan ini, dengan bahagia dan bangga, seluruh siswa kelas 9 SMPN 1 Yogyakarta tahun ajaran 2019/2020 sebanyak 251 siswa dinyatakan lulus 100 persen. Untuk itu saya ucapkan selamat kepada anak-anak beserta orang tua. Semoga kelulusan ini menjadi berkah yang membahagiakan keluarga. Harapan kami, anak-anak semua dapat melanjutkan ke jenjang Pendidikan yang lebih tinggi dan mendapatkan sekolah-sekolah yang diinginkan.

Terima kasih kepada Bapak Ibu Guru yang sudah mendidik anak-anak dengan baik selama tiga tahun ini. Terima kasih kepada orang tua yang selalu mendukung pendidikan bagi putra-putrinya. Terima kasih kepada Dinas Pendidikan yang sudah mendampingi kami semua.

Bapak ibu serta anak-anak yang berbahagia, pengumuman kelulusan dan pelepasan siswa kali ini dilaksanakan secara online melalui live streaming di youtube maupun melalui zoom meeting dan diikuti seluruh siswa, orang tua, maupun bapak ibu guru. Yang hadir di sekolah hanya perwakilan saja dan tetap jaga jarak serta mengikuti protokol pencegahan penularan covid-19. Meskipun demikian, semua ini tidak mengurangi maknanya. Terima kasih kepada orang tua dan berbagai pihak yang mendukung terselenggaranya acara ini.

Pada kesempatan ini dengan bahagia dan bangga saya mengumumkan siswa-siswa terbaik di angkatan ini:

Siswa-siswa terbaik dalam tes daring dalam masa pandemi covid-19

Sepuluh siswa terbaik dalam nilai gabungan:

Juara tiap kelas (yang mewakili dalam acara pelepasan siswa)

9A: NAZHIFA NASYWA NISRINA,                                             Rata-rata: 86,55

9B: MAHARANI ZALFAA NIRINA,                                             Rata-rata: 85,09

9C: YOHANA VIVIANDARU PURWA ANINDYA,                  Rata-rata: 87,27

9D: GRISELDA CLARA XAVERIA ANGEL NAPITUPULU,   Rata-rata: 85,18

9E: KHANSA SHAFIRA RETYAPUTRI,                                      Rata-rata: 86,27

9F: SAFINA AUDREY,                                                                    Rata-rata: 86,27

9G: NAIDA ZORANIA PRIYANTONO,                                       Rata-rata: 88,09

      NURIYATUL AINI SA’DIYAH,                                               Rata-rata: 88,09

9H: JASMINE NUGRAHENI,                                                         Rata-rata: 87,18

Bapak ibu dan anak-anak yang berbahagia. Saya mengapresiasi para guru, para orang tua, maupun para siswa yang sudah bekerja sama dengan baik melaksanakan program Belajar dari Rumah (BDR) saat pandemi covid-19 ini. Terima kasih juga kepada Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta yang sudah memberikan arahan yang jelas terkait BDR. Terima kasih semuanya. Kita memahami bahwa tujuan BDR adalah untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19. Semua menjadi serba terbatas. Maka kita harus menyikapinya dengan bertindak arif sesuai anjuran Pemerintah, dan sedapat mungkin tetap produktif berkarya.

Angkatan ini adalah generasi emas yang luar biasa. Anak-anak dapat melalui pembelajaran jarak jauh dan lulus semua di tengah pandemik covid-19. Angkatan ini adalah generasi yang akrab dengan teknologi, dapat belajar mandiri, tegar, dan tangguh. Salut buat anak-anak semua. Jarak dan waktu memang memisahkan kita, namun teknologi mendekatkan kita. Dan yang pasti hati kita tetap dekat satu sama lain dalam satu keluarga besar SMP Negeri 1Yogyakarta, Satria Siaga yang kita banggakan.

Selama BDR, anak-anak tidak dapat bertemu dengan teman atau bapak ibu guru. Maka bagi anak-anak dalam masa pandemik ini yang penting bukan lagi belajar apa, belajar dengan siapa, belajar di mana, dan berapa lama belajar, melainkan yang penting adalah tetap belajar. Masa-masa di SMP hanya sekilas dan sebentar lagi akan menjadi kenangan, namun belajar adalah sepanjang hayat. Raihlah mimpi, raihlah cita-cita, dan tetaplah memupuk harapan. Jangan lupa sekarang kalian tidak lagi menjadi siswa SMP Negeri 1 Yogyakarta, melainkan alumni SMP 1 dan akan menjadi bagian dari Paguyuban Alumni SMP Negeri 1 Yogyakarta (PASTU). Oleh sebab itu, jagalah nama baik almamater kalian.

Kini saatnya kami menyerahkan anak-anak kembali kepada orang tua. Tak lupa kami mohon maaf kepada orang tua dan anak-anak bila pelayanan kami selama anak-anak mengikuti pendidikan di SMP 1 ada kekurangannya. Anak-anakku, sekali lagi selamat ya. Doa dan kasih kami menyertai kalian.

Wasalamualaikum W.W.

Syalom,

Om Swastiastu

Namo Budaya

Yogyakarta, 5 Juni 2020

Kepala SMPN 1 Yogyakarta

Dra. Y. Niken Sasanti, M.Pd.


1 Komentar

Produktif di Masa Covid

Masa pandemik covid-19 yang sudah berlangsung beberapa bulan ini menyebabkan aktivitas di dunia pendidikan berubah total. Demikian juga di sekolah saya yaitu SMP Negeri 1 Yogyakarta. Sekolah kami yang semula penuh aktivitas siswa maupun karyawan dan guru sejak pagi sampai sore, kini setelah BDR nyaris sepi karena ratusan siswa kami melaksanakan belajar dari rumah. Guru-guru yang semula sibuk mengajar dan berinteraksi dengan anak-anak secara langsung, kini melakukan pembelajaran jarak jauh dengan berbagai media online. Karyawan yang semula sibuk melayani tamu-tamu yang datang ke sekolah, sekarang hanya sibuk mengerjakan administrasi tanpa tatap muka. Hanya karyawan bagian kebersihan dan keamanan yang tidak pernah surut kerjanya. Karyawan bagian kebersihan tetap membersihkan sekolah, baik ruang kelas, lantai selasar, maupun halaman sehingga sekolah tetap bersih dan sehat lingkungannya. Bahkan karena lantai dipel setiap hari dan tidak ada yang mengotori dengan bekas sepatu, maka lantai menjadi mengkilap, licin, seperti bisa untuk becermin. Bagian keamanan juga selalu mengamankan sekolah baik siang maupun malam.

Tentu kegiatan BDR tidak sama dengan pembelajaran tatap muka langsung di sekolah. Ada banyak keterbatasannya, mulai dari kesiapan siswa dan orang tuanya, sarananya, medianya, bahkan kemampuan gurunya. Karena berbagai keterbatasan itu, maka pembelajaran jarak jauh yang dilaksanakan di SMP Negeri 1 Yogyakarta dikelola secara khusus, di antaranya pembuatan jadwal yang khusus untuk BDR, materi dan tugas BDR dibuat sederhana sehingga tidak memberatkan siswa, ada jurnal yang dibuat tiap guru, ada pemantauan yang dilakukan Kepala Sekolah, dan tentu ada kerja sama dengan orang tua maupun Dinas Pendidikan.

Teknis bekerja para guru dan karyawan selama pandemik covid-19 juga berbeda dari hari-hari biasanya. Baik guru maupun karyawan tidak masuk setiap hari melainkan masuk secara bergantian dengan sistem piket. Kadang WFO (Work from Office) kadang WFH (Work from Home). Hanya Kepala Sekolah saja yang harus hadir setiap hari di sekolah. Dengan sistem kerja tersebut sekilas tampak banyak waktu luang, padahal kalau kita sungguh-sungguh mau memanfaatkan waktu dengan baik, kita justru akan lebih produktif.

Dari pantauan kerja guru di SMP Negeri 1 Yogyakarta, dapat dilihat bahwa warga SMP Negeri 1 Yogyakarta tetap produktif selama pandemik covid-19. Produktivitas itu tampak pada hal-hal berikut:

  1. aktif melaksanakan pembelajaran jarak jauh dengan berbagai media
  2. aktif memberikan feed back dan mengoreksi jawaban atau tugas-tugas yang dikirimkan siswa
  3. guru aktif belajar menggunakan berbagai media pembelajaran online
  4. membuat media pembelajaran sendiri yang diunggah di youtube
  5. menulis best practice selama covid dan mengikutsertakan dalam lomba
  6. membuat video-video untuk menyapa siswa
  7. mengikuti berbagai webinar atau pelatihan online

Beberapa karya video pembelajaran SMP Negeri 1 Yogyakarta dapat dilihat pada link berikut:

  1. https://www.youtube.com/watch?v=uOj42syZS6A (IPA)
  2. https://www.youtube.com/watch?v=N8zNqmmDzio&t=85s (IPA)
  3. https://www.youtube.com/watch?v=8FVfvV5-T5g&t=84s (IPA)
  4. https://www.youtube.com/watch?v=H0rEfCdUqqE&t=4s (IPA)
  5. https://www.youtube.com/watch?v=TYrU3pD8WoY&t=2s (Matematika)
  6. https://www.youtube.com/watch?v=BAj4aVnX0Uo&t=27s (Matematika)
  7. https://www.youtube.com/watch?v=2cU_GnBSl3U (Matematika)
  8. https://www.youtube.com/watch?v=nV7RJ3Yahng&t=35s (Matematika)
  9. https://www.youtube.com/watch?v=fSf98Ipiowk&t=16s (Matematika)
  10. https://www.youtube.com/watch?v=uembSGsAda8 (Matematika)
  11. https://www.youtube.com/watch?v=LB__I4cUFio (Matematika)
  12. https://youtu.be/VoYzVuJ1e78 (TIK)
  13. https://youtu.be/DmeadyQJKo8 (TIK)
  14. https://drive.google.com/drive/folders/1H_-AwnN9XfBjguBDoy6VXEmbqLD2mdHz?usp=sharing (Bahasa Indonesia)
  15. https://youtu.be/NMstrxiwOfs (Bahasa Inggris)
  16. https://youtu.be/YI-t_2f8SRg (IPA)
  17. https://youtu.be/DauKbNhhOpA (IPA)

Selain video pembelajaran juga ada video-video lain karya warga SMP Negeri 1 Yogyakarta dengan link berikut:

  1. https://www.youtube.com/watch?v=VxSZ_gxO7K0&t=7s (Kepala Sekolah menyapa)
  2. https://www.youtube.com/watch?v=5GUjtblIVns&t=10s (info PPDB)
  3. https://www.youtube.com/watch?v=vhQvYpo4qpc&t=56s (info PPDB)
  4. https://www.youtube.com/watch?v=VY3D_4Qd0zI&t=709s (info PPDB)
  5. https://www.youtube.com/watch?v=FsPnPi03sFg (Ucapan Selamat Idul Fitri)
  6. https://www.youtube.com/watch?v=aeTWnCZv1wU (Selamat Hari Pendidikan Nasional)
  7. https://www.youtube.com/watch?v=TDrFfPxH3hI (video siswa menyanyi)
  8. https://www.youtube.com/watch?v=lklSNVaAwYc (edukasi covid)
  9. https://www.youtube.com/watch?v=He5N6d2ZtNQ&t=112s (edukasi covid)
  10. https://www.youtube.com/watch?v=mf9llznqt1U (edukasi covid)

Selain karya-karya di atas, tentunya masih banyak karya yang lain. Para siswa juga tak kalah produktifnya selama covid ini. Mereka belajar, menjawab soal, mengerjakan tugas dengan bimbingan bapak dan ibu guru. Produktivitas warga SMP Negeri 1 Yogyakarta ini bisa terjadi dalam suasana yang menyenangkan, saling mendukung dan menyemangati, dan tentunya dengan kolaborasi yang baik antara kepala sekolah, guru, karyawan, siswa, orang tua, dengan dukungan Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta.

Bukan saatnya kita hanya menyesali covid-19 yang tak kunjung reda, bukan saatnya kita mengeluh dan menyalahkan situasi. Saatnya kita gunakan waktu yang masih kita miliki untuk berkarya demi kemajuan pendidikan di kota kita, di provinsi kita, di tanah air kita. Mari berkarya! (Y. Niken Sasanti, Kepala SMPN 1 Yogyakarta)


Tinggalkan komentar

Konsekuen dan Konsisten

Selama pandemi covid-19 banyak kegiatan yang kulakukan di rumah. Di antaranya adalah mengisi Teka Teki Silang. Konon TTS bisa menghambat kepikunan dan juga untuk rekreasi otak karena dengan berpikir, otak kita seperti berolah raga sehingga menjadi segar dan sehat. Di dua lembar TTS yang kuisi tadi aku menemukan dua pertanyaan. Berwatak teguh sembilan huruf, jawabannya adalah konsekuen. Taat azas sembilan huruf, jawabannya konsisten. Aku hampir saja salah mengisinya karena dua kata itu mirip, diawali empat huruf yang sama yaitu huruf k,o,n,dan s. Setelah dua kata yang berbeda itu kusandingkan, aku jadi tertarik dengan dua-duanya. Dua-duanya mengarah ke suatu sikap yang menunjukkan tanggung jawab. Tanggung jawab seseorang sebagai pribadi, sebagai anggota komunitas, maupun sebagai pemimpin. Seseorang harus konsekuen, artinya berani bertanggung jawab terhadap segala sikap, keputusan, dan tindakannya. Demikian pula, seseorang harus konsisten dengan apa yang dilakukannya atau yang diperjuangkannya agar berhasil. Konsisten berarti teguh, tekun, setia, berani menolak kebosanan untuk terus-menerus melakukan hal yang sama. Dua sikap itu, yaitu konsekuen dan konsisten perlu dimiliki agar seseorang sukses dalam hidupnya. (Y. Niken Sasanti)


Tinggalkan komentar

Menolak Sedih dan Kecewa di Masa Pandemik Covid-19

Covid-19 banyak memakan korban. Jelas semua orang tahu tentang hal itu. Korban jiwa jelas banyak. Belum lagi korban materi. Banyak bisnis dirugikan, banyak kegiatan tidak terlaksana, anak sekolah harus BDR, banyak perhelatan harus ditunda, bahkan ibadah di rumah-rumah ibadah pun tidak bisa dilaksanakan. Betapa besar kerugian di seluruh dunia akibat covid-19. Semua itu menimbulkan kesedihan, kekecewaan, kejengkelan, kemarahan, dan juga kebingungan. Namun pandemik covid-19 tak jua kunjung usai. Aku pun secara tidak langsung ikut terdampak covid-19 ini. Ada beberapa acara kantor dan acara keluarga yang tidak bisa dilaksanakan atau harus ditunda pelaksanaannya. Bila menuruti kata hati, jelas aku sedih dan kecewa, namun sejak awal aku berusaha menolak rasa sedih dan kecewa itu. Caranya adalah dengan menyibukkan diri melakukan hal-hal yang positif. Hal-hal positif itu antara lain 1) menulis, 2) membaca, 3) memasak, 4) membuat kudapan, 5) menyanyi, 6) koor virtual bersama teman-teman, 7) membuat video kedinasan, 8) menonton film, 9) membaca kitab suci, dan 10) mengisi TTS. Selain hal-hal tersebut, ada hal lain yang terus-menerus kulakukan, yaitu mengedukasi diri sendiri dan orang lain terkait covid-19. Sebagai seorang pimpinan di sebuah lembaga pendidikan, aku memastikan bahwa tempatku bekerja aman, guru karyawan siswa maupun ortunya sehat semua, protokoler covid-19 tetap dipatuhi, dan suasana tetap kondusif. Hanya kabar-kabar baik yang dibicarakan dan hal-hal baik yang disebarkan. Semua itu ternyata bisa menolak sedih dan kecewa. (Y. Niken Sasanti)


Tinggalkan komentar

Aku Bangga Sekolah di Sini

Aku berjalan menyusuri selasar SMP Negeri 1 Yogyakarta yang sepi. Gelak canda tawa, jeritan, dan teriakan yang biasanya mengisi hari-hari di sekolah kini terbang bersama murid-muridku. Kubayangkan saat pandemik covid-19 ini sehari-harinya mereka bercanda dan tertawa bahagia di rumah bersama ayah ibu dan saudara-saudaranya. Semoga saja itu terjadi dan semua bahagia.

Langkahku terhenti di selasar kelas VII. Di luar salah satu kelas tepatnya di pagar tembok, adatulisan “Aku Bangga Sekolah di Sini”. Rata-rata anak-anak memang bangga dengan sekolahnya, namun jarang yang menunjukkan kebanggaannya itu dengan cara menuliskan di pagar tembok
dengan tulisan yang besar. Aku ingat Kembali bahwa pada tahun ajaran baru yang lalu, mereka kuberi kebebasan untuk mengekspresikan diri di pagar tembok depan kelasnya masing-masing dengan bimbingan wali kelas dan orang tua anak-anak. Entah ide tulisan itu dari siapa, anak-anak sendiri, orangtuanya, atau wali kelasnya, yang jelas tulisan itu sudah tertera di situ dengan huruf yang cukup besar dan jelas.

Selama ini sepengetahuanku, anak-anak SMP Negeri 1 Yogyakarta senang berada di sekolah. Areal sekolahnya cukup luas dan sekolahku termasuk salah satu SMP terluas di Yogyakarta. Sarana dan prasarana cukup lengkap termasuk ada Gedung Olah Raga, lapangan bola, halaman yang cukup luas, lima laboratorium komputer, perpustakaan, bangsal, ruang ava, lab Bahasa, lab Fisika dan Biologi, dan masjid yang bisa menampung seluruh siswa. Ada belasan kegiatan ekstrakurikuler, termasuk olahraga, seni, jurnalistik, OSN, maupun Pramuka yang sudah banyak prestasinya. Kegiatan pembelajaran di SMPN 1 berprinsip belajar yang menyenangkan. Setiap harinya, para gurubersama siswa menjelajah dunia ilmu pengetahuan dari berbagai sumber. Interaksi sesama guru, guru dengan siswa, maupun siswa dengan siswa bagus. Interaksi siswa dengan para karyawan tata usaha, karyawan kebersihan, maupun bagian keamanan sekolah juga bagus. Semua itu mungkin saja menjadi alasan mengapa anak-anak senang berada di sekolah, bahkan bangga bersekolah di SMPN 1 Yogyakarta.

Saat pandemik covid-19 terjadi dan Pemerintah memutuskan para siswa belajar dari rumah (BDR) tentu menjadi hal yang tidak gampang karena harus mengubah berbagai kebiasaan yang sudah dijalankan sekian lama.
Aku masih ingat pada awal belajar dari rumah (BDR) banyak kendala yang muncul. Ada yang berkeluh kesah karena tidak punya hp, internet lemot, pulsa cepat habis, penjelasan materi dalam BDR sulit dipahami, tugas terlampau banyak, sampai keluhan tentang orang tua yang kewalahan mengajarianaknya saat BDR. Kendala dari pihak guru pun ada, yaitu kendala teknis layanan BDR karena ada beberapa guru yang belum terbiasa melakukan pembelajaran daring. Puji Tuhan semuakendala itu pelan-pelan dapat teratasi dan ada solusinya. Yang menggembirakan, kreativitas guru dan siswa meningkat. Beberapa guru sangat produktif membuat video pembelajaran dan ini menurutku luar biasa. Guru-guru yang semula malu-malu mulai berani akting di layar video. Para murid juga kreatif dalam mengerjakan tugas. Salut buat para guru dan muridku.

Jelas pelajaran online tidak dapat menggantikan sepenuhnya pelajaran di sekolah. Dalam pembelajaran online interaksi guru-murid sangat terbatas, untuk berdiskusi terbatas, penguatannpendidikan karakter serta sentuhan-sentuhan kasih sayang juga terbatas. Belakangan ini beberapa murid mulai bosan di rumah dan berkali-kali bertanya kepada orang, tuanya kapan bisa kembali ke sekolah. Mereka rindu berada di kelas, mereka rindu pada kursi
dan mejanya, mereka rindu pada teman-temannya, mereka rindu pada bapak ibu guru, bisa jadi mereka pun rindu pada Pak Satpam atau petugas kebersihan yang setiap hari menyambut mereka dengan senyum ramah.
Saat seperti ini semua baru terasa. Murid-murid butuh kehadiran guru yang bisa disapa, yang bisa ditanyai, yang bisa diajak diskusi. Guru pun butuh murid yang bisa diajak menjelajah ilmu, yang bisa disentuh dengan kasih sayang. Hari-hari covid menjadi hari-hari yang menyimpan
rindu. Pada hari-hari itulah kita semua menyemaikan banyak sekali harapan: covid segera berlalu, kita segera bertemu, relasi antarmanusia menjadi lebih baik, dan kehidupan lebih tertata.

Para guru sudah berusaha maksimal dalam melayani anak-anak BDR. Anak-anak juga sudah berusaha mengikuti BDR dengan baik di bawah bimbingan dan pendampingan orang tuanya. Meskipun tak bertatap muka dengan para guru, tak bisa belajar di kelas, tak menyentuh bangku, dan bercanda dengan teman, semoga anak-anak tetap bahagia dan bangga bersekolah di SMP Negeri 1 Yogyakarta. (Y. Niken Sasanti)

#satriasiaga #smp1jaya #banggasekolah


Tinggalkan komentar

Evaluasi dan Catatan Pelaksanaan BDR di SMPN 1 Yogyakarta

BDR di SMPN 1 Yogyakarta dilaksanakan mulai tanggal 23 Maret 2020. Sampai dengan tanggal 22 Mei 2020 pelaksanaan BDR cukup lancar meskipun tidak dapat dimungkiri bahwa ada juga kendalanya. Sebagian besar kendala dapat diatasi dengan baik. Berikut ini beberapa catatan sekaligus evaluasinya.

  1. Guru-guru pada umumnya melaksanakan BDR dengan baik. Mereka memberikan tugas yang bervariasi, ada feedback, ada penilaian, medianya bervariasi
  2. Masih ada guru yang hanya memberikan tugas tanpa penjelasan sehingga anak-anak bingung, ortu juga bingung. Solusinya guru tersebut diminta memberikan materi disertai penjelasan yang cukup
  3. Masih ada guru yang monoton dalam PJJ sehingga anak-anak bosan, diharapkan guru tersebut menggunakan media belajar yang bervariasi (harus banyak akal)
  4. Hambatan yang sulit dihindari adalah kebosanan siswa, oleh sebab itu guru harus pandai-pandai menggunakan berbagai metode, bentuk soal atau tugas, dan memberikan selingan yang menarik bagi siswa. Selingan misalnya: humor, cerita lucu, cerita seru, video lucu, foto pemandangan alam yang bagus, dsb.
  5. Guru mulai produktif membuat materi ajar lewat youtube (ada kegigihan, semangat untuk memberikan layanan kepada siswa)
  6. Keberhasilan BDR bertumpu pada sinergi antara dinas Pendidikan, sekolah, dan orang tua siswa, saling dukung dan memberi solusi bila ada hambatan
  7. Wali kelas berperan membantu guru “ngopyak-opyak” siswa mengerjakan dan mengumpulkan tugas
  8. Presensi harus selalu dilakukan saat bapak ibu guru mengajar online untuk mengetahui partisipasi siswa dalam KBM
  9. Penilaian dalam BDR tidak boleh kaku, hargai apa pun yang dikumpulkan siswa, semua siswa harus tuntas
  10. Daya dukung sarpra siswa juga berbeda maka guru harus bisa menggunakan berbagai media
  11. Kemampuan literasi atau daya tangkap siswa tidak sama, maka guru harus bisa melayani semua dengan cara memilih materi yang bisa ditangkap oleh semua siswa
  12. Pada umumnya guru menganggap bahwa anak-anak yang tidak bisa gabung online atau tidak
    mengumpulkan tugas adalah kendala, padahal ini adalah hal biasa yang menjadi pekerjaan
    bapak ibu guru untuk mengatasinya
  13. Kemampuan guru dalam melaksanakan BDR perlu ditingkatkan, jangan menunggu fasilitas dari
    sekolah namun harus proaktif belajar sendiri atau belajar kepada yang lebih mahir dengan cara tutor sebaya
  14. Tidak semua orang tua siap dengan BDR, tidak semua rumah siap untuk BDR dengan segala sarpra yang diperlukan. Oleh sebab itu, guru haruslah bijak dalam memilih media BDR sehingga semua siswa bisa mengikuti BDR dengan baik
  15. Banyak siswa yang justru lebih sering nge-game daripada mengerjakan tugas (keluhan orang tua). Maka, banyak orang tua yang mengeluh kuota internet cepat habis, bukan karena untuk mengirimkan tugas kepada guru melainkan untuk nge-game. Harusnya ini bisa diatasi oleh orang tua.
  16. Sebagian guru belum menyiapkan administrasi pembelajaran BDR. Administrasi yang harus disiapkan minimal, RPP, jurnal harian, data presensi siswa, daftar nilai.
  17. KTSP tahun ajaran baru, Kurikulum BDR new normal harus segera disiapkan mengikuti petunjuk dari Kementerian dan Dinas Pendidikan. (Dirangkum oleh Y. Niken Sasanti berdasarkan berbagai masukan)