Bilik Kata

Berbagi lewat bahasa, sastra, dan budaya


Tinggalkan komentar

Sumbangkan Bibit Pohon demi Hijaukan Lingkungan Sekitar Sekolah

Dalam rangka penghijauan dan peduli lingkungan sekitar sekolah, SMPN 1 Yogyakarta menyumbangkan bibit pohon untuk warga masyarakat di Kelurahan Terban (5/3). Bibit pohon diserahkan kepada Lurah Terban, Narotama, untuk diserahkan kepada warga lingkungan kelurahan Terban yang saat itu diwakili salah satu Ketua RT yaitu Basuki. Kepala Sekolah SMPN 1 Yogyakarta, Y. Niken Sasanti menjelaskan bahwa kegiatan peduli lingkungan tidak hanya di area sekolah saja melainkan juga di luar sekolah, utamanya lingkungan masyarakat yang berdekatan dengan sekolah. Kebetulan SMPN 1 terletak di area Kelurahan Terban, maka bibit pohon disumbangkan untuk masyarakat di wilayah Terban. Ada 25 bibit pohon yang disumbangkan, terdiri atas bibit pohon mangga manalagi, nangka, belimbing wuluh, kelengkeng, dan jambu. Harapannya bibit pohon itu akan tumbuh dan menghijaukan lingkungan sekitar Terban. (YNS)


Tinggalkan komentar

Rezeki di Masa Pandemi: Pagar Tembok di Halaman Sekolah

Masih terngiang-ngiang kata-kata salah satu kepala sekolah di Kota Yogyakarta saat beliau mampir di sekolah saya. Bu Kepala itu berkomentar, “Bu Niken, halaman depan SMP 1 itu masih terlihat kurang bersih dan kurang rapi.” Komentar itu tentu saja membuat saya tersipu-sipu meskipun saat itu saya baru seminggu dirotasi ke SMPN 1 Yogyakarta. Beliau berkomentar seperti itu karena kami berteman dekat dan hal itu bagi saya justru sebuah tantangan untuk membuat bagian depan sekolah terlihat indah, rapi, bersih, dan asri. Mampukah saya mewujudkannya? Hal yang saya kira mudah ternyata tidak mudah. SMPN 1 Yogyakarta sangatlah luas areanya dan terdiri dari banyak bangunan, baik bangunan yang termasuk cagar budaya maupun yang tidak. Saat saya melakukan observasi pada awal saya dirotasi ke situ, saya mendapati begitu banyak yang harus dibenahi. Tentu hal itu tidak semudah membalik telapak tangan. Saya juga bukan Bandung Bondowoso dalam cerita legenda yang bisa membangun candi dalam sekejap. Selangkah demi selangkah saya ajak teman-teman membenahi beberapa sarana sekolah. Waktu itu yang saya lakukan pertama adalah re-instalasi listrik karena saya anggap sangat mendesak. Kini, setelah beberapa tahun ternyata kerja nggak selesai-selesai. Ada saja yang perlu diperbaiki, dibenahi, atau dilengkapi. Maklum, area sekolah kurang lebih 18.000 meter persegi dengan sebagian besar bangunan yang sudah sangat tua (sebagian dibangun pada zaman Belanda). Hehe lucunya, bangunan-bangunan tua itu kerangkanya masih lebih kuat dibandingkan bangunan-bangunan yang muncul belakangan terutama kayu-kayunya. Keinginan untuk mempercantik bagian depan sekolah belum bisa diwujudkan karena ada banyak bagian lain yang harus didahulukan, misalnya ada blandar (tiang penyangga atap) kelas yang dimakan rayap, membuat jaring-jaring di lapangan bola agar bola tidak lari ke rumah penduduk, dan berbagai hal mendesak lainnya (hehe ternyata banyak yang mendesak). Pada masa pandemi ini obsesiku untuk mempercantik bagian depan sekolah mulai terwujud. Dimulai dengan mempercantik pagar pembatas halaman di kanan dan kiri. Pagar tembok itu sudah pernah dicat ulang namun baru satu dua tahun kembali kotor dan berlumut. Penginnya sih ditempeli batu alam, namun biaya sangat banyak karena tembok cukup panjang. Solusinya adalah menempelkan keramik motif batu alam yang harganya lebih terjangkau. Sampai tulisan ini saya unggah, pengerjaannya belum selesai, namun sebagian sudah bisa dilihat. Cukup rapi dan indah (hehe menurut saya lho, mungkin ini subjektif banget). Sementara temboknya dulu ya, tamannya akan menyusul kemudian. Mungkin ada yang bertanya, pagar BRC itu untuk apa? Hehe itu warisan yang belum boleh dibongkar, tunggu saatnya tiba. Ini adalah rezeki dan berkah dari Tuhan Yang Mahabaik. Meski di tengah pandemi, kami masih bisa menyisihkan dana untuk mempercantik sekolah. Rasanya tak sabar menunggu covid segera berlalu, pembelajaran daring berganti dengan tatap muka. Saya bayangkan para siswa datang dengan gembira. Mereka senang belajar di sekolah yang semakin tertata indah. Terima kasih Bu Wardinah, Pak Un dkk., dan bapak ibu yang selalu mendukung segala usaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan di SMPN 1 Yogyakarta. (Y. Niken Sasanti)


Tinggalkan komentar

Rezeki di Masa Pandemi: Kantin Sekolah

Adaptif dan produktif di masa pandemi covid. Itulah praktik baik seluruh warga SMPN 1 Yogyakarta yang sejak awal pandemi selalu kami usahakan. Semangatnya adalah tetap berkarya dengan suka cita. Selain guru-guru berkarya dalam pembelajaran, kami tak lupa memperbaiki berbagai sarana sekolah yang memerlukan perbaikan dan perawatan, selain itu juga menambah sarana yang belum lengkap. Puji Tuhan dalam masa pandemi ini ada saja rezeki yang diberikan Tuhan untuk sekolah sehingga kami bisa mewujudkan harapan-harapan untuk menjadikan sekolah kami lebih baik. Salah satunya adalah sumbangan pembangunan kantin sekolah dari alumni SMPN 1 Yogyakarta, khususnya yang berkarya di wilayah Jakarta. Selama ini SMPN 1 Yogyakarta memang sudah memiliki dua blok kantin, yaitu kantin di sebelah utara (dekat bangsal olah raga) dan kantin di sebelah tengah (dekat lapangan). Namun kami rasa dua kantin tersebut kurang representatif untuk melayani hampir 800 orang siswa kami. Maka kami mengajukan proposal ke paguyuban alumni di Jakarta. Gayung pun bersambut. Alumni Jakarta yang diketuai Bapak Syaukat Banjaransari dan Sekretaris Bapak Katjep menyetujui proposal kami dan mereka mewujudkan harapan kami untuk membangun kantin di sisi selatan yang selama ini menjadi tempat yang hampir tidak terjamah (karena letaknya di sudut, di belakang kelas yang penuh barang bekas). Maka mulai 21 Desember 2020 pembangunan kantin pun dimulai. Semua yang melaksanakan alumni, kami pihak sekolah hanya menyaksikan saja dari hari ke hari progresnya. Nantinya kantin ini kami namai Kantin Satria Siaga (keren kan) dan kelak akan menggantikan kantin yang ada di dekat lapangan yang kurang ideal sebagai kantin karena area tersebut cukup panas dan sangat berdebu di musim kemarau. Hari ini kusempatkan menengok progres pembangunan kantin, Sudah ada ujud yang bisa dilihat dan membuat saya bahagia. Pekerjaan arsitekturnya sudah hampir tuntas, nantinya akan dilanjutkan pembuatan mural dan melengkapi furniture. Saat kantin selesai dibuat, mungkin pandemi belum berlalu dan kantin belum bisa dimanfaatkan. Barangkali masih cukup lama anak-anak menunggu untuk dapat singgah di kantin. Barangkali sampai kelas 9 sekarang lulus, kantin belum boleh dibuka. Meskipun demikian, keberadaan kantin baru ini tetaplah membuat kami bersuka cita. Terima kasih kepada alumni SMPN 1 khususnya yang berada di wilayah Jakarta. Terima kasih kepada seluruh alumni (PASTU) yang sudah mendukung dan mendoakan. Terima kasih Pak Suryadiman dan mbak Dyah Permata sebagai penasihat. Terima kasih kepada Mbak Stella dkk. dari ORCA Surakarta. Terima kasih kepada Bu Anggororini, Bu Wardinah, Mas Arif S, dan bapak ibu guru yang sudah ikut dalam banyak diskusi untuk terwujudnya kantin ini. Mohon doa restu semuanya agar kantin ini kelak bermanfaat sebagai tempat menghilangkan haus dan lapar sekaligus area belajar untuk warga sekolah (Y. Niken Sasanti)


Tinggalkan komentar

Sudah Siapkah belajar di Sekolah Kembali?

Mas Menteri Nadiem Makarim menyatakan bahwa bila sekolah akan dibuka kembali dalam masa new normal, minimal ada sepuluh syarat yang harus dipenuhi sekolah, yaitu:

  1. Ketersediaan fasilitas sanitasi dan kebersihan
  2. Menjaga jarak peserta didik 1,5-2 meter di kelas
  3. Pembatasan isi ruangan kelas (15-18siswa)
  4. Pembatasan jam belajar siswa
  5. Penerapan wajib masker
  6. Kecukupan jumlah guru yang masuk batas usia dan tidak rentan
  7. Peniadaan aktivitas di kantin sekolah
  8. Peniadaan aktivitas pertemuan orang tua dan guru di lingkungan sekolah
  9. Peniadaan aktvitas siswa berkumpul dan bermain di sekolah
  10. Peniadaan aktivitas ekstrakurikuler

Untuk syarat nomor satu, saat ini tentunya sekolah-sekolah sedang berusaha memenuhinya, antara lain dengan menambah jumlah wastafel, penyediaan sabun cuci tangan, hand sanitizer, dan cairan desinfenktan untuk penyemprotan. Syarat nomor dua, tiga, empat, dan lima dapat diusahakan.  Syarat nomor tujuh dan sepuluh dapat dipenuhi.

Syarat nomor delapan dan sembilan dapat diusahakan meskipun tidak gampang. Biasanya saat mengantar atau menjemput anak-anaknya, cukup banyak orang tua yang tidak langsung meninggalkan lingkungan sekolah  melainkan berinteraksi dengan sesama orang tua. Apalagi mereka yang sudah memiliki kelompok-kelompok paguyuban orang tua, biasanya ada saja yang dibahas, entah tentang anak-anaknya, tentang sekolah, dan yang lain. Pertemuan orang tua dengan guru bisa disiasati dengan media online.  Yang agak sulit adalah menahan siswa untuk tidak berinteraksi dengan teman-temannya di luar kelas.  Bila siswa sudah datang ke sekolah, dapatkah kita menyuruh mereka berdiam di kelas sampai pelajaran usai padahal mereka adalah anak-anak yang ingin selalu bergerak? Ini bisa diatasi dengan cara, istirahat tetap di dalam kelas,  mengurangi jam istirahat atau bahkan meniadakan jam istirahat. Oleh sebab itu, diperlukan pengawasan dan ketegasan sekolah agar tidak ada aktvitas berkumpul di luar kelas.

Yang paling sulit adalah memenuhi syarat nomor enam. Berapa sih batas usia yang rentan terhadap virus corona? Ada yang mengatakan 30 tahun ke atas, ada yang mengatakan 45 tahun ke atas. Jumlah guru yang usianya kepala empat bahkan kepala lima sangat banyak. Di sebuah sekolah bisa jadi guru yang berusia kepala lima lebih dari lima puluh persen. Bila guru berusia rentan harus WFH, maka guru yang masuk sekolah harus full power mengajar dan mengurusi anak-anak yang masuk sekolah.  Yang paling repot adalah bila guru-guru pengajar mata pelajaran tertentu semuanya berusia rentan. Misalnya di sebuah sekolah, guru matematikanya berusia empat puluh lima tahun ke atas semua dan mereka harus WFH semua, tentu akan repot sekali melayani anak-anak di sekolah.

Bagaimana pun suatu saat nanti, sekolah akan kembali dibuka bila keadaan sudah membaik. Tentu menunggu keadaan benar-benar aman. Entah itu di bulan Oktober, Desember, atau bahkan pada tahun depan. Syarat-syarat yang dikemukakan Mas Menteri akan dipenuhi oleh sekolah-sekolah. Selain syarat-syarat di atas, sekolah juga harus menyiapkan kurikulum yang diadaptasi sesuai kondisi masa covid-19. Guru-guru juga harus menyiapkan perangkat pembelajaran, materi, metode, media yang paling baik untuk siswa. Kapankah saat itu tiba? Kita tunggu dengan sabar sambil menyiapkan segala piranti yang diperlukan. (Y. Niken Sasanti)


Tinggalkan komentar

Jelang Tahun Ajaran 2020/2021 Era Covid-19 di Yogyakarta

Sampai dengan minggu kedua bulan Juni 2020 ini, kondisi terkait covid-19 di Yogyakarta belum memungkinkan untuk melaksanakan pembelajaran di sekolah. Pengumuman kelulusan dan penyerahan kembali siswa kelas 9 kepada orang tua sudah dilaksanakan. Sebagian besar sekolah di Yogyakarta juga sudah melaksanakan tes daring sebagai pengganti penilaian akhir tahun untuk kelas 7 dan 8. Tinggal mengolah nilai-nilai yang didapat untuk menentukan kenaikan kelas. Penerimaan peserta didik baru secara online juga sedang berproses di Yogyakarta. Setelah itu semua terlampaui, kita segera menyongsong tahun ajaran baru 2020/2021.

Sebelum menyusun strategi pembelajaran tahun ajaran baru nanti, Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta mengadakan survei untuk orang tua siswa terkait dengan pelaksanaan Belajar dari Rumah (BDR) selama masa pandemik covid-19. Survei ini dimaksudkan untuk mengevaluasi pelaksanaan BDR yang sudah beberapa bulan ini dilaksanakan sekolah-sekolah, sejauh mana efektivitasnya dan apa kendalanya. Selain itu survei dimaksudkan untuk mengetahui tanggapan orang tua siswa tentang rencana pembelajaran yang akan dilaksanakan dalam era new normal.

Survei diikuti lebih dari tiga ribu orang tua siswa di Yogyakarta. Berkaitan dengan keefektivan BDR, sepertiga orang tua menganggap bahwa BDR efektif dan dua pertiga berpendapat bahwa BDR kurang efektif. Sepertiga orang tua menyatakan bahwa anak-anaknya senang mengikuti BDR dan dua pertiga menyatakan bahwa anak-anaknya tidak senang mengikuti BDR. Mengapa anak-anak tidak senang mengikuti BDR, ada beberapa jawaban yang bervariasi, sebagian besar menyatakan jenuh, pengin ketemu teman, sebagian kecil menyatakan galau, dan sedikit yang menyatakan pengin ketemu guru. Hal ini tentu dapat dimaklumi bahwa anak-anak lebih ingin bertemu dengan teman-temannya daripada bertemu guru. Namun bukan berarti yang lebih ingin bertemu temannya tidak ingin bertemu dengan gurunya. Kebanyakan siswa tentu ingin bertemu teman dan gurunya.

Mengenai kendala BDR, sekitar 60 persen orang tua mengalami kendala dalam BDR dan 40 persen tidak terkendala. Kendala yang dialami pada waktu BDR adalah (1) orang tua tidak mampu mengikuti pembelajaran dalam BDR, (2) tidak punya waktu mendampingi anak BDR. (3) orang tua kesulitan membeli paket data, (4) orang tua kesulitan dengan akses intermet, (5) HP dibawa orang tua sehingga anak tidak bisa BDR daring, (6) HP hanya satu di rumah.

Ketika ditanyakan kemungkinan sekolah dibuka kembali pada tahun ajaran baru, sebagian besar orang tua tidak setuju. Orang tua masih merasa khawatir dengan kondisi penularan covid-19 yang belum mereda. Bila saatnya nanti anak-anak masuk sekolah kembali, sebagian besar orang tua ingin membekali anaknya dengan bekal makanan dari rumah, sebagian ingin memberikan uang jajan supaya anaknya bisa jajan di sekolah, dan sebagian kecil ingin memberikan dua-duanya, yaitu bekal makanan dan uang jajan. Tentang kantin sekolah, ternyata lebih banyak orang tua yang setuju bila kantin sekolah tidak dibuka. Hasil survei ini akan menjadi bekal bagi Dinas Pendidikan dan sekolah untuk mengambil langkah strategis dalam menyongsong tahun ajaran baru nanti. Bagaimana teknis pembelajaran, sarana dan prasarana apa yang harus disiapkan, bagaimana kesiapan guru dan siswa, semua itu perlu dipersiapkan sebaik-baiknya. Misalnya saja dalam hal sarpra, sekolah perlu menyediakan wastafel dalam jumlah yang memadai, menyediakan sabun cuci tangan, hand sanitizer, thermo gun, dan masker untuk siswa yang lupa tidak memakai masker. Guru dan karyawan mengenakan face shield, mengikuti skrining, dan sebagainya. Kurikulum tingkat sekolah juga perlu disesuaikan dengan kondisi masa covid termasuk penyesuaian KI dan KD tiap mata pelajaran, pengurangan jam belajar, penyusunan jadwalnya serta bagaimana teknis pembelajarannya. Semua itu perlu disiapkan seraya melihat  perkembangan situasi dan kondisi  penyebaran covid-19. Harapannya covid segera mereda, kondisi aman, semua sehat, sehingga kita bisa memulai era new normal di sekolah dengan harapan hari esok pendidikan Indonesia lebih baik.(Y. Niken Sasanti)


Tinggalkan komentar

Pernak-pernik Tes Daring Kelas 7 dan 8 di SMPN 1 Yogyakarta

Mulai Senin, 8 Juni 2020 siswa kelas 7 dan 8 SMPN 1 Yogyakarta melaksanakan tes daring. Tes daring ini sebagai pengganti penilaian akhir tahun (PAT) yang biasanya dilaksanakan di sekolah. Bagi kelas 7 dan 8, ini merupakan pengalaman pertama mereka mengikuti tes daring secara massal dari rumah. Berbeda dengan kakak kelas mereka yang baru saja lulus. Kakak kelas mereka sudah terbiasa melakukan tes menggunakan komputer meskipun tetap dari sekolah sehingga istilah link, token, atau jari jemari yang menekan tombol keyboard tidak lagi menjadi hal asing. Siswa kelas 7 dan 8 bukannya tidak pernah sama sekali mengikuti tes dengan komputer. Mereka pun pernah dikenalkan ulangan dengan komputer oleh beberapa guru. Meskipun demikian, untuk tes daring dari rumah mereka belum pernah sama sekali. Alhasil, ada kejadian-kejadian lucu yang melengkapi pernak pernik tes daring dari rumah.

Hal yang cukup banyak terjadi selama berlangsungnya tes daring adalah bangun kesiangan. Sebenarnya wali kelas pada malam harinya melalui grup WA anak dan orang tua sudah mengingatkan mereka agar tidak terlambat bangun, namun ada satu dua tiga, bahkan lebih, anak-anak yang pada saat menjelang link diberikan belum juga bangun. Dengan sabar wali kelas menelpon orang tuanya meminta untuk membangunkan anaknya. Logikanya, orang tua sudah menyiapkan anaknya untuk tes daring, namun barangkali orang tuanya sibuk sehingga lupa membangunkan anaknya.

Beberapa orang tua menceritakan bahwa anaknya agak panik dalam mengerjakan soal-soal daring. Mereka berpikir bahwa waktu akan cepat habis, maka mereka mengerjakan dengan agak tegang. Hal ini dapat dimaklumi karena anak-anak hanya sendirian di rumah, sementara mereka melihat waktu bergulir terus, hal ini membuat mereka panik. Berbeda bila mereka mengerjakan bersama-sama temannya di sekolah, ditunggui bapak atau ibu guru, mereka tenang. Kepanikan ini bertambah bila mereka mengalami gangguan jaringan internet, kadang sinyal terputus sehingga mereka harus mengulang dari awal. Untungnya guru-guru sudah mengingatkan anak-anak agar mencatat jawaban-jawabannya di kertas, sehingga bila internet terputus dan mereka harus mengulang dari awal, jawabannya tinggal ditulis ulang. Ada beberapa anak yang mengalami gangguan internetnya, ternyata itu disebabkan selama mengerjakan tes daring, mereka membuka jendela lain, misalnya sambil WA-nan, sambil face book-an, atau yang lain. Hal ini menyebabkan aplikasi google form yang sudah dibuka tadi akan kembali ke awal lagi.

Berkat kesabaran dan ketelatenan guru-guru SMPN 1 Yogyakarta, anak-anak dapat diberi pengertian sehingga mereka kembali lancar mengerjakan soal-soal daring.  (Y. Niken Sasanti)


Tinggalkan komentar

Tes Daring Pengganti Penilaian Akhir Tahun (PAT) di SMPN 1 Yogyakarta

Dalam kondisi pandemic covid-19 ini pembelajaran dilakukan dari rumah, baik secara daring maupun semi daring. Sebagai tindak lanjutnya, perlu diadakan penilaian untuk mengukur pencapaian siswa dalam belajar. Selain mengukur pencapaian siswa dalam belajar, penilaian itu juga sebagai bentuk apresiasi kepada para siswa yang sudah benar-benar belajar sesuai arahan bapak ibu gurunya. Maka, mulai tanggal 8 Juni sampai dengan 11 Juni 2020, siswa kelas 7 dan 8 SMPN 1 Yogyakarta mengikuti Tes Daring. Tes daring ini sebagai pengganti penilaian akhir tahun yang biasa dilaksanakan di sekolah secara tertulis. Media yang digunakan untuk tes daring adalah google form. Para siswa mengerjakan tes menggunakan piranti online yang mereka miliki, antara lain hand phone, laptop, maupun komputer biasa. Jumlah siswa yang ikut, kelas 8 sebanyak 260 siswa, kelas 7 sebanyak 274 siswa, total 534 siswa. Sebanyak 533 siswa bisa daring dari rumah, sedangkan 1 siswa hadir di sekolah mengikuti tes di ruang khusus menggunakan piranti sekolah. Pada pukul tujuh anak-anak sudah mulai bisa presensi online kepada wali kelasnya. Bila sudah presensi, mereka otomatis akan mendapatkan link soal yang akan dikerjakan mulai pukul 08.00. setelah selesai mengerjakan soal yang semuanya pilihan ganda tersebut, anak-anak bisa submit. Nilai yang diperoleh siswa bukanlah satu-satunya nilai yang dipakai untuk menentukan kenaikan kelas siswa. Para siswa sudah memiliki sejumlah nilai yang diperolehnya sebelum covid-19 maupun sesudah covid-19. Nilai tersebut adalah nilai ulangan harian dan nilai tugas. (Y. Niken Sasanti)


1 Komentar

Pengumuman Kelulusan dan Penyerahan Kembali Siswa Kelas IX SMP Negeri 1 Yogyakarta Tahun 2020

Assalamualaikum.W.W.

Syalom,

Om Swastiastu

Namo Budaya

Bapak ibu guru, bapak ibu orang tua siswa yang saya hormati serta anak-anakku siswa kelas IX SMPN 1 Yogyakarta yang saya sayangi dan saya banggakan, baik yang di sekolah maupun di rumah. Apa kabar semuanya? Semoga semua sehat dan bahagia dimasa pandemik covid-19 ini. Syukur kepada Tuhan karena rangkaian kegiatan akhir tahun ajaran untuk anak-anak kelas 9 berupa latihan soal daring maupun tes daring sudah terlaksana. Setelah nilai yang kalian peroleh diolah bapak ibu guru digabungkan dengan rapor lima semester, nilai tugas, maupun portofolio kalian, maka semua anak mendapatkan nilai yang memenuhi syarat kelulusan. Oleh sebab itu, pada kesempatan ini, dengan bahagia dan bangga, seluruh siswa kelas 9 SMPN 1 Yogyakarta tahun ajaran 2019/2020 sebanyak 251 siswa dinyatakan lulus 100 persen. Untuk itu saya ucapkan selamat kepada anak-anak beserta orang tua. Semoga kelulusan ini menjadi berkah yang membahagiakan keluarga. Harapan kami, anak-anak semua dapat melanjutkan ke jenjang Pendidikan yang lebih tinggi dan mendapatkan sekolah-sekolah yang diinginkan.

Terima kasih kepada Bapak Ibu Guru yang sudah mendidik anak-anak dengan baik selama tiga tahun ini. Terima kasih kepada orang tua yang selalu mendukung pendidikan bagi putra-putrinya. Terima kasih kepada Dinas Pendidikan yang sudah mendampingi kami semua.

Bapak ibu serta anak-anak yang berbahagia, pengumuman kelulusan dan pelepasan siswa kali ini dilaksanakan secara online melalui live streaming di youtube maupun melalui zoom meeting dan diikuti seluruh siswa, orang tua, maupun bapak ibu guru. Yang hadir di sekolah hanya perwakilan saja dan tetap jaga jarak serta mengikuti protokol pencegahan penularan covid-19. Meskipun demikian, semua ini tidak mengurangi maknanya. Terima kasih kepada orang tua dan berbagai pihak yang mendukung terselenggaranya acara ini.

Pada kesempatan ini dengan bahagia dan bangga saya mengumumkan siswa-siswa terbaik di angkatan ini:

Siswa-siswa terbaik dalam tes daring dalam masa pandemi covid-19

Sepuluh siswa terbaik dalam nilai gabungan:

Juara tiap kelas (yang mewakili dalam acara pelepasan siswa)

9A: NAZHIFA NASYWA NISRINA,                                             Rata-rata: 86,55

9B: MAHARANI ZALFAA NIRINA,                                             Rata-rata: 85,09

9C: YOHANA VIVIANDARU PURWA ANINDYA,                  Rata-rata: 87,27

9D: GRISELDA CLARA XAVERIA ANGEL NAPITUPULU,   Rata-rata: 85,18

9E: KHANSA SHAFIRA RETYAPUTRI,                                      Rata-rata: 86,27

9F: SAFINA AUDREY,                                                                    Rata-rata: 86,27

9G: NAIDA ZORANIA PRIYANTONO,                                       Rata-rata: 88,09

      NURIYATUL AINI SA’DIYAH,                                               Rata-rata: 88,09

9H: JASMINE NUGRAHENI,                                                         Rata-rata: 87,18

Bapak ibu dan anak-anak yang berbahagia. Saya mengapresiasi para guru, para orang tua, maupun para siswa yang sudah bekerja sama dengan baik melaksanakan program Belajar dari Rumah (BDR) saat pandemi covid-19 ini. Terima kasih juga kepada Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta yang sudah memberikan arahan yang jelas terkait BDR. Terima kasih semuanya. Kita memahami bahwa tujuan BDR adalah untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19. Semua menjadi serba terbatas. Maka kita harus menyikapinya dengan bertindak arif sesuai anjuran Pemerintah, dan sedapat mungkin tetap produktif berkarya.

Angkatan ini adalah generasi emas yang luar biasa. Anak-anak dapat melalui pembelajaran jarak jauh dan lulus semua di tengah pandemik covid-19. Angkatan ini adalah generasi yang akrab dengan teknologi, dapat belajar mandiri, tegar, dan tangguh. Salut buat anak-anak semua. Jarak dan waktu memang memisahkan kita, namun teknologi mendekatkan kita. Dan yang pasti hati kita tetap dekat satu sama lain dalam satu keluarga besar SMP Negeri 1Yogyakarta, Satria Siaga yang kita banggakan.

Selama BDR, anak-anak tidak dapat bertemu dengan teman atau bapak ibu guru. Maka bagi anak-anak dalam masa pandemik ini yang penting bukan lagi belajar apa, belajar dengan siapa, belajar di mana, dan berapa lama belajar, melainkan yang penting adalah tetap belajar. Masa-masa di SMP hanya sekilas dan sebentar lagi akan menjadi kenangan, namun belajar adalah sepanjang hayat. Raihlah mimpi, raihlah cita-cita, dan tetaplah memupuk harapan. Jangan lupa sekarang kalian tidak lagi menjadi siswa SMP Negeri 1 Yogyakarta, melainkan alumni SMP 1 dan akan menjadi bagian dari Paguyuban Alumni SMP Negeri 1 Yogyakarta (PASTU). Oleh sebab itu, jagalah nama baik almamater kalian.

Kini saatnya kami menyerahkan anak-anak kembali kepada orang tua. Tak lupa kami mohon maaf kepada orang tua dan anak-anak bila pelayanan kami selama anak-anak mengikuti pendidikan di SMP 1 ada kekurangannya. Anak-anakku, sekali lagi selamat ya. Doa dan kasih kami menyertai kalian.

Wasalamualaikum W.W.

Syalom,

Om Swastiastu

Namo Budaya

Yogyakarta, 5 Juni 2020

Kepala SMPN 1 Yogyakarta

Dra. Y. Niken Sasanti, M.Pd.


1 Komentar

Produktif di Masa Covid

Masa pandemik covid-19 yang sudah berlangsung beberapa bulan ini menyebabkan aktivitas di dunia pendidikan berubah total. Demikian juga di sekolah saya yaitu SMP Negeri 1 Yogyakarta. Sekolah kami yang semula penuh aktivitas siswa maupun karyawan dan guru sejak pagi sampai sore, kini setelah BDR nyaris sepi karena ratusan siswa kami melaksanakan belajar dari rumah. Guru-guru yang semula sibuk mengajar dan berinteraksi dengan anak-anak secara langsung, kini melakukan pembelajaran jarak jauh dengan berbagai media online. Karyawan yang semula sibuk melayani tamu-tamu yang datang ke sekolah, sekarang hanya sibuk mengerjakan administrasi tanpa tatap muka. Hanya karyawan bagian kebersihan dan keamanan yang tidak pernah surut kerjanya. Karyawan bagian kebersihan tetap membersihkan sekolah, baik ruang kelas, lantai selasar, maupun halaman sehingga sekolah tetap bersih dan sehat lingkungannya. Bahkan karena lantai dipel setiap hari dan tidak ada yang mengotori dengan bekas sepatu, maka lantai menjadi mengkilap, licin, seperti bisa untuk becermin. Bagian keamanan juga selalu mengamankan sekolah baik siang maupun malam.

Tentu kegiatan BDR tidak sama dengan pembelajaran tatap muka langsung di sekolah. Ada banyak keterbatasannya, mulai dari kesiapan siswa dan orang tuanya, sarananya, medianya, bahkan kemampuan gurunya. Karena berbagai keterbatasan itu, maka pembelajaran jarak jauh yang dilaksanakan di SMP Negeri 1 Yogyakarta dikelola secara khusus, di antaranya pembuatan jadwal yang khusus untuk BDR, materi dan tugas BDR dibuat sederhana sehingga tidak memberatkan siswa, ada jurnal yang dibuat tiap guru, ada pemantauan yang dilakukan Kepala Sekolah, dan tentu ada kerja sama dengan orang tua maupun Dinas Pendidikan.

Teknis bekerja para guru dan karyawan selama pandemik covid-19 juga berbeda dari hari-hari biasanya. Baik guru maupun karyawan tidak masuk setiap hari melainkan masuk secara bergantian dengan sistem piket. Kadang WFO (Work from Office) kadang WFH (Work from Home). Hanya Kepala Sekolah saja yang harus hadir setiap hari di sekolah. Dengan sistem kerja tersebut sekilas tampak banyak waktu luang, padahal kalau kita sungguh-sungguh mau memanfaatkan waktu dengan baik, kita justru akan lebih produktif.

Dari pantauan kerja guru di SMP Negeri 1 Yogyakarta, dapat dilihat bahwa warga SMP Negeri 1 Yogyakarta tetap produktif selama pandemik covid-19. Produktivitas itu tampak pada hal-hal berikut:

  1. aktif melaksanakan pembelajaran jarak jauh dengan berbagai media
  2. aktif memberikan feed back dan mengoreksi jawaban atau tugas-tugas yang dikirimkan siswa
  3. guru aktif belajar menggunakan berbagai media pembelajaran online
  4. membuat media pembelajaran sendiri yang diunggah di youtube
  5. menulis best practice selama covid dan mengikutsertakan dalam lomba
  6. membuat video-video untuk menyapa siswa
  7. mengikuti berbagai webinar atau pelatihan online

Beberapa karya video pembelajaran SMP Negeri 1 Yogyakarta dapat dilihat pada link berikut:

  1. https://www.youtube.com/watch?v=uOj42syZS6A (IPA)
  2. https://www.youtube.com/watch?v=N8zNqmmDzio&t=85s (IPA)
  3. https://www.youtube.com/watch?v=8FVfvV5-T5g&t=84s (IPA)
  4. https://www.youtube.com/watch?v=H0rEfCdUqqE&t=4s (IPA)
  5. https://www.youtube.com/watch?v=TYrU3pD8WoY&t=2s (Matematika)
  6. https://www.youtube.com/watch?v=BAj4aVnX0Uo&t=27s (Matematika)
  7. https://www.youtube.com/watch?v=2cU_GnBSl3U (Matematika)
  8. https://www.youtube.com/watch?v=nV7RJ3Yahng&t=35s (Matematika)
  9. https://www.youtube.com/watch?v=fSf98Ipiowk&t=16s (Matematika)
  10. https://www.youtube.com/watch?v=uembSGsAda8 (Matematika)
  11. https://www.youtube.com/watch?v=LB__I4cUFio (Matematika)
  12. https://youtu.be/VoYzVuJ1e78 (TIK)
  13. https://youtu.be/DmeadyQJKo8 (TIK)
  14. https://drive.google.com/drive/folders/1H_-AwnN9XfBjguBDoy6VXEmbqLD2mdHz?usp=sharing (Bahasa Indonesia)
  15. https://youtu.be/NMstrxiwOfs (Bahasa Inggris)
  16. https://youtu.be/YI-t_2f8SRg (IPA)
  17. https://youtu.be/DauKbNhhOpA (IPA)

Selain video pembelajaran juga ada video-video lain karya warga SMP Negeri 1 Yogyakarta dengan link berikut:

  1. https://www.youtube.com/watch?v=VxSZ_gxO7K0&t=7s (Kepala Sekolah menyapa)
  2. https://www.youtube.com/watch?v=5GUjtblIVns&t=10s (info PPDB)
  3. https://www.youtube.com/watch?v=vhQvYpo4qpc&t=56s (info PPDB)
  4. https://www.youtube.com/watch?v=VY3D_4Qd0zI&t=709s (info PPDB)
  5. https://www.youtube.com/watch?v=FsPnPi03sFg (Ucapan Selamat Idul Fitri)
  6. https://www.youtube.com/watch?v=aeTWnCZv1wU (Selamat Hari Pendidikan Nasional)
  7. https://www.youtube.com/watch?v=TDrFfPxH3hI (video siswa menyanyi)
  8. https://www.youtube.com/watch?v=lklSNVaAwYc (edukasi covid)
  9. https://www.youtube.com/watch?v=He5N6d2ZtNQ&t=112s (edukasi covid)
  10. https://www.youtube.com/watch?v=mf9llznqt1U (edukasi covid)

Selain karya-karya di atas, tentunya masih banyak karya yang lain. Para siswa juga tak kalah produktifnya selama covid ini. Mereka belajar, menjawab soal, mengerjakan tugas dengan bimbingan bapak dan ibu guru. Produktivitas warga SMP Negeri 1 Yogyakarta ini bisa terjadi dalam suasana yang menyenangkan, saling mendukung dan menyemangati, dan tentunya dengan kolaborasi yang baik antara kepala sekolah, guru, karyawan, siswa, orang tua, dengan dukungan Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta.

Bukan saatnya kita hanya menyesali covid-19 yang tak kunjung reda, bukan saatnya kita mengeluh dan menyalahkan situasi. Saatnya kita gunakan waktu yang masih kita miliki untuk berkarya demi kemajuan pendidikan di kota kita, di provinsi kita, di tanah air kita. Mari berkarya! (Y. Niken Sasanti, Kepala SMPN 1 Yogyakarta)


Tinggalkan komentar

Konsekuen dan Konsisten

Selama pandemi covid-19 banyak kegiatan yang kulakukan di rumah. Di antaranya adalah mengisi Teka Teki Silang. Konon TTS bisa menghambat kepikunan dan juga untuk rekreasi otak karena dengan berpikir, otak kita seperti berolah raga sehingga menjadi segar dan sehat. Di dua lembar TTS yang kuisi tadi aku menemukan dua pertanyaan. Berwatak teguh sembilan huruf, jawabannya adalah konsekuen. Taat azas sembilan huruf, jawabannya konsisten. Aku hampir saja salah mengisinya karena dua kata itu mirip, diawali empat huruf yang sama yaitu huruf k,o,n,dan s. Setelah dua kata yang berbeda itu kusandingkan, aku jadi tertarik dengan dua-duanya. Dua-duanya mengarah ke suatu sikap yang menunjukkan tanggung jawab. Tanggung jawab seseorang sebagai pribadi, sebagai anggota komunitas, maupun sebagai pemimpin. Seseorang harus konsekuen, artinya berani bertanggung jawab terhadap segala sikap, keputusan, dan tindakannya. Demikian pula, seseorang harus konsisten dengan apa yang dilakukannya atau yang diperjuangkannya agar berhasil. Konsisten berarti teguh, tekun, setia, berani menolak kebosanan untuk terus-menerus melakukan hal yang sama. Dua sikap itu, yaitu konsekuen dan konsisten perlu dimiliki agar seseorang sukses dalam hidupnya. (Y. Niken Sasanti)